Abstrak
Pendidikan adalah hidup, sehingga pendidikan tidak akan terpisah dari kehidupan manusia. Banyak teori dan pendekatan yang digunakan untuk menterjemahkan tentang “hakekat pendidikan”. Secara garis besar H.T.R. Tilaar membagi hakekat pendidikan menjadi dua pendekatan yaitu pendekatan reduksionisme dan pendekatan holistik integratif. Secara umum pendekatan reduksionisme memandang hakekat pendidikan tidak secara utuh, namun secara sepihak, sesuai sudut pandang pendekatan yang digunakan. Sedangkan Pendekatan holistik integratif memandang hakekat pendidikan sebagai pengembangan manusia seutuhnya. Sehingga pendidikan selain berkembang secara verikal juga melebar secara horizontal. Mengembangkan manusia seutuhnyamaka manusia akan dilihat sebagai makluk yang dikaruniai oleh Pencipta dengan berbagai potensi. Hasil dari proses pendidikan akan menghasilkan manusia yang berbudaya. Yang tumbuh melalui proses pembelajaran sesuai dengan kemampuan manusia itu sendiri.
Kata kunci :hakekat pendidikan ; reduksionisme ; holistik integratif
Pendahuluan
Pendidikan tidak akan pernah terpisah dari kehidupan manusia dan akan terus berkembang sesuai dengan kebutuhan hidup manusia (M. Pidarta, 2009). Seorang anak akan mendapatkan pendidikan langsung dari orang tuanya. Selanjutnya pendidikan didapatkannya dari lingkungan sekitar dan terus berkembang sampai dia dewasa. Manakala mereka sudah dewasa dan berkeluarga mereka akan menjadi pendidik bagi anak dan keturunannya. Hal ini akan terus terjadi berulang sampai akhir kehidupan manusia. Sehingga pendidikan menjadi ciri khas kehidupan umat manusia. Yang pada akhirnya mau tidak mau manusia membutuhkan pendidikan.
Mendalami hakekat pendidikan, maka dapatdipisahkan menjadi dua kata, yakni “hakekat” dan “Pendidikan”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hakekat bermakna intisari atau dasar. Makna lain dari hakekat adalah kenyataan yang sebenarnya. Selanjutnya Chandra (2009) mengatakan bahwa pendidikan berasal dari kata dasar “didik” yang berarti memelihara atau memberi latihan. Kedua kata tersebut merupakan kata kerja yang memerlukanajaran, tuntunan, dan pimpinan tentang kecerdasan berfikir. Sedangkan pendidikan menurut pengertian yang sederhana adalah usaha manusia untuk menumbuh kembangkan potensi-potensi bawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai dalam masyarakat dan kebudayaan (Nawar, M. 2017). Dengan kata lain pendidikan dapat diartikan sebagai hasil perkembangan peradaban manusia itu sendiri.
Jauh sebelumnya, tokoh pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantoro menyatakan bahwa pendidikan merupakan tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Adapun maksud pendidikan, yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagia- an yang setinggi-tingginya (Wasitohadi. 2019).
Dalam Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 dijelaskan tentan Tujuan Pendidikan Nasional yaitu “Mencerdaskan kehidupan banagsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memeliki pengetahuan, keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, berkepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”. Selanjutnya Undang-Undang tersebut diuraikan lagi dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 yang menyatakan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan baik bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.
Pendidikandalam Berbagai Perspektif
Sasaran pendidikanadalah manusia, mengandung banyak aspek dan sifatnya sangat kompleks. Karena sifatnya yang kompleks itu, maka tidak ada sebuah batasanpun yang cukup memadai untuk menjelaskan hakekat pendidikan secara lengkap. Batasan tentang hakekat pendidikan yang dibuat para ahli beraneka ragam, dan kandungannya kadang berbeda satu dari yang lainnya. Perbedaan tersebut disebabkan terjadi karena perbedaan orientasinya, konsep dasar yang digunakan, aspek yang menjadi tekanan, atau karena falsafah yang melandasinya (Wasitohadi. 2019).
Bahkan Mudyahardjo (2002 : 3) mendifinisikan secara luas bahwa pendidikan itu adalah hidup. Dimana pendidikan adalah segala situasi kehidupan yang mempengaruhi pertumbuhan individu. Sehingga tujuan pendidikan adalah sama dengan tujuan hidup itu sendiri. Selanjutnya Mudyahardjo (2002 : 6) menerangkan bahwa makna secara sempit pendidikan adalah sekolah. Pendidikan adalah pengajaran yang diselenggarakan di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal. Mudyahardjo (2002 : 11) juga mendefinisikan pendidikan secara alternatif atau luas terbatas sebagai usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan/atau latihan yang berlangsung di sekolah atau diluar sekolah.
