Dijuluki sebagai Masjid Seribu Pintu, Masjid Agung Nurul Yaqin di Kampung Bayur, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang, memiliki banyak cerita. Mulai dari sejarah penyebaran Islam hingga labirin gelap seribu pintu yang menjadi tempat perenungan pengunjung.
Setelah mencari informasi melalui gawai tentang masjid bersejarah di Tangerang, nama Masjid Pintu Seribu bermunculan paling banyak. Setelah cukup mencari informasi, Radar Banten langsung menuju Kampung Bayur untuk melihat langsung kondisi Masjid Seribu Pintu, Masjid Agung Nurul Yaqin, Rabu (8/5).
Keunikan bangunan masjid yang terletak di tengah perkampungan Kampung Bayur itu terlihat dari kejauhan. Susunan bata merah yang mulai menghitam karena lumut tersusun rapi membentuk sebuah benteng. Di setiap dinding ada jendela tanpa kaca.
Di sisi lainnya, lafaz Allah Swt dan Muhammad Saw menghiasi dinding dan pintu masuk. Sedangkan pintunya terbuat dari teralis besi dengan ornamen angka 999 yang menjadi ciri khas masjid.
Di depan masjid, ada salah satu penjaga yang sedang duduk dengan memegangi tongkat untuk membantu ia berjalan.
Setelah dijelaskan maksud kedatangan Radar Banten ke masjid itu, pria berambut gondrong berpeci hitam itu mengarahkan Radar Banten ke salah satu pengelola masjid. Achmad Khairuzzaman Mufti Ali namanya. Pria berpeci hitam dan mengenakan blazer biru itu mengatakan, Masjid Agung Nurul Yaqin menjadi awal penyebaran Islam di Tangerang yang dilakukan oleh Syekh Ami Alfaqir Mahdi Hasan Alqudrotillah Almuqoddam.
Alfaqir, lanjut Achmad, masih merupakan keturunan keenam dari Syekh Syarif Hidayatullah Cirebon. “Masjid ini didirikan Beliau sekitar 1976. Beliau (Alfaqir-red) merupakan turunan keenam dari Syekh Syarif Hidayatullah. Yakni, Syekh Ami Alfaqir Mahdi Hasan Alqudrotillah Almuqoddam bin Hasan bin H Andreas bin H Bahrul Ulum bin H Faishol bin Pangeran Jaya Lelana bin Syekh Syarif Hidayatullah Cirebon,” katanya mulai bercerita.
Achmad menegaskan bahwa Syekh Alfaqir adalah orang Tangerang. Hal tersebut diketahui karena orangtuanya tinggal di Tangerang, tepatnya di daerah Rawabokor. Sedangkan tanggal kelahirannya tidak diketahui.
“Tetapi, memang banyak yang bilang bahwa Beliau keturunan Arab. Bisa saja, orang zaman dulu kan sakti mandraguna, bisa ke sana sini kapan saja di mana saja,” tegasnya.
Sambil dengan kaki bersila, Achmad melanjutkan, Alfaqir berdakwah dengan cara mendatangi langsung warga. “Setiap tempatnya berdakwah dibangun musala-musala. Di Tangerang ini banyak, yang terbesar di sini dan ada di Sangiang, yakni Masjid Keraton Sangiang. Enggak cuma di Tangerang, tapi juga di daerah lain, Karawang, Bogor, Sukabumi, dan lainnya. Total sarana ibadah yang dibangun 320 lebih di Indonesia. Dan, khas bangunannya ada ornamen 999,” terang Achmad.
Ornamen 999 banyak menjadi penghias di masjid seribu pintu itu. Tidak hanya di tembok-tembok, tiang, juga di gerbang pagar dan jendela. Angka 999 sendiri untuk melambangkan 99 sifat-sifat Allah atau asmaul husna dan sembilan walisongo. “Kalau ditelusuri maknanya sangat dalam, harus puasa dulu, zikir dulu dan lainnya. Tapi, sederhananya ya itu maknanya,” tuturnya.
Asmaul husna juga memenuhi setiap dinding masjid. Lengkap dengan paduan warna hijau, hitam, kuning, dan putih. Selain itu, bangunan masjid unik yang dinilai banyak orang seperti arsitektur Italia, barok. Lengkap dengan puluhan bahkan ratusan tiang menjadi penopang masjid.
Di dalam masjid, juga terdapat makam Syekh Alfaqir. Yang paling unik dan khas dari masjid tersebut adalah labirin yang memiliki pintu 999. Konon, hal itu menjadi muasal kenapa masjid dinamakan Masjid Seribu Pintu. “Tetapi, mulai terkenal disebut Masjid Seribu Pintu itu gara-gara sebutan di salah satu koran yang pernah meliput,” terangnya.
Labirin itu sengaja dibangun sebagai tempat perenungan. Baik pendiri, keluarga, santri, dan jamaahnya. Setiap hari libur Sabtu-Minggu, ramai dikunjungi para peziarah. Mulai dari Banten, luar Jawa, Kalimantan, Sumatera, bahkan hingga luar negeri, Malaysia, Singapura, dan Jerman.
“Baru minggu kemarin ada turis dari Jerman, sebelumnya Malaysia dan Singapura. Mereka datang karena tertarik bangunannya yang unik. Tahun ini banyak dikunjungi dari luar negeri,” beber Achmad.
Para peziarah biasanya menangis saat masuk ke dalam labirin. Berlantai tiga, labirin tersebut gelap tanpa lampu dan lubang udara. Tetapi, hal itu justru menjadi alasan banyak peziarah yang menangis. “Karena suasana sunyi, gelap, ditambah dengan alunan salawat saat di dalam labirin, mungkin mereka (para peziarah-red) seperti diajak mengingat dosa-dosa yang pernah dilakukan. Makanya, banyak yang menangis,” tutur Achmad
“Setiap lorong di masjid ini dilengkapi dengan penunjuk jalan. Dan, salah satu ruang dari sekian banyak lorong itu menuju ruang bawah tanah yang disebut ruang tasbih. Ruang ini biasa digunakan oleh Alfaqir dan jamaah lainnya untuk ber-istikamah,” tandasnya.
Selain memiliki seribu pintu, di dalam ruang bawah tanah masjid itu ada tasbih raksasa yang terbuat dari kayu, terpajang di salah satu sudut ruang berteralis besi. Ukuran masing-masing butir tasbihnya berdiameter sepuluh sentimeter atau sekitar kepalan orang dewasa dan di 99 butir tasbih tersebut tertulis asmaul husna.
Banyaknya pengunjung menjadikan masjid seribu pintu sebagai wisata religi yang diminati masyarakat. Nilai sejarahnya menjadi kisah penting penyebaran Islam. Sebagai pengelola, Achmad mengajak masyarakat untuk ikut serta melestarikan wisata religi yang ada.
“Mari kita jaga sama-sama bergotong-royong menjaga dan melestarikan wisata religi yang dimiliki,” tutupnya. (WIVY HIKMATULLAH)










