Yeyen (23), bukan nama sebenarnya, tak pernah menyangka sang kekasih, sebut saja Jojon (24), yang selama ini baik, perhatian, dan sayang, tega melakukan hal yang tak semestinya dilakukan kepadanya. Bagai menelan buah simalakama, Yeyen tak berdaya. Entah atas dasar cinta atau nafsu semata, ia harus kehilangan keperawanannya. Astaga.
Semua berawal ketika Yeyen mengikuti kegiatan di kampus tempat sang kekasih menimba ilmu. Dari sekian banyak siswa, entah kenapa, Jojon tiba-tiba memanggil Yeyen, mereka pun berkenalan. Berawal dari chating-an biasa, sampai akhirnya jadian, semua berjalan lancar layaknya pendekatan pasangan remaja pada umumnya.
Meski cerita ini terjadi belasan tahun lalu, tetapi kisahnya patut dijadikan bahan perenungan. Saat itu Yeyen masih kelas dua SMA, sedangkan Jojon mahasiswa semester enam. Di sela-sela waktu kuliah dan sekolah, mereka kerap mengisi kekosongan dengan jalan-jalan. Biasalah, motor-motoran enggak jelas ala-ala anak muda zaman now. Sama-sama tak mendapat perhatian dari orangtua, keduanya bebas menikmati masa muda.
Setahun berpacaran, hubungan mereka semakin lengket. Ibaratnya, tak ada hari tanpa bertemu dan bermesra-ria. Bagaikan amplop dan perangko, di mana ada Yeyen, di situ ada Jojon. Pasangan muda itu selalu bersama. Memangnya enggak bosen Teh ketemu terus?
“Atuh namanya orang lagi kasmaran mah enggak ada kata bosen, Kang. Yang ada malah waktu itu kita ingin tinggal serumah, hehe,” terangnya.
Seperti diceritakan Yeyen, di matanya, Jojon adalah sosok lelaki baik dan penyayang. Namun bagi orang-orang, banyak yang bilang kalau Jojon orang yang kasar dan egois. Yeyen sih mengaku tak peduli asal tetap berada di batas kewajaran, ia menerima apa adanya. Meski tubuhnya kurus, tetapi Jojon diberkahi wajah tampan dan bersih.
Begitu pun halnya dengan Yeyen, terlahir di Kota Kembang membuatnya memiliki paras nan ayu dan menawan. Namun setelah beranjak remaja, ia pindah ke Serang dan menetap di salah satu kampung di daerah perbatasan antara Kabupaten dan Kota Serang. Meski begitu, sampai usia beranjak dewasa, kecantikannya alami dan sederhana.
Memang zaman sudah edan, terbawa pergaulan bebas, Yeyen pasrah diajak Jojon pergi ke kosan yang lokasinya jauh dari permukiman. Entah apa yang dilakukan, sebulan kemudian, Yeyen mengaku mual dan sering pusing. Insiden pun terjadi, Yeyen dinyatakan positif hamil oleh dokter klinik. Semua kaget, keluarga, saudara, dan sahabat seolah disambar petir siang bolong.
Apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur, kabar Yeyen hamil di luar nikah sontak membuat orangtua bingung. Antara marah, sedih bercampur malu, mereka mengamuk sejadi-jadinya. Membuat saudara dan tetangga mengerubungi seisi rumah. Yang lebih menyedihkan lagi, sejak saat itu Yeyen tak pernah lagi mendengar kabar Jojon. Ia menghilang begitu saja bak ditelan bumi.
Hal yang sama terjadi dengan keluarga Jojon, mereka tak bisa terima anak lelaki kesayangan harus menutup masa lajang dengan cara yang tak terpuji. Terlebih mereka keluarga terpandang, banyak kolega dan orang kepercayaan. Merasa malu akan keadaan, jadilah sikap keluarga Jojon kepada keluarga Yeyen tak harmonis, malah terkesan benci.
