SERANG – Perasaan tidak nyaman dan tenang juga dirasakan keluarga warga Banten yang menjadi korban kerusuhan Wamena, Papua. Kondisi keamanan di Papua yang tidak menentu membuat keluarga di Serang, Banten, ikut prihatin dan terus cemas.
Amisah, orangtua dari Resti Ardini yang saat ini masih berada di Sentani, Jayapura, mengaku terus kepikiran anak perempuannya. Meski sang anak sedang bersama suaminya, ia tetap saja mencemaskan kondisi anaknya.
“Namanya orangtua pasti kepikiran terus, karena anak cerita banyak yang meninggal, rumah-rumah dibakaran. Jadi, tiap malam enggak bisa tidur saya,” akunya saat ditemui Radar Banten di kediamannya di Lingkungan Dalung, Kelurahan Dalung, Cipocokjaya, Kota Serang, Rabu (2/10).
Apalagi anaknya sedang mengandung lima bulan. Selain itu, ada cucunya atau anak pertama Resi yang baru berusia empat tahun. “Saya berdoa semoga aman dan bisa ada bantuan biar anak dan cucu saya bisa pulang,” harapnya.
Resi Ardini adalah istri dari Nurhasanudin. Sehari-hari Nurhasanudin bekerja sebagai pedagang bubur ayam. Namun, sejak pecah kerusuhan, ia tidak bisa lagi menjalankan usahanya. “Gimana mau jualan, baru buka sudah diusir-usir dirusakin gerobaknya,” ujar Amisah.
Perasaan yang sama dirasakan suami Amisah, Satiman. Ia merasa khawatir karena mendengar langsung cerita menantunya yang melihat langsung kesadisan di Papua. Bukan saja rumah dan bangunan, massa menyasar para pendatang. “Enggak cuma orang dewasa, anak-anak pun tetap jadi sasaran dan dibakar,” cetusnya.
Pria kelahiran 61 tahun silam itu mengaku, sering kali tak enak makan dan susah tidur setiap mendengar cerita-cerita tersebut. Bahkan, saat ada tayangan berita yang memberitakan soal Papua, ia memilih untuk mengganti channel televisinya.
“Mau makan saja kayak enggak bisa nelan. Di sini kepikiran terus,” keluhnya.
Ia bersama istrinya berharap segera ada bantuan dari Provinsi Banten untuk segera menjemput keluarganya. “Anak saya suka bicara dengan saya, kepenginnya pulang. Dan, saya hanya bisa bilang sabar saja, mudah-mudahan ada bantuan,” akunya. (Ken Supriyono)










