PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Pemerintah desa Idaman, Kecamatan Patia, Kabupaten Pandeglang mendesak untuk segera dilakukan pembangunan tanggul lantaran kerap terjadi terkepung banjir, tahun ini merupakan ke dua kalianya.
Banjir tersebut diakibatkan meluapnya Kali Cilemer dan Kali Cimoyan sejak Sabtu 10 Januari 2026. Pemerintah desa setempat mendesak untuk segera dilakukan pembangunan tanggul.
Tingginya intensitas menyebabkan anak sungai seperti Kali Cisata, Cikaduun, Cibeureum, hingga Cikesiken tidak mampu menampung volume air kiriman dari wilayah Lebak dan Pandeglang.
Pemerintah setempat pun mendesak pembangunan tanggul penahan air di sepanjang bantaran sungai serta percepatan pelurusan aliran kali guna memutus siklus banjir tahunan ini.
Kepala Desa Idaman, Ilman, mengungkapkan, bahwa banjir kali ini merupakan kejadian kedua di tahun ini, setelah sebelumnya wilayah tersebut diterjang empat kali banjir sepanjang tahun 2025.
Ia menyebut sebanyak 422 rumah yang dihuni lebih dari seribu jiwa terdampak langsung di empat kampung, yakni Tajur, Kerang Tengah, Sindangrahayu, dan Kampung Tongkol.
“Harapannya itu kan ada tanggul penahan air di bantaran kali yang belum selesai. Desa Idaman sendiri belum ada tanggul banjir. Setidaknya itu bisa meminimalisir jika terjadi banjir bandang dari wilayah Pandeglang atau Picung,” kata Ilman, Minggu 18 Januari 2026.
Urutan banjir yang terus berulang memicu desakan dari pemerintah desa dalam penyelesaian infrastruktur pengontrol air. Ilman menekankan pentingnya kelanjutan pembangunan tanggul penahan air di bantaran kali yang hingga kini belum menyentuh wilayah Desa Idaman.
Ia mengatakan saat ini, proyek tanggul dari arah Pagelaran baru mencapai Desa Bulagor. Keberadaan tanggul permanen dinilainya menjadi solusi vital untuk menahan banjir bandang kiriman agar tidak langsung menghantam permukiman warga yang lokasinya dekat sungai.
Sementara Camat Patia, Supratman, menyampaikan, bahwa dari 10 desa di wilayahnya, tujuh desa terdampak luapan air dengan Desa Idaman dan Desa Ciawi sebagai titik terparah.
Selain merendam ratusan rumah, banjir juga memutus akses transportasi utama menuju Kantor Kecamatan Patia, tepatnya di wilayah Peuntas Timur dan Kampung Dungusaur.
“Satu bulan ini sudah dua kali banjir, ini yang kedua. Aktivitas untuk ekonomi sangat terhambat karena banjir,” Ucapnya.
Ia pun menyoroti pentingnya normalisasi melalui pelurusan aliran sungai untuk mempercepat surutnya genangan. Langkah ini dinilainya efektiv pasca pembangunan Jembatan Sibungur yang mampu memangkas durasi banjir dari hitungan bulan menjadi rata-rata empat hari saja.
Meski demikian, menurutnya tanpa adanya tanggul penahan permanen di sepanjang bantaran sungai, warga tetap dihantui risiko banjir besar dengan ketinggian 2,5 hingga 3 meter sebagaimana bencana yang pernah melanda pada tahun 2010 dan 2012.
Editor: Abdul Rozak











