Jalan rusak bagi warga di pelosok desa memang bukan berita baru. Bahkan terlalu biasa.
Berdebu saat kemarau. Becek saat hujan. Debunya masuk ke rumah, menempel di pakaian, bahkan makanan. Batu-batu besar muncul di permukaan. Pengendara sepeda motor harus berjalan pelan, mencari bagian yang masih bisa dilewati.
Warga bukan tidak marah. Mereka hanya terlalu lama dipaksa bersabar.
Itulah yang dirasakan warga Kampung Gulu, Cikadu, Tagelan, Cikeurai, dan Cigaralang di Desa Cijaralang, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang. Puluhan tahun mereka menunggu jalan sepanjang sekitar empat kilometer itu dibangun.
Yang ditunggu tidak juga datang.
Akhirnya, 59 warga membuat petisi. Mereka tidak hanya membubuhkan tanda tangan. Jari mereka ditusuk. Darahnya diteteskan pada lembar petisi yang dikirimkan kepada Gubernur Banten Andra Soni.
Tidak ada ancaman di dalamnya. Tidak ada pula kalimat kasar. Namun, tetesan darah terkadang berbicara lebih keras daripada rangkaian kata.
Warga menyebutnya petisi darah. Darah dari kesabaran yang hampir habis. Darah dari aspirasi yang terlalu lama disampaikan, tetapi seperti tidak pernah sampai.
Untungnya, kali ini surat itu tiba pada orang yang tepat.
Tidak perlu menunggu lama setelah petisi itu ramai diberitakan, Andra Soni merespons. Ia tidak meminta warga kembali bersabar. Tidak pula membalasnya dengan surat panjang berisi bahasa birokrasi. Ia langsung mengagendakan kunjungan ke lokasi.
Esok harinya, Andra datang.
Kadang-kadang, seorang pemimpin tidak memerlukan pidato panjang untuk membuat rakyat merasa dihargai. Cukup datang. Melihat dengan mata sendiri. Mendengar tanpa perantara. Lalu mengambil keputusan.
Darah yang menempel pada petisi itu ternyata bukan darah perlawanan. Itu darah pengharapan. Begitu harapan dijawab, kemarahan berubah menjadi rasa syukur.
Tanggal 12 Agustus menjadi hari istimewa bagi warga lima kampung. Jalan yang puluhan tahun lebih pantas disebut hamparan batu dan debu itu akan dibangun.
Tanggal itu juga hari istimewa bagi Andra Soni. 12 Agustus. Tepat pada ulang tahunnya yang ke-50, ia datang membawa kabar yang telah ditunggu warga puluhan tahun.
Biasanya orang yang berulang tahun menerima kado. Kali ini Andra justru memberikannya.
Warga mendapat kepastian jalan mereka akan dibangun. Andra membawa pulang hadiah yang jauh lebih mahal daripada biaya pembangunan: doa orang-orang yang merasa didengar.
Doa itu tidak tercatat dalam laporan keuangan. Tidak dapat dihitung konsultan, auditor, ataupun panitia anggaran. Namun, bagi seorang pemimpin, tidak ada hadiah lebih indah daripada namanya disebut dalam doa rakyat. Bukan karena diminta, melainkan karena telah menghadirkan kebahagiaan.
Mungkin Andra tidak mendengar doa itu satu per satu. Namun, dari rumah-rumah warga di lima kampung, doa tersebut akan mengalir agar gubernur mereka selalu sehat, panjang umur, dan tetap menjadi Andra yang mau datang ketika rakyat memanggil.
Andra tidak perlu mengatakan dirinya berpihak kepada masyarakat kecil. Kehadirannya di tengah debu Cimanggu sudah mengatakan semuanya. Di situlah seorang pemimpin mendapat tempat di hati rakyat. Bukan karena spanduk atau baliho, melainkan karena hadir dan berbuat ketika dibutuhkan.
Namun, kegembiraan itu menyisakan pertanyaan yang patut direnungkan bersama.
Jalan tersebut berada di sana puluhan tahun. Lubangnya terlihat. Batunya terasa. Keluhan warga rasanya bukan baru disampaikan tahun ini.
Pemkab Pandeglang tentu memiliki banyak jalan yang perlu ditangani dengan kemampuan anggaran terbatas. Anggota DPRD juga turun ke daerah pemilihannya tiga kali setahun melalui masa reses untuk menyerap aspirasi. Namun, peristiwa di Cimanggu menunjukkan masih ada suara warga yang belum mendapat tempat dalam daftar prioritas.
Petisi darah berhasil mengetuk pintu gubernur. Syukurlah, pintu itu segera terbuka. Namun, warga semestinya tidak perlu menunggu puluhan tahun, apalagi sampai meneteskan darah, untuk memperoleh jalan yang layak.
Peristiwa ini harus menjadi bahan evaluasi bersama. Pemkab Pandeglang dan DPRD kini bisa ikut menuntaskan penantian warga. Bukan sekadar hadir ketika pembangunan dimulai, tetapi memastikan jalan itu selesai, berkualitas, dan terawat.
Cukuplah surat dari Cimanggu menjadi petisi darah terakhir.
Selamat ulang tahun ke-50, Pak Gub. Semoga selalu sehat, panjang umur, dan tetap memiliki telinga yang peka terhadap suara paling pelan dari pelosok Banten.
Sebab, pemimpin yang dicintai rakyat bukan hanya mampu membangun jalan. Ia juga mampu membangun kembali kepercayaan.
Di Cimanggu, Andra Soni melakukan keduanya.

