SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Masyarakat adat Baduy kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga kelestarian alam melalui prosesi Seba Baduy 2026. Tradisi ini menjadi bagian penting dari rangkaian adat pasca panen dan prosesi Ngalaksa.
Ke depan, masyarakat Baduy juga berencana melaksanakan ritual perawatan alam secara rutin di sejumlah titik di luar wilayah ulayat, seperti Sanghyang Sirah dan Gunung Honje, sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan lingkungan secara berkelanjutan.
Kepala Desa Kanekes sekaligus Jaro Pamarentah, Jaro Oom, mengatakan kedatangan masyarakat Baduy menghadap gubernur merupakan bentuk penyampaian amanat leluhur untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
“Kami melaksanakan tradisi ini karena bagi kami, masyarakat Baduy, menjaga amanah adalah hal yang utama. Amanah ini kami sampaikan kepada pemerintah sesuai titipan lembaga adat dan instruksi Puun,” ujarnya, Sabtu 25 Ap
Ia menjelaskan, wilayah yang menjadi tanggung jawab pelestarian tidak hanya terbatas pada kawasan adat, tetapi juga meliputi sejumlah daerah lain seperti Sanghyang Sirah, Ujung Kulon, Gunung Honje, hingga beberapa kawasan di luar Banten.
Sejumlah wilayah yang disebut di antaranya Taman Nasional Ujung Kulon, Ujung Genteng, Tanjung Lesung, serta beberapa gunung di Jawa Barat hingga Jawa Timur.
Menurutnya, masyarakat Baduy memiliki kewajiban adat untuk terus menjalankan prinsip “ngaraksa gunung ngarawat alam” sebagai bentuk perlindungan terhadap gunung, hutan, dan sungai.
“Kami menegaskan komitmen wajib untuk terus ngeraksa dan menjalankan aturan adat. Kami menjalankan ritual sakral untuk menyelamatkan gunung, sungai, dan hutan,” tegasnya.
Reporter : Yusuf Permana











