LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Untuk menyongsong Pilkada Lebak 2024, Poros Politik Zilenal (Porpoliz) menggelar diskusi interaktif bersama Gen Z di Lebak dengan tema “60 Menit Bareng Gen Z Preferensi Politik Gen Z di Pilkada 2024” di Kafe Cikuda Lake, Rangkasbitung, Rabu, 17 Juli 2024.
Ridwanul Maknunah, Ketua Porpoliz, mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menggali pandangan dan preferensi politik generasi muda, khususnya Gen Z, dalam menentukan pilihan mereka pada Pilkada mendatang.
“60 Menit Bareng Gen Z adalah program diskusi sebagai ruang dalam penggalian pendidikan politik dan tentunya sebagai pandangan awal Gen Z dalam menentukan pilihannya dengan segala resiko dan tanggung jawab,” kata Ridwanul kepada RADARBANTEN.CO.ID.
Diskusi diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai latar belakang organisasi dan perkumpulan pemuda, di antaranya, Ikatan Mahasiswa Lebak (Imala), Keluarga Mahasiswa Lebak (Kumala), pengurus Cabang PMII Lebak, Gerakan Mahasiswa Demokrasi, Kumacitor, Sarekat Petani Milenial, Narasi Kita, santri milenial, dan pelajar.
Ridwan menyampaikan, para peserta merupakan representasi dari generasi muda yang saat ini berusia antara 18 hingga 26 tahun, yang secara demografis merupakan kelompok pemilih potensial yang cukup signifikan dalam menentukan hasil Pilkada.
“Beberapa poin utama yang menjadi sorotan dalam diskusi yaitu mengenai kriteria pemimpin yang diinginkan oleh kelompok Gen Z jelang Pilkada Lebak. Disini Gen Z tidak hanya jadi penonton tetapi punya sumbangsih menyampaikan aspirasi,” terangnya.
“Dalam diskusi dan pendapat tertulis Gen Z lebih mengutamakan integritas, visi yang jelas, serta kemampuan inovatif dalam memilih calon pemimpin. Mereka menginginkan pemimpin yang tidak hanya mampu memenuhi janji kampanye tetapi juga transparan dan akuntabel dalam menjalankan pemerintahan,” sambungnya.
Diskusi dipantik oleh dua narasumber representatif Gen-Z, yaitu Mambang Hayali selaku Ketua Umum Kumala dan Ari Aswari selaku Ketua Umum Imala menjelaskan terkait peran Gen Z yang sesungguhnya.
Mambang menuturkan, Gen Z bukan lagi sebagai agen of change, melainkan investor of change yang kebijakannya bisa mempengaruhi kehidupan masyarakat.
“Gen Z sebagai instrumen perubahan bukan lagi sebagai agen, melainkan investor of change dan itu adalah kita. Kaula muda seperti kita perlu untuk sadar mengenai politik yang jelas-jelas mempengaruhi kehidupan dilingkungan masyarakat, bahkan sudah menjadi kewajiban kita untuk mendorong calon yang baik dan bijak dinilai dari gagasan dan track record,” ucapnya.
Hal yang sama, disampaikan Aswari bahwa Gen Z jangan mau jadi buruh politik yang bekerja dilingkungan politik hanya untuk kepentingan materil.
“Saya menekankan kepada anak muda, jangan mau di dikte mengenai pilihan politik. Apalagi dijadikan buruh politik yang dimana menerima uang atau pelaku money politik untuk memilih pemimpin kita,” tandasnya. (*)
Editor: Agus Priwandono