Secara formal pendidikandilakukankan sejak awal masuk ke jenjang pendidikan terendah sampai ke perguruan tinggi. Adapun secara hakikat pendidikan dilakukan seumur hidup sejak manusia dilahirkan sampai ke liang lahat. Dengan demikian pendidikan merupakan fenomena manusia yang sangat fundamental, yang juga mempunyai sifat konstruktif dalam hidup manusia (Hasbullah, 1996 : 8).
Dengan memperhatikan batasan-batasan pendidikan terdapat pengertian dasar yang perlu dipahami dalam mengenal hakekat pendidikan diantara :
- Pendidikan merupan suatu proses terhadap anak didik untuk mencapai pribadi yang dewasa. Proses ini berlangsung dalam jangka waktu tertentu.
- Pendidikan merupakan perbuatan manusia. Kedewasaan diri merupkan tujuan pendidikan yang hendak dicapai melalui perbuatan atau tindakan pendidikan.
- Pendidikan merupakan hubungan antar pribadi pendidik dan anak didik. Pendidik bertindak demi kepentingan dan kesematan anak didik, dan anak didik mengakui kewibawaan pendidik dan bergantung padanya.
- Tindakan atau perbuatan mendidik menuntun anak didik mencapai tujuan-tujuan tertentu, dan akan tampak pada perubahan-perubahan dalam diri anak didik. Perubahan tersebut berupa gejala kedewasaan yang terjadi secara terus-menerus dan akan mengalami peningkatan kualitas. ((Hasbullah, 1996 : 10).
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendidikan
Menurut Hasbullah (1996 : 20) banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhi dan selanjutnya sangat menentukan hasil akhir dari proses pendidikan. Faktor-faktor tersebut diantara :
- Faktor Tujuan ; tidak dipungkiri setiap kegiatan yang dilakukan baik secara sadar atau tidak selalu berharap pada hasil akhir yang akan dicapai. Demikian juga halnya dengan pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan manusia menempatkan tujuan sebagai suatu yang hendak dicapai, baik tujuan yang dirumuskan secara abstrak maupun tujuan riil yang dapat dilihat secara nyata.
Dalam undang-undang secara tegas dijelaskan tujuan pendidikan nasional. Hal ini terdapat dalam Undang-Undang nomor 2 tahun 1989 secara tegas disebutkan bahwa Tujuan Pendidikan Nasional adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya”.
- Faktor Pendidik ; pendidik adalah orang yang bertangung jawab untuk mendidik. Secara umum dapat dikatakan bahwa setiap orang dewasa dalam komunitasnya dapat menjadi pendidik, sebab mendidik adalah sebuah naluri dan perbuatan sosial.
- Faktor Anak didik ; dalam pengertian umum anak didik adalah seseorang yang menerima pengaruh dari seseorang yang sedang menjalankan proses pendidikan. Ketergantuangn anak didik kepada pendidik hanya bersifat sementara. Karena diharapkan anak didik pada suatu saat bisa berdiri sendiri, sehingga peran pendidik dalam memberikan pengetahuan semakin berkurang, bahkan berhenti sama sekali.
- Faktor Alat Pendidikan ; alat pendidikan adalah satu tindakan yang sengaja dilakukan baik berupa riil atau abstrak untuk mencapai tujuan pendidikan. Ditinjau dari segi wujudnya alat pendididkan itu dapat berupa 1) perbuatan pendidik (bisa dibilang sebagai sofwere pendidikan dan 2) benda-benda sebagai alat bantu pendidikan ( sebagai hardwere pendidikan).
- Faktor Lingkungan ;lingkungan sekitar yang sengaja digunakan sebagai alat dalam proses pendidikan disebut lingkungan pendidikan. Meskipun lingkungan tidak bertanggung jawab terhadap kedewasaan anak didik, namun merupakan faktor yang sangat menentukan selama proses pendidikan. Sebab disadari atau tidak lingkungan pasti mempengaruhi hasil dari suatu proses pendidikan.
