Oleh: Retno Wulandari, Ferra Naidir, Andrianingsih, Moch Firmansyah, Budi Nur Rochmadi, Sularso Budilaksono
JAWABARAT, RADARBANTEN.CO.ID – Di tengah banyaknya program pengabdian kepada masyarakat yang kerap berakhir sebagai formalitas, kegiatan PKM Kolaborasi VII di Desa Kasomalang Kulon, Subang, justru menunjukkan arah berbeda. Kegiatan yang berlangsung pada 17–18 April 2026 ini melibatkan 64 perguruan tinggi dan 173 dosen dari berbagai disiplin ilmu, sebuah skala kolaborasi yang jarang terjadi, sekaligus membuka peluang hadirnya solusi nyata bagi masyarakat.
Namun, besarnya jumlah peserta bukan jaminan keberhasilan. Banyak program serupa berhenti pada seremoni tanpa dampak jangka panjang. Karena itu, PKM Kolaborasi VII menjadi penting sebagai contoh bahwa kolaborasi lintas perguruan tinggi bisa diarahkan pada kebutuhan riil masyarakat, bukan sekadar memenuhi kewajiban tridharma.
Desa Kasomalang Kulon dipilih bukan tanpa alasan. Wilayah ini memiliki potensi ekonomi lokal yang kuat, mulai dari pertanian nanas, budidaya ikan nila, hingga produk olahan kopi dan gula aren.
Potensi tersebut selama ini sudah ada, tetapi belum sepenuhnya dioptimalkan menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan. Kepala Desa Kasomalang Kulon, H. Amirudin, S.Pd.I, mengapresiasi kegiatan ini. Baginya, kehadiran para akademisi bukan sekadar tamu, melainkan mitra yang membawa solusi. “Kami sangat berterima kasih. Ini bukan hanya kegiatan seremonial, tetapi benar-benar memberikan manfaat bagi warga kami,” ujarnya.
Program ini melibatkan tim lintas perguruan tinggi. Dari Universitas Bhayangkara Jakarta Raya hadir Dr. Retno Wulandari, S.Si., M.Sc dan Ferra Naidir, S.T., M.Eng., Ph.D. Kolaborasi juga melibatkan akademisi dari Universitas Nasional, ITL Trisakti, serta Universitas Persada Indonesia Y.A.I.
Sinergi ini menjadi kekuatan utama dalam merancang program yang tidak hanya teoritis, tetapi juga aplikatif. Salah satu fokus utama program adalah pemberdayaan UMKM berbasis kopi. Pilihan ini cukup relevan mengingat sektor kopi di Indonesia terus mengalami pertumbuhan signifikan dalam satu dekade terakhir.
Namun, pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya dirasakan oleh pelaku usaha di tingkat desa. Masalah yang dihadapi pun relatif klasik: keterbatasan inovasi produk dan lemahnya strategi pemasaran. Banyak pelaku UMKM memiliki produk yang baik, tetapi kesulitan menjangkau pasar yang lebih luas.
Melalui kegiatan ini, pendekatan yang dilakukan tidak hanya berhenti pada produksi, tetapi juga menyentuh aspek hilirisasi dan pemasaran. Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah kopi gula aren sebagai produk khas lokal dengan nilai jual tinggi. Produk ini tidak hanya menawarkan cita rasa yang unik, tetapi juga membawa identitas lokal yang kuat.
Strategi pemasaran yang diperkenalkan mengadopsi pendekatan hybrid, yakni menggabungkan metode offline dan online. Secara offline, pelaku UMKM didorong aktif mengikuti bazar, event desa wisata, serta menyediakan pengalaman langsung bagi konsumen. Interaksi ini terbukti meningkatkan kepercayaan dan memperkuat hubungan dengan pelanggan. Di sisi lain, pemanfaatan platform digital seperti Instagram, TikTok, marketplace, dan Google Maps menjadi langkah penting untuk memperluas jangkauan pasar. Kombinasi keduanya memungkinkan peningkatan penjualan sekaligus mendorong repeat order.

Namun, yang menarik dari program ini bukan hanya pada produk utama, melainkan pada bagaimana limbah turut dimanfaatkan. Ampas kopi yang sebelumnya dianggap tidak bernilai diolah menjadi briket ramah lingkungan.
Proses pembuatannya relatif sederhana, mulai dari pengeringan, pencampuran dengan perekat alami seperti tepung tapioka, pencetakan, hingga pengeringan akhir. Hasilnya adalah bahan bakar alternatif yang dapat dimanfaatkan oleh rumah tangga maupun pelaku usaha kuliner. Inovasi ini menunjukkan bahwa pemberdayaan ekonomi tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar.
Justru, pendekatan sederhana yang kontekstual sering kali lebih mudah diterapkan dan berkelanjutan. Selain mengurangi limbah, program ini juga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.
Kegiatan PKM Kolaborasi VII juga menegaskan bahwa kekuatan utama pengabdian kepada masyarakat terletak pada kolaborasi. Dengan melibatkan akademisi, pemerintah desa, pelaku UMKM, hingga komunitas lokal, program yang dijalankan menjadi lebih komprehensif dan berpotensi berkelanjutan.
Di sisi lain, kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran langsung bagi dosen dan mahasiswa. Mereka tidak hanya membawa ilmu, tetapi juga belajar memahami realitas sosial yang kompleks di tingkat akar rumput. Ke depan, model kolaborasi seperti ini perlu terus dikembangkan dan direplikasi di berbagai daerah lain.
Desa-desa dengan potensi lokal yang kuat membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan agar mampu bersaing di tengah arus globalisasi. Kasomalang Kulon memberikan pelajaran penting: ketika perguruan tinggi bersedia turun langsung dan bekerja bersama masyarakat, maka ilmu pengetahuan dapat benar-benar memberikan dampak nyata.
Tantangannya kini bukan lagi memulai, tetapi menjaga agar kolaborasi seperti ini tidak berhenti sebagai agenda tahunan. Lebih dari itu, ia perlu menjadi gerakan berkelanjutan yang mampu memperkuat kemandirian desa.











