SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih menunjukkan tanda-tanda kegempaan. Dalam pengamatan Minggu, 13 September 2026 pagi, Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau mencatat dua kali gempa low frequency serta tremor menerus.
Laporan Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat aktivitas tersebut selama periode pengamatan pukul 00.00 hingga 06.00 WIB.
Dua gempa low frequency yang terekam memiliki amplitudo 11-16 milimeter dengan durasi masing-masing 5-9 detik.
Selain gempa low frequency, tremor menerus atau microtremor juga masih terekam. Amplitudonya berada pada kisaran 2-10 milimeter, dengan amplitudo dominan 3 milimeter.
Aktivitas kegempaan tersebut terjadi ketika kondisi Gunung Anak Krakatau secara visual tidak menunjukkan adanya asap kawah. Gunung terpantau tertutup kabut dengan tingkat kabut 0-III, sementara CCTV visual di lapangan dalam kondisi tidak aktif.
Kondisi meteorologi di sekitar gunung juga terpantau berawan. Angin bertiup lemah ke arah barat laut dengan suhu udara berkisar 26,4-26,7 derajat Celsius dan kelembapan 84-87 persen.
Tidak ada keterangan lain yang dilaporkan dalam periode pengamatan tersebut.
Meski secara visual tidak teramati asap kawah, aktivitas kegempaan membuat Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga.
PVMBG mengingatkan masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki agar tidak mendekati Gunung Anak Krakatau atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Imbauan tersebut menjadi penting mengingat kondisi gunung api dapat berubah sewaktu-waktu. Masyarakat di sekitar kawasan Selat Sunda juga diminta mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui informasi resmi PVMBG.
Gunung Anak Krakatau sendiri merupakan gunung api aktif yang berada di kawasan Selat Sunda, tepatnya di wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.
Laporan aktivitas Gunung Anak Krakatau periode 13 September 2026 tersebut disusun Rioboniek Situmorang dan bersumber dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), Badan Geologi, PVMBG, serta Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau.
Editor: Bayu Mulyana

