SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Serang menyiapkan sembilan resolusi pendidikan tahun 2026 untuk mendorong perubahan nyata di lingkungan sekolah.
Resolusi tersebut menyasar berbagai aspek, mulai dari kebersihan lingkungan sekolah, penguatan literasi, hingga pembentukan karakter peserta didik.
Kepala Dindikbud Kota Serang, Ahmad Nuri, mengatakan resolusi pendidikan ini dirumuskan untuk menjawab tantangan pelayanan pendidikan di tengah keterbatasan anggaran. Menurutnya, sekolah harus tetap bergerak meski berada dalam situasi efisiensi.
“Kami menyusun resolusi ini sebagai panduan bersama agar sekolah tetap bisa melakukan perubahan, meskipun anggaran terbatas,” ujar Nuri.
Ia menegaskan, Dindikbud tidak ingin kinerja pendidikan hanya terpaku pada program-program normatif yang tertuang dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA).
Menurutnya, pembiasaan dan kolaborasi menjadi kunci utama dalam menjaga kualitas pelayanan pendidikan.
“Kami tidak ingin kerja pendidikan hanya berhenti pada hal-hal normatif di DPA. Di tengah efisiensi, harus tetap ada langkah-langkah progresif agar pelayanan pendidikan berjalan,” katanya.
Nuri menambahkan, resolusi pendidikan 2026 juga diarahkan untuk membangun kesadaran kolektif di lingkungan sekolah. Ia berharap kepala sekolah dan tenaga pendidik mampu menjadi penggerak perubahan di satuan pendidikan masing-masing.
“Saya mendorong sekolah untuk tidak menunggu program, tetapi memulai dari kebiasaan kecil yang bisa dilakukan bersama,” ucapnya.
Salah satu resolusi yang menjadi perhatian utama adalah mewujudkan sekolah dan lingkungan sekitar sekolah yang bersih, hijau, dan sehat. Kebersihan dimaknai tidak hanya sebatas tampilan fisik, tetapi juga mencakup perilaku dan budaya warga sekolah.
“Kebersihan sekolah bukan hanya soal cat tembok atau halaman yang rapi, tetapi juga soal bebas sampah plastik, sudut-sudut yang terawat, serta lingkungan yang sehat,” jelas Nuri.
Selain itu, gerakan penghijauan melalui kegiatan menanam akan terus didorong dengan melibatkan warga sekitar sekolah. Menurutnya, keterlibatan masyarakat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan berkelanjutan.
“Kami ingin sekolah menjadi bagian dari lingkungan, bukan berdiri sendiri. Jika warga sekitar ikut terlibat, rasa memiliki terhadap sekolah juga akan tumbuh,” pungkasnya.*
Editor : Krisna Widi Aria











