SERANG,RADARBANTEN.CO.ID – Pasca terjadinya letusan pada 4 September 2026 lalu, Gunung Anak Krakatau (GAK) masih berstatus level III atau Siaga. Status tersebut mengharuskan wisatawan untuk menjauhi area 3 kilometer dari pusat letusan.
Selain itu, masyarakat diminta untuk waspada terhadap ancaman awan panas, lava, lontaran batu pijar hingga hujan abu vulkanik lebat akibat letusan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Serang, Ajat Sudrajat, mengatakan saat ini untuk status GAK besada di level III atau siaga. Erdasarkan laporan dari Badan Geologi per tanggal 5 September 2026, aktivitas erupsi masih terjadi.
“Erupsi terjadi disertai suara gemuruh serta semburan yang menyerupai lava fountain. Aktivitas dan perkembangan morfologi GAK masih terus dipantau oleh PVMBG/Badan Geologi,” katanya, Minggu 6 September 2026.
Ia mengatakan, berdasarkan hasil evaluasi dari PBMBG, tubuh GAK masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami seperti yang terjadi pada tahun 2018 lalu.
Ia mengatakan, saat ini terdapat Early Warning System (EWS) yang telah terpasang di sejumlah lokasi di Kabupaten Serang. Keberadaan EWS untuk alat deteksi dini terjadinya bencana.
“Seluruh EWS yang terpasang di Kabupaten Serang ada di Anyer, Bulakan, Karangsuraga, Salira, Sumuranja, dan Argawana,” ujarnya.
Mengenai adanya suara EWS yang diduga terdengar oleh masyarakat dan santri di pesantren Annajah, pihaknya telah berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten selaku pengendali EWS, aparatur desa pesisir, dan Destana.
“Hasil konfirmasi, seluruh EWS tidak berbunyi. Khusus Pesantren Annajah, EWS Bulakan dan Karangsuraga merupakan titik terdekat dan keduanya juga dipastikan tidak teraktivasi. Untuk suara yang didengar oleh masyarakat ataupun pihak Annajah, kami pastikan tidak ada, setelah komunikasi dan koordinasi dengan Kantor Station Pemantau Gunung Anak Krakatau di Pasauran Cinangka,” tegasnya.
Ia mengatakan, kondisi lapangan saat ini terpantau kondusif dan tidak terdapat kepanikan yang meluas. Pihaknya terus melakukan monitoring dan koordinasi dengan BPBD Provinsi Banten, aparatur desa, Destana, dan instansi terkait.
“Apabila terdapat perkembangan signifikan atau aktivasi EWS, akan segera kami laporkan kembali,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengimbau kepada masyarakat untuk tidak mendekati GAK dengan radius 3 kilometer dari usat letusan. Lalu, ia meminta juga agar masyakat meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman awan panas, lava, lontaran batu pijar hingga hujan abu vulkanik lebat akibat letusan.
“Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat,” ujarnya.
Ia juga mengimbau masyarakat agar mengenakan masker saat beraktivitas di luar rumah untuk menghindari gangguan pernapasan akibat abu vulkanik.
“Pantai terus informasi resmi melalui BPBD Kabupaten Serang, PVMBG, BMKG dan media terpercaya. Siapkan diri dan keluarga dengan rencana evaluasi serta tas siaga bencana,” ujarnya.
Editor: Abdul Rozak
