PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID–Sejumlah warga Kabupaten Pandeglang menyambut baik rencana pemerintah melakukan reaktivasi jalur kereta api (KA) Rangkasbitung-Pandeglang.
Program yang terus digembar-gemborkan ini dinilai dapat memudahkan mobilitas masyarakat.
Salah satu warga Pandeglang, Iwan mengaku bersyukur jika jalur tersebut benar-benar dihidupkan kembali.
Ia menilai kereta bisa jadi moda transportasi yang lebih praktis dibanding kendaraan pribadi.
“Saya sangat senang sekali, bersyukur kalau memang mau reaktivasi jalur kereta api. Misalnya kalau mau ke Jakarta tinggal naik kereta, jadi enggak harus pakai kendaraan pribadi. Enak dan praktis,” kata Iwan, Rabu 1 Oktober 2025.
Iwan melanjutkan, kereta juga akan memudahkan perjalanan mudik. Selain lebih cepat, kereta dianggap lebih efisien karena bebas dari kemacetan.
“Apalagi kalau saya pulang kampung ke Tangerang, bisa pakai kereta. Lebih murah dan cepat,” ujarnya.
Sebagaimana diketahui, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) berencana menghidupkan kembali jalur kereta api (KA) Rangkasbitung-Pandeglang, Banten, pada 2026 mendatang setelah lama tidak beroperasi.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, saat ini pemerintah masih melakukan kajian untuk rencana reaktivasi tersebut. Kemenhub juga akan melibatkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten dalam perencanaan.
Kemudian, Pemprov Banten akan berbagi tugas, terutama dalam mendukung pembebasan lahan. Sementara prasarana reaktivasi akan ditangani pemerintah pusat.
Adapun jalur yang akan dihidupkan kembali memiliki panjang sekitar 19 kilometer. Untuk tahap jangka menengah, Kemenhub sudah memasukkan jalur Rangkasbitung-Pandeglang dalam program reaktivasi nasional.
Jalur rel kereta api Rangkasbitung-Pandeglang masih tampak jelas hingga kini, salah satunya di Kampung Kadomas, Kelurahan Kadomas, Kecamatan Pandeglang, Kabupaten Pandeglang.
Wacana reaktivasi jalur KA tersebut kini semakin serius dibahas oleh pemerintah pusat bersama pemerintah daerah. Rencana ini disebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan kembali transportasi massal berbasis rel di Banten.
Reporter: Moch Madani Prasetia
Editor: Agung S Pambudi











