CILEGON – Kota Cilegon tidak hanya berada di bawah ancaman gempa bumi dan tsunami. Ancaman bencana lain yang membayangi Kota Cilegon adalah bencana industri yang terjadi akibat adanya bencana gempa bumi dan tsunami.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat Kota Cilegon masuk ke dalam 136 kabupaten kota dengan pertumbuhan ekonomi tinggi. Namun, di sisi lain memiliki indeks risiko bencana tinggi yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.
“Kita mengetahui bahwa Kota Cilegon memiliki kawasan industri terkait dengan bahan kimia berbahaya, sedangkan kawasan ini juga memiliki potensi terdampak bencana,” ujar Plh Direktur Kesiapsiagaan BNPB Lilik Kurniawan dalam pembukaan acara Tabletop Exercise (TTX) Nasional di Hotel Horison Forbis Cilegon, Rabu (3/10).
Bencana industri dinilai bisa menambah dampak bencana yang diakibatkan oleh gempa bumi atau tsunami, mengingat unsur kimia yang berada pada industri bisa mengancam kesehatan masyarakat.
“Ini-itu (bencana gempa bumi, tsunami, dan bencana industri) baru potensi dan potensi itu belum tentu terjadi, yang terpenting adalah kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana itu,” ujar Lilik saat menyampaikan keterangan pers.
Atas dasar kesiapsiagaan itulah, menurut Lilik, BNPB bersama Pemkot Cilegon dan Pemprov menggelar TTX Nasional sejak kemarin hingga Kamis (4/10) dan ASEAN Regional Disaster Emergency Response Simulation Exercise (ARDEX) pada 4 hingga 10 November di Kota Cilegon.
TTX Nasional dan ARDEX nanti digelar untuk meningkatkan kesiapsiagaan berbagai pihak terhadap ancaman bencana di Kota Cilegon dan sekitarnya, khususnya terkait ancaman gempa bumi dan tsunami yang mengakibatkan bencana industri. Selain itu, acara tersebut bisa memperkuat mekanisme operasional yang terencana dan terkoordinasi untuk memastikan tanggap darurat yang efektif.
Dalam kegiatan itu, bencana industri akibat gempa bumi atau tsunami yang mengancam keselamatan masyarakat menjadi skenario dalam ajang simulasi yang juga melibatkan negara lain di Asean. Menurut Lilik, dengan skenario itu, bagaimana kesipasiagaan seluruh unsur baik pemerintah, TNI, kepolisian, perusahaan, dan masyarakat akan dipelajari dan dipraktikkan.
“Terkait simulasi ini apakah semua pihak sudah memahami ini atau belum memahami. Kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah dari semua level, perlu senantiasa ditingkatkan dalam menghadapi rapid on set disaster seperti tsunami yang disusul dengan bencana industri,” ujar Lilik. (Bayu M/RBG)