Hakikat Pendidikan dan Pendekatan Reduksionisme
Banyak sekali pendekatan dalam mengungkapkan hakekat pendidikan. Hasil dari pendekatan tersebut melahirkan berbagai teori yang pada intinya menerangkan apa dan bagaimana pendidikan tersebut. Secara garis besar H.T.R. Tilaar (1999 : 19) menggolongkan menjadi dua kelompok besar, yaitu :
- Pendekatan reduksionisme
- Pendekatan holistik integratif.
Berbagai jenis pendekatan reduksionisme diungkapkan oleh para pakar pendidikan, dilihat dari sudut pandang masing-masing. Pendekatan tersebut diantaranya :
- Pendekatan pedagogis ; titik tolak dari pendekatan ini adalah anak yang akan dibesarkan menjadi manusia dewasa. Pada pendekatan serupa dengan pandangan nativisme beranggapan bahwa setiap anak mempunyai kemampuan masing-masing yang dibawa sejak lahirsehingga tinggal dikembangkan saja. Sehingga para penganut pendekatan pedagogis sangat mengagungkan dan menghormati hakekat anak.
- Pendekatan filosofis ; pandangan pendekatan filosofis lebih maju dibanding pendekatan pedagogis. Pendekatan ini mengakui nilai-nilai anak yang khas, juga mengakui akan perkembangan etik, juga religius anak sebagai suatu yang khas dan harus dihormati dalam proses pendidikan.
- Pendekatan religius ; para penganut pendekatan ini melihat manusia sebagai makhluk religius. Dengan demikian hakikat pendidikan adalah membawa peserta didik menjadi manusia yang religius, karena sebagai makhluk Tuhan peserta didik harus dipersiapkan untuk hidup sesuai dengan harkatnya. Pendekatan ini tidak hanya berfungsi untuk mencapai kesempurnaan pada kehidupan setelah alam dunia, namun juga untuk meningkatkan kesejahteraan kehidupan dunia yang aman, nyaman dan berkeadilan. Pendekatan religius terhadap pendidikan abad 21 akan semakin relefan karena kemajuan ilmu pengetahuan belum dapat dijadikan jaminan untuk lahirnya etis manusia untuk hidup bersama.
- Pendekatan psikologis ;pendekatan psikologis mereduksi ilmu pendidikan menjadi ilmu proses belajar mengajar. Dalam masyarakat modern pendidikan bukan hanya terbatas kepada proses belajar mengajar semata, namun sejalan dengan perkembangan pranata pendidikan dan perkembangan pranata sosial, maka pendidikan perlu dikaji secara ilmiah dan ditangani secara profesional. Lebih lanjut pendekatan psikologis menguraikan bahwa proses pendidikan jauh melampaui apa yang tertuang dalam kurikulum pembelajaran, dimana harus mampu mewujudkan visi suatu masyarakat dan berkelanjutan oleh generasi penerusnya.
- Pendekatan negativisme ;pandangan negativis adalah bahwa tugas pendidikan adalah menjaga perkembangan peserta didik . Sehingga seolah-olah segala sesuatu telah tersedia dalam diri anak tersebut. Pendekatan negativis terlalu menyederhanakan proses pendidikan dan terlalu optimis terhadap yang ada dalam diri peserta didik. Pandangan ini secara intrisik melihat bahwa kepribadian akan berkembang kearah yang baik dengan sendirinya. Pandangan ini mempunyai kelemahan yaitu hanya memandang bahwa proses pendidikan adalah melatih peserta didik menjadi warga negara yang berguna. Padahal seharusnya peserta didik bukan hanya mengenal hal-hal yang berguna, tapi perlu mengetahui dan melawan atau mengatasi hal-hal yang tidak berguna dalam kehidupan bermasyarakat. Sehingga proses pendidikan bukan merupakan kegiatan protektif, tapi memberikan pengalaman yang selebar-lebarnya agar dapat belajar secara mandiri sehingga dapat menemukan sebuah keputusan secara nyata.
- Pendekatan sosial ; pada prinsipnya pendekatan sosial meletakkan hakekat pendidikan sebagai keperluan bersama dalam masyarakat. Titik tolaknya adalah pendidikan merupakan kebutuhan bersama dalam bermasyarakat dan bukan hanya kebutuhan individu. Hal ini dilandaskan bahwa peserta didik adalah anggota masyarakat sehingga harus dipersiapkan menjadi anggota masyarakat yang baik. Pendekatan ini banyak dianut dalam masyarakat sosial, dimana proses pendidikan dalam sistem masyarakat tersebut tidak lebih dari proses indokrinasiuntuk mempersiapkan robot-robot sebagai anggota dari masyarakat tersebut. Kata hati dan moral adalah hal yang di nomor duakan, karena segala sesuatu diarahkan untuk mempertahan status quo atau struktur kehidupan dalam bermasyarakat yang berlaku.
