SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Karo SDM Polda Banten, Kombes Pol Muh. Dwita Kumu Wardana, memastikan proses rekrutmen anggota Polri di Polda Banten terbebas dari praktik suap.
Perwira menengah Polri tersebut juga menegaskan bahwa semua peserta mempunyai kesempatan yang sama.
“Semua punya kesempatan yang sama untuk menjadi anggota Polri,” ujar Dwita, Rabu, 23 Agustus 2023.
Dwita mengungkapkan, untuk menjadi anggota Polri, para peserta harus mempersiapkan diri. Sebab, selain karena kouta terbatas, jumlah peminat sangat tinggi sehingga harus dapat bersaing dan menjadi yang terbaik.
“Hanya yang terbaik yang dapat lulus dan mengikuti pendidikan,” ungkap Dwita.
Dwita menegaskan, proses rekrutmen menerapkan sistem BETAH. BETAH tersebut merupakan akronim dari bersih, transparan, akuntabel dan humanis.
“Proses rekrutmen Polri benar-benar menanamkan prinsip BETAH, sehingga siapa saja mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi anggota Polri,” ungkap Dwita.
Bukti telah diterapkannya sistem BETAH tersebut salah satunya adalah peserta yang lulus berasal dari keluarga yang tidak mampu. Salah satu peserta yang berada di garis kemiskinan dan dinyatakan lulus tersebut adalah Tori Sugianto (19).
Remaja asal Kampung Ciomas Bojong, RT 001 RW 007, Desa Tegalpapak, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pandeglang, tersebut merupakan anggota Polri pada tahun 2023 dan anak dari buruh peternakan ayam.
“Tori ini orang tuanya bekerja sebagai buruh peternakan ayam dan berhasil menjadi polisi,” ujar Dwita.
Orang tua Tori, Tarsim, mengaku tidak menyangka anaknya bakal menjadi anggota polisi. Sebab, sejak awal Tori mengikuti tes, ia masih merasa ragu anaknya dapat lulus seleksi.
“Enggak menyangka kalau anak saya Tori bakal lulus seleksi. Saya dari awal hanya bisa pasrah, berdoa dan menyerahkan sepenuhnya kepada Tori,” kata Tarsim.
Tarsim mengungkapkan, Tori berasal dari keluarga yang kurang mampu. Sebagai kepala keluarga dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia bekerja sebagai buruh peternakan ayam yang penghasilannya tidak seberapa.
Meski Tarsim sangat bersyukur dapat menyekolahkan Tori hingga sekolah menengah atas.
“Sehari-hari pekerjaan saya sebagai buruh peternakan ayam, kalau istri ibu rumah tangga. Kalau penghasilan alhamdulillah cukup untuk makan dan menyekolahkan Tori (sampai SMA),” kata Tarsim.
Tarsim mengungkapkan, kunci keberhasilan anaknya menjadi anggota Polri adalah semangat pantang menyerah. Untuk menggapai mimpinya tersebut, Tori kata dia sering belajar untuk mengasah kemampuan akademik dan berolahraga.
“Anaknya (Tori) punya semangat, dia belajar dan latihan terus,” ungkap Tarsim. (*)
Reporter: Fahmi
Editor: Agus Priwandono











