Ini kisah belasan tahun silam di sebuah kampung di Kabupaten Serang. Dua puluh tahun menikah, pasutri Jojo (55) dan Mimi (54), keduanya nama samaran dikaruniai empat anak. Semakin lama pernikahan bukannya semakin mesra, hubungan mereka malah merenggang.
Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi menjadi penyebab utama munculnya berbagai masalah. Hingga akhirnya, lantaran tak mampu menahan kesabaran, di usia Mimi ke-42 tahun dan Jojo 43 tahun, rumah tangga mereka tak mampu lagi menahan terjangan gelombang kehidupan.
“Awalnya saya pikir dengan empat anak dia bakal mikir dan sadar, tapi ternyata susah,” kata Mimi kepada Radar Banten.
Seperti diceritakan Mimi, dahulu Jojo sebenarnya terlahir dari keluarga berada. Dengan aset tanah dan sawah di mana-mana, keluarganya memiliki perekonomian yang bagus. Namun lantaran ia anak terakhir dari tujuh bersaudara, sejak remaja sudah menyerahkan aset keluarga untuk dikelola kakak-kakaknya.
Masa remaja dilalui penuh warna, dengan status sebagai anak orang kaya, ia punya banyak teman dan diterima di banyak kalangan. Tak hanya itu, dengan wajah tampan dan sikap diam bikin penasaran, ia sering ganti-ganti pasangan. Widih playboy juga ya Kang Jojo.
“Ya begitulah, Kang. Tapi, tetap saja waktu itu dia yang ngejar-ngejar saya. Sayanya cuek sok jual mahal gitu,” aku Mimi.
Cerita berlanjut ketika Jojo dan Mimi lulus SMA. Bak perahu yang terbalik di tengah dahsyatnya gelombang ombak, kehidupan Jojo berubah 180 derajat. Katanya, bisnis ayahnya mengalami kebangkrutan karena ditipu orang. Mungkin karena stres berat menghadapi kejamnya kehidupan, sang ayah meninggal dunia, membuat seluruh keluarga berduka.
Bersama ibu tercinta dan saudara lainnya, Jojo menjalani hidup tanpa kehadiran kepala keluarga. Apalah daya, lantaran tak melanjutkan pendidikan, terbersitlah keinginan menuju jenjang pernikahan. Kebetulan, waktu itu ia sudah memiliki kekasih hati yang sudah terjalin sejak SMA, wanita itu adalah Mimi.
Berbeda dengan Jojo, Mimi berasal dari keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah. Ayah tak memiliki pekerjaan pasti, saudara-saudara Mimi dan semua kakak-kakaknya juga orang tak mampu. Lantaran cinta Jojo yang sudah sangat dalam, tak membuatnya mengurungkan niat meminang sang kekasih.
Singkat cerita, dengan keadaan keluarga yang masih dianggap sebagai orang terpandang di masyarakat, Jojo meminang Mimi dengan pesta pernikahan meriah. Mengundang banyak tamu undangan, keduanya tampak bahagia bak raja dan ratu. Mengikat janji sehidup semati, Jojo dan Mimi resmi menjadi sepasang suami istri.
Di awal pernikahan, Jojo dan Mimi tampak berbahagia. Duka ditinggal sang ayah seolah hilang begitu saja. Menjalani kehidupan baru bersama sang istri tercinta, Jojo bekerja membantu usaha keluarga berupa kebun dan sawah. Setahun kemudian, lahirlah anak pertama. Membuat rumah tangga semakin berwarna.
Seiring berjalannya hari, Jojo membangun rumah pribadinya bersama Mimi. Mereka pun dikaruniai dua anak. Apalah daya, lantaran tak ada yang benar-benar mampu mengelola bisnis keluarga, satu per satu aset yang dimiliki raib. Bagai menunggu bom waktu, perekonomian rumah tangga pun ikut surut.
Hari demi hari dilalui Mimi tak secerah seperti awal menjalani pernikahan. Ia sadar sang suami mengalami banyak perubahan. Mulai dari tak perhatian, sampai sering adu mulut hanya karena masalah sepele. Meski ia mencoba untuk melupakan, perlahan tapi pasti Mimi larut dalam keterpurukan.
Dan hari yang ditakutkan pun terjadi. Setelah kembali dikaruniai anak ketiga dan keempat, ekonomi keluarga dan rumah tangga benar-benar mengalami kehancuran. Habis sudah masa kejayaan, Jojo tak berdaya menghadapi kenyataan. Aih, itu benar-benar bangkrut Teh?
“Iya, Kang. Semua simpanan seperti sawah, kebun, dan toko bangkrut. Bahkan, rumah orangtua juga hampir-hampir mau dijual,” curhat Mimi.
Hidup sebagai penganggur membuat Jojo semakin tak keruan. Setiap malam yang dilakukannya hanya berjudi dan mabuk-mabukan. Frustrasi yang dialami semakin tak keruan, barang-barang elektronik yang dimilikinya sedikit demi sedikit terkuras untuk menutupi utang-utangnya karena kalah berjudi. Astaga.
“Waktu itu saya sudah coba kasih dorongan semangat dan nasihat, tapi ya dia enggak mau dengar ucapan saya lagi,” kata Mimi.
Di sisi lain, Jojo yang saat itu tenggelam dalam kubangan kehancuran, hanya pulang seminggu sekali. Bahkan, sampai sebulan sekali. Terlalu lama tidak ditemani suami membuat Mimi kesepian dan merasa tak lagi dibutuhkan. Hingga akhirnya, puncak dari kehancuran itu terjadi.
Mimi yang sudah lama ikut arisan di salah satu warga, hari itu mendapat kabar gembira karena namanyalah yang keluar. Saat itu kebetulan Jojo baru pulang. Tak ada tegur sapa apalagi canda tawa, kehadirannya seolah tak bermakna. Hingga malam datang, Jojo lekas mandi dan bersiap hendak pergi.
Saking seringnya sang suami pergi, Mimi dan anak-anaknya membiarkan begitu saja Jojo melangkah keluar rumah. Sampai malam benar-benar datang, mereka terlelap tidur melupakan banyaknya masalah. Tak terasa azan subuh berkumandang, layaknya ibu-ibu lainnya, Mimi bangun lebih awal mempersiapkan sarapan dan membangunkan anak-anak.
Hingga waktu menunjukkan pukul sembilan, Mimi pergi menuju rumah sang pemilik arisan untuk mengambil uang. Betapa kagetnya Mimi, tanpa sepengetahuannya, uang arisannya sudah diambil suami malam tadi. Aih, kok bisa gitu sih, Teh?
“Saya enggak nyangka, katanya Kang Jojo ambil uang itu disuruh saya. Ya, sudah deh hilang uang itu,” kata Mimi.
Seminggu kemudian, ketika Jojo pulang, seolah tak mau lagi melihat wajah sang suami, Mimi langsung menyatakan perpisahan. Rumah tangga mereka berakhir gara-gara uang arisan.
Ya ampun. Semoga Kang Jojo dapat hidayah dan Teh Mimi mendapat suami baru yang jauh lebih baik. Amin. (daru-zetizen/zee/dwi)