Beruntung, selama proses kehamilan, Jojon diperkenankan menengok dan memberi uang tambahan untuk biaya kelahiran si jabang bayi. Namun, pihak keluarga masih saja tak bisa terima kalau anak lelaki mereka harus menikah dengan Yeyen. Keluarga Yeyen pun tak terima, bagaimana pun juga, semua gara-gara ulah Jojon. Keributan hampir terjadi, untungnya masih bisa dilerai beberapa saudara yang bersikap dengan kepala dingin.
Dua bulan pasca kelahiran, untuk menghindari fitnah dan menutupi aib, keluarga sang wanita menggelar pesta pernikahan sederhana. Tak ada sebar undangan, tak ada tenda dan panggung, gaun pengantin hanya menggunakan batik dan pakaian sederhana. Yeyen dan Jojon bersanding di hadapan penghulu, meresmikan hubungan menjadi suami dan istri. Anehnya, Jojon tidak didampingi keluarga besarnya. Aih, kenapa tuh Teh?
“Katanya sih mereka masih belum bisa terima dengan pernikahan saya dan Jojon. Tapi, ya saya sih waktu itu santai saja, yang penting dia mau tanggung jawab,” ungkapnya.
Menjalani hari-hari baru sebagai istri sekaligus ibu, Yeyen tak bisa menolak keputusan suami yang ingin tinggal di rumah bersama keluarga. Apalah daya, ia pun menurut dan membawa serta sang buah hati. Baginya, tidak ada yang lebih menyakitkan selain dibenci mertua. Bagaimana tidak, kalau mertua sudah marah maka suaminya pasti ikut-ikutan memusuhi.
Dibenci setengah mati, Yeyen tak pernah berhasil meraih hati sang ibu mertua. Bukannya membela, sang suami justru ikut-ikutan ibunya. Tak ada yang bisa dilakukan selain diam menuruti kemauan sang ibu. Padahal, saat masa pacaran dulu, Jojon mengumbar janji dengan seribu kalimat mesra, apalah daya, ternyata hanya bualan semata. Astaga.
“Dia itu labil, jahat, sumpah saya enggak kuat!” kata Yeyen kepada Radar Banten.
Hebatnya, meski sering disakiti, Yeyen mencoba bersikap biasa dan menerima apa adanya. Berharap mendapat simpati dari suami dan mertua, ibarat menimba air di lautan, sikap mereka tak pernah berubah, malah semakin menjadi-jadi. Sudah tinggal satu rumah, Yeyen tak pernah dianggap. Hal itu diperparah dengan kelakuan sang suami yang tak pernah mau tidur seranjang. Aih-aih, ngenes amat sih Teh.
“Ini saya cerita begini juga karena sudah enggak tahan, Kang. Saya tahu, sebenarnya mah dia bukan karena enggak nafsu, tapi karena takut sama ibunya. Soalnya kalau sampai ketahuan masih dekat-dekat sama saya, pasti dimarahi!” curhat Yeyen sambil sesenggukan saat dihubungi via telepon. Ya ampun, sabar ya, Teh.
Suatu hari, diam-diam Yeyen kabur ke rumah orangtua. Meski harus berjuang kepanasan dan kelelahan naik turun angkot, ia tak peduli. Membawa serta sang anak, yang ada di benaknya saat itu bertemu dengan ayah dan ibu untuk mengadu menjadi keinginan yang harus dilaksanakan.
Sesampainya di jalan perkampungan, ia berjalan setengah berlari melewati gang sambil berurai air mata. Tak banyak yang berubah dari suasana rumahnya, beberapa tetangga masih ada yang duduk di warung, pintu rumah pun terbuka lebar. Sambil berteriak memanggil sang ibu, Yeyen membuat orang-orang kaget.
Dipeluknya wanita yang mulai renta itu. Yeyen menceritakan semua apa yang ia alami di rumah sang mertua. Saat itu juga, ia meminta perceraian. Mungkin karena tak tega, ibu dan bapaknya menuruti kemauan sang anak. Yeyen dan Jojon resmi berpisah untuk selamanya. (daru-zetizen/zee/ira/RBG)









