LEBAK,RADARBANTEN.CO.ID-Penolakan ekspor udang beku asal Banten oleh Amerika Serikat (AS) karena dugaan kontaminasi radioaktif cesium-137 (Cs-137) telah memicu kekhawatiran serius di kalangan pengusaha tambak.
Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) mencatat kadar Cs-137 mencapai 68,48 Bq/kg ± 8,25 Bq/kg pada sampel udang dari PT Bahari Makmur Sejati (BMS), Kabupaten Serang, Banten.
H. Usmar Buntara, pengusaha tambak udang di Lebak–Pandeglang, menilai penolakan ini akan berdampak sangat besar secara ekonomi maupun sosial di Banten.
Menurutnya, ribuan pekerja berisiko kehilangan mata pencaharian, terutama di sektor produksi di PT. BMS dan rantai pasok tambak yang selama ini menopang ekonomi lokal.
“Ketika pabrik udang akan ditutup semua dan cold storage tutup, tentunya akan ada banyak pengangguran. Pemerintah harus bisa menyelamatkan Cold Storage BMS karena ribuan orang Bekerja di BMS,” tuturnya kepada RADARBANTEN.CO.ID, Selasa 9 September 2025.
Buntara menyebutkan, bahwa dampak penutupan tambak dan pabrik akan mempengaruhi bertambahnya jumlah pengangguran di Banten dan umumnya di Indonesia.
“Ketika tambak itu akan tutup. Benar-benar kita tutup. ada ratusan karyawan mengangtungkan nasibnya di situ, bahkan mayoritas warga lokal Banten. Karena harga sekarang ini sudah enggak normal. Nah, terkait dengan misalnya kan ini situasi sekarang ini sudah tidak menentu,” terangnya.
Ia menambahkn, saat ini saja dirinya memperkerjakan ratusan karyawan yang berasal dari Kabupaten Lebak dan Pandeglang.
“Karyawan saya kira-kira ada 400 orang, mayoritas dari Lebak-Pandeglang, kalo tambak mereka akan menganggur,” katanya.
Usmar meminta pihak berwenang termasuk Kementerian Kelautan dan Perikanan, Bapeten, dan Kementerian Lingkungan Hidup segera bergerak menuntaskan perkara ini agar ekspor bisa dibuka kembali.
Menurutnya, kelambatan respons hanya akan memperdalam dampak sosial ekonomi di masyarakat.
“Tampak jelas pula bahwa kontaminasi radioaktif diduga berasal dari lingkungan sekitar lokasi pengolahan, seperti dekat pabrik BMS, bukan dari produk atau proses budidaya itu sendiri,” pungkasnya.
Usmar menegaskan bahwa udang hasil tambak lokal tetap memenuhi standar dan aman dikonsumsi, termasuk bagi pasar internasional.
“Jika pemerintah bisa memastikan bahwa udang lokal benar-benar aman, eksportir mungkin bisa mengalihkan pengiriman ke negara lain yang membuka pasar lebih cepat,” tegasnya.
Reporter : Nurandi
Editor: Agung S Pambudi











