SERANG, RADARBANTEN.CO.ID-Amerika Serikat (AS) menolak masuknya produk udang beku asal Indonesia dan bahkan menariknya dari peredaran. Hal itu dilakukan usai otoritas kepabeanan AS mendeteksi adanya kontaminasi isotop radioaktif Cesium-137 (Cs-137) dalam kontainer pengiriman udang yang berasal dari Indonesia.
Usut punya usut, kontainer itu dikirimkan oleh salah satu perusahaal asal Banten yakni PT Bahari Makmur Sejati (BMS Foods). BMS sendiri dikenal sebagai perusahaan pengolah udang yang berfokus dalam memenuhi kebutuhan ekspor di Negeri Paman Sam AS itu.
Informasi yang dihimpun, pada sampel udang beku milik PT BMS, otoritas kepabeanan AS menemukan keberadaan isotop radioaktif Cesium‑137 (Cs‑137) pada kadar sekitar 68,48 Bq/kg ± 8,25 Bq/kg. Meski masih di bawah level intervensi FDA, temuan ini tetap memicu peringatan karena berisiko jika dikonsumsi terus‑menerus dalam jangka panjang.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Banten Eli Susiyanti membenarkan adanya penolakan terhadap udang beku asal Banten oleh pihak otoritas kepabeanan AS. Katanya, ada lima kontainer berisi produk olahan PT BMS yang kini sudah dikembalikan.
“Selain itu ada juga delapan kontainer yang dikembalikan, itu sedang di jalan,” kata Eli saat ditemui di kantornya.
Eli mengatakan, DKP Banten langsung bergerak saat mendapatkan informasi penolakan dan pengembalian udang beku asal Banten itu. Koordinasi pun dilakukan pihaknya secara lintas sektoral khususnya dengan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) guna menginvestigasi asal muasal paparan radioaktif itu.
“Saat ini kegiatan operasional di PT BMS diberhentikan sementara, hingga hasil audit lingkungan keluar,” katanya.
Selain melakukan audit lingkungan, pemeriksaan juga dilakukan kepada produk olahan dari PT BMS. Eli mengungkapkan, hasil menunjukan jika radioaktif itu bukan berasal dari udang-udang hasil olahan, namun dari polusi lingkungan sekitar.
“Sudah dicek proses produksi, asal udangnya, dan dua-duanya clear, tidak ada radioaktif. Tapi terindikasi dalam pabrik, itu dari blower. Produkknya ga masalah,” ungkapnya.
Meskipun demikian, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan pihak terkait dalam mengatasi masalah ini.
Reporter : Yusuf Permana
Editor: Agung S Pambudi











