SERANG – Puskesmas Gunungsari melalui Tim Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) terus berinovasi menekan tingginya angka kematian ibu dan bayi di wilayahnya. Salah satu upayanya, pemberian obat penambah darah untuk ibu hamil dan wanita usia subur (15-49) secara gratis, selain gencar menyosialisasikan program Cegah Anemia dengan Minum Tablet Tambah Darah (Cemini Tea) melalui metode senam.
Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) dan Pembina Program Gizi Desa Ciherang Puskesmas Gunungsari Ai Darmiyatini mengatakan, pihaknya terus melakukan berbagai upaya untuk menekan kematian ibu dan bayi. Salah satu upayanya, membagikan obat anemia secara gratis.
Obat anemia, kata Ai, sudah dibagikan ke masyarakat di tiga desa, yakni Desa Ciherang, Desa Tamiyang, dan Desa Sukalaba. “Kita terus berinovasi untuk menekan angka kematian ibu dan bayi,” ujar Ai yang ditemui Radar Banten di Puskesmas Gunungsari, Rabu (7/8).
Kata Ai, program pembagian obat anemia gratis dilakukan setiap hari. Tujuannya, untuk mencegah pendarahan saat melahirkan, serta menurunkan risiko terjadinya stunting pada anak. Dijelaskan Ai, ibu-ibu wajib langsung meminum obat anemia di tempat setelah obat dibagikan. “Kalau enggak langsung diminum di tempat, biasanya malah enggak diminum. Padahal, obat wajib diminum setiap hari,” jelasnya.
Diungkapkan Ai, pihaknya gencar menyosialisasikan program menggunakan metode senam Cemini Tea untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya meminum obat anemia. Gerakan senam sama seperti senam pada umumnya, hanya lirik lagu senam berisi imbauan untuk mengonsumsi makanan yang bisa menambah darah. “Salah satu lirik lagunya ‘ayo makan sayur bayam dan ikan’,” katanya.
Upaya lain, pihaknya juga melakukan penanaman sayur-sayuran seperti bayam, paria, dan kangkung di pekarangan rumah masyarakat. Tujuannya, agar ibu-ibu hamil memiliki kesadaran pentingnya mengonsumsi sayur untuk kesehatan dan pertumbuhan bayi. “Walaupun pekarangannya kecil, tapi diusahakan masyarakat membuat tanaman yang kaya akan zat besi,” imbaunya.
Bidan Desa Ciherang Yuni Eva Ristanti yang mendapat tugas dari Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) sebagai pengemban inovasi untuk mengurangi angka kematian ibu dan bayi di Puskesmas Gunungsari menambahkan, pelaksanaan senam Cemini Tea dilaksanakan dua kali dalam sepekan, yakni pada Rabu dan Sabtu. “Semua elemen masyarakat yang ikut senam, mulai dari ibu lurah, ibu camat, dan ibu-ibu hamil,” terangnya.
Senada disampaikan Koordinator Bidan Puskesmas Gunungsari Lilis Nurhasanah yang menyatakan program Cemini Tea efektif diterapkan di masyarakat. Bahkan, pihaknya juga sudah membentuk Kader Anak Sekolah Peduli Anemia Kesehatan (ASPAK) di kalangan pelajar. “Tidak hanya puskesmas, seluruh masyarakat Gunungsari juga terlibat,” terangnya. (mg06/zai/ira)