Hakekat Pendidikan dalam Pendekatan Holistik Integratif
Pendekatan holistrik integratif melihat hakekat pendidikan secara keseluruhan, tidak terpisah antara satu dengan lain. Sehingga hakekat pendidikan dilihat baik secara vertikal maupun harizontal. Peserta didik adalah anak manusia yang tidak hanya hidup secara individu namun bertumbuh kembang dalam lingkungan bermasyarakat, berbudaya, yang mempunyai visi dan misi dalam kehidupannya, termasuk kehidupan pascakehidupan. H.T.R. Tilaar (1999 : 28).
Rumusan operasional dalam pendekatan holistik integratif memiliki komponen-komponen sebagai berikut :
- Pendidikan merupakan proses yang berkesinambungan. Proses ini mengimplikasikan bahwa pada peserta didik terdapat kemampuannya sebagai makluk yang hidup dalam masyarakat. Kemampuan tersebut harus dikembangkan dan diarahkan sesuai dengan tata nilai dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam hal ini proses pendidikan juga berarti sebagai proses penyelamatan kehidupan sosial dan penyelamatan lingkungan dan memberikan jaminan hidup yang berkesinambungan. Artinya proses pendidikan tidak akan pernah selesai. Proses pendidikan akan terus berlangsung selama terdapat interaksi antar manusia bersama alam dan lingkungannya.
- Proses pendidikan merupakan menumbuhkembangkan keberadaan atau eksistensi manusia. Ini menunjukkan bahwa eksistensi manusia adalah suatu eksistensi interaktif. Interaktif itu terjadi baik sesama manusia itu sendiri, dengan alam dan juga Tuhannya. Eksistensi manusia tidak akan pernah selesai dan akan berkembang sepanjang hayat. Tanggung jawab manusia itu ditumbuhkembangkan tidak hanya dalam dimensi lokal, namun juga dalam dimensi global.
- Keberadaan manusia yang bermasyarakat. Tindak lanjut dari proses pendidikan adalah mewujudkan manusia yang bermasyarakat. Lembaga-lembaga pendidikan adalah pranata sosisal yang bertugas untuk melaksanakan proses pendidikan yang sistemik. Sehingga lembaga pendidikan tidak terlepas dari kontrol masyarakat. Sehingga tujuan pendidikan tidak berada di luar proses pendidikan, namun berada dalam pendidikan itu sendiri, masyarakat adalah bagian dari proses pendidikan tersebut. Dengan kata lain bahwa visi pendidikan adalah seiring dengan visi dalam masyarakat dimana pendidikan itu berada. Sehingga pendidikan dapat menghayati atau menghidupkan nilai-nilai kebudayaan dan moral dalam masyarakat tersebut.
- Proses pendidikan dalam masyarakat yang membudaya. Kehidupan dalam masyarakat adalah melaksanakan, menghayati, melestaraikan dan menumbuhkembangkan nilai-nilai sosial budaya. Masyarakat tidak hanya berbudidaya, namun membudaya. Artinya selain nilai-nilai yang harus dilestarikan, maka akan muncul nilai-nilai baru. Selanjutnya selama masyarakat itu eksis, maka selama itu pula kebudayaan akan berkembang. Pendidikan adalah pranata sosial dimana kebudayaan itu berkembang. Dengan demikian antara kebudayaan dan pendidikan tidak dapat dipisahkan. Dimana ada kebudayaan maka disitu ada pendidikan.
- Proses bermasyarakat dan berbudaya mempengaruhi dimensi waktu dan dimensi ruang. Dengan dimensi waktu pendidikan memiliki aspek historistik, kekinian serta visi dan misi menuju masa depan. Aspek historistik maksudnya manusia berkembang dalam proses waktu yang bersejarah dan berasimilasi dalam suatu proses kebudayaan. Aspek kekinian maksudnya adalah suatu kebudayaan bukanlah suatu proses tertutup dari dunia luar apalagi dalam kehidupan modernisasi, dimana manusia hidup dalam dunia tanpa batas. Sehingga kebudayaan akan dipengaruhi dengan kehidupan global dan perkembangan teknologi. Dengan demikian dimensi ruang dan waktu adalah konsekuansi dari eksistensi manusia yang tidak bisa dipisdahkan dari kehidupan bermasyarakat yang mengarah kemasa depan.
