SERANG – Berdasarkan data dari Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalop) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banten, dari 155 kecamatan se-Banten terdapat 48 kecamatan di lima kabupaten kota yang masuk peta rawan kekeringan. Jumlah paling banyak terdapat di Kabupaten Pandeglang, yakni 14 kecamatan. Kekeringan ini juga menyebabkan potensi bencana lainnya, yakni kebakaran lahan.
Kepala Pusdalop BPBD Banten Giman mengatakan, untuk potensi bencana kebakaran hutan, Kabupaten Lebak mendapat perhatian khusus dari BPBD Banten. “Karena daerah itu memiliki kawasan hutan dan lahan pertanian yang lebih luas dibanding kabupaten kota lainnya di Banten,” ujar Giman, Jumat (12/7).
Giman menguraikan, 48 kecamatan yang rawan kekeringan itu, yakni 12 kecamatan di Kabupaten Serang, antara lain Kecamatan Pontang, Tirtayasa, Tanara, Carenang, Bandung, Kragilan, Binuang, Tunjungteja, Cikeusal, Pamarayan, Cikande, dan Kibin. Kabupaten Tangerang sebanyak tujuh kecamatan, yaitu Kecamatan Kresek, Kronjo, Mauk, Sepatan, Teluknaga, Pakuhaji, dan Jayanti.
Berikutnya, Kabupaten Pandeglang sebanyak 14 kecamatan, yaitu Kecamatan Panimbang, Angsana, Munjul, Pagelaran, Patia, Sukaresmi, Mekarjaya, Sindangresmi, Cikedal, Carita, Cikeusik, Labuan, Cibaliung, dan Sumur. Lalu di Kabupaten Lebak sebanyak 12 kecamatan, yaitu Kecamatan Maja, Leuwidamar, Muncang, Sobang, Gunungkencana, Banjarsari, Cihara, Bayah, Cibeber, Pangarangan, Malingping, dan Cilograng.
“Kota Serang sebanyak tiga Kecamatan, yaitu Kecamatan Walantaka, Kasemen, dan Taktakan,” terangnya.
Kata dia, selain soal potensi bencana kebakaran, BPBD juga terus melakukan koordinasi dengan sejumlah instansi guna penanggulangan masalah kekeringan. “BPBD Banten sebagai commander sudah koordinasi ke Dinas Pertanian, Dinas Ketahanan Pangan, dan Dinas Sosial. Kemarin saya konsultasi kesiapan kemarau panjang ini selain (pasokan-red) air bersih,” tuturnya.
Ia mengatakan, BPBD Banten mengimbau agar masyarakat sebisa mungkin tak membuka lahan dengan cara membakar dan membuang puntung rokok sembarangan. Sebab, hal itu dikhawatirkan memicu terjadinya kebakaran lahan yang rentan terjadi saat musim kemarau seperti saat ini.
Giman mengatakan, secara umum potensi terjadinya kebakaran hutan di Banten cukup minim. Meski demikian, bukan berarti tidak ada kemungkinan sama sekali. “Kalau untuk wilayah Banten ada kemungkinan, tapi tidak seperti Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi karena hutannya banyak di sana itu ada kemungkinan rawan kebakaran hutan, untuk Banten kecil,” ujarnya.
Ia menuturkan, selain kebakaran hutan hal lain yang perlu diperhatikan adalah terjadinya kebakaran rumah atau lahan yang disebabkan kelalaian manusia. Membuang puntung rokok yang masih menyala atau membakar lahan sembarangan pada musim kemarau berpotensi menimbulkan kebakaran yang meluas.
“Paling kebakaran di Banten rata-rata karena korsleting untuk rumah tangga, bukan karena timbul kekeringan kemudian kebakaran,” ujar Giman.
Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Klas 1 Serang Trian Asmarahadi mengatakan, berdasarkan hasil monitoring hari tanpa hujan (HTH) hingga 30 Juni, terdapat potensi kekeringan meteorologis. “Teridentifikasi adanya potensi kekeringan. Untuk kategori siaga adalah telah mengalami HTH lebih dari 31 hari,” terangnya.
Kata dia, prakiraan hujan rentang di bawah 20 milimeter dalam sepuluh hari dengan peluang di atas 70 persen untuk wilayah Jakarta Utara dan Banten di Lebak, Pandeglang, dan Tangerang. (Rostinah/RBG)

