Jenson mengatakan, proyek pembangunan bronjong ditarget rampung dalam satu bulan.
Namun, saat ini, sudah memasuki pekan keempat. Pengerjaan proyek baru terpasang bronjong sepanjang lima meter dari target panjang bronjong 28 meter.
“Satu truk harusnya bisa bawa material sejam, ini bisa setengah hari karena diangkut lagi ke dalam. Kalau dikasih aja (pagar perumahan dijebol) enggak sampai sebulan juga udah beres,” jelasnya.
Menurut Jenson, kesulitan lainnya adalah pembangunan bronjong terhalang oleh jembatan akses masuk perumahan.
Jembatan tersebut membuat pekerja kesulitan membangun bronjong.
Pihaknya berharap agar seluruh pemangku kepentingan dapat tergerak mencari solusi dari permasalahan tersebut.
Karena, menurutnya, yang dirugikan dari lamanya pengerjaan proyek bronjong adalah masyarakat setempat.
Pihak pengelola Perumahan D’hills, Residence, Mulyan menjelaskan, pembangunan pagar tembok perumahan sebelumnya sudah disetujui oleh pengurus RW 17, Pondokbenda.
Menurutnya, sebelum dibangun pagar tembok, di sepanjang bibir Kali Angke tadinya dibangun warung oleh warga sekitar.
“Jadi, kan tadinya dipakai warung-warung, kesannya jadi kumuh, akhirnya mereka kita alihkan ke tempat lain, dan untuk menghindari orang buang sampah ke sungai, kita tembok dan sudah izin kepada pengurus RW 17 demi keindahan lingkungan,” jelasnya.