Penutup
Hakekat pendidikan adalah segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan berlangsung sepanjang hayat. Pendidikan adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan setiap individu (Mudyahardjo (2002 : 3). Dalam proses pendidikan terdapat karakter khusus yang mencirikan keberlangsungan proses tersebut yaitu :
- Masa pendidikan : pendidikan berlangsung seumur hidup selama ada pengaruh dari lingkuangan.
- Lingkungan pendidikan : pendidikan berlangsung dalam segala lingkungan, baik yang khusus disediakan untuk menciptakan lingkungan itu sendiri atau yang sudah ada dengan sendirinya.
- Bentuk kegiatan : kegiatan dilakukan baik terancana maupun secara tidak disengaja. Pendidikkan dapat berlangsung dalam beraneka ragam bentuk, pola dan lembaga. Pendidikan dapat terjadi kapan dan dimanapun berada serta berorientasi pada peserta didik.
- Tujuan : tujuan pendidikan terkandung dalam setiap pengalaman belajar tidak ditentukan dan ditentukan dari luar. Tujuan pendidikan adalah pertumbuhan, tidak terbatas dan pada ahirnya sama dengan visi kehidupan manusia itu sendiri.
Hasil dari pendidikan akan menghasilkan manusia yang berbudaya, karena hanya manusia satu-satunya mahkluk Tuhan sebagai makluk yang berbudaya. Dengan kata lain kebudayaan adalah hak paten yang hanya dimiliki oleh umat manusia dalam konteks bermasyarakat atau berkelompok. Tumbuh melalui proses dan hasil belajar sesuai dengan kemampuan manusia itu sendiri (Sumaatmadja, N. 1998 : 47).
Simpulan
Secara garis besar pendekatan reduksionisme memandang hakekat pendidikan tidak secara utuh. Namun secara sepihak sesuai sudut pandang pendekatan yang digunakan. Dengan demikian proses pendidikan tidak dilihat secara keseluruhannamun hanya dari sudut pandang tertentu. Kelebihan dari pendekatan reduksionisme teori-teori yang digunakan dibahas secara mendalam dan secara vertikal.
Pendekatan holistik integratif memandang hakekat pendidikan sebagai pengembangan manusia seutuhnya. Sehingga pendidikan selain berkembang secara verikal juga melebar secara horizontal. Mengembangkan manusia seutuhnya adalah melihat manusia sebagai makluk yang dikaruniai oleh Sang Pencipta dengan beragam potensi. Keberagaman potensi tersebut akan berkembang sesuia tatanan dalam kehidupan bermasyarakat.
Daftar Pustaka
Badan Pengembangan dan Peminaan Bahasa. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Jakarta. Balai Pustaka.
Chandra, Fransisca. 2009. Peran Partisipasi Kegiatan di Alam Masa anak, Pendidikan dan Jenis Kelamin sebagai Moderasi Terhadap Perilaku Ramah Lingkungan. Disertasi S3. Program MagisterPsikologi Fakultas Psikologi. Unversita Gadjah Mada Yogyakarta.
H.A.R.Tilaar. 1999. PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, DAN MASYARAKT MADANI, Strategi Reformasi Pendidikan Nasional. Bandung. PT Remaja Rosda Karya.
Hasbullah. 2005. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada.
Mudyaraharja, R. 1998. PENGANTAR PENDIDIKAN, Sebuah Study Awal Tentang Dasar-dasar Pendidikan pada Umumnya dan Pendidikan di Indonesia. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada.
Mustari, M. 2014. MANAJEMEN PENDIDIKAN. Jakarta. Raja Grafika Persada.
Pidarta, Made. 2009. Landasan Kependidikan, Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia. Jakarta. PT Rineka Cipta.
Rini, Y. S., & Tari, J. P. S. (2013). Pendidikan: hakekat, tujuan, dan proses. Jogyakarta: Pendidikan Dan Seni Universitas Negeri Jogyakarta.
Sumaatmadja, Nursid. 1998. MANUSIA DALAM KONTEKS SOSIAL, BUDAYA, DAN LINGKUNGAN HIDUP. Bandung. CV Alfabeta.
Wasitohadi, W. (2014). Hakekat Pendidikan Dalam Perspektif John Dewey Tinjauan Teoritis. Satya Widya, 30(1), 49-61.
Penulis: Wahyu Fatihah, Lia Kurnia Asih, Lukman Nulhakim/
Pogram Studi Teknologi Pendidikan Pasca Sarjana
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa










