Dapat Inspirasi dari Buah yang Berjatuhan
Kabar diperpajangnya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), membuat Sularmi mengusap dada. Ibu rumah tangga yang suaminya di PHK sejak wabah Covid-19 melanda pada 2019 itu, harus memutar otak agar bisa bertahan di tengah kesusahan. Buah alkesa yang awalnya tak dimanfaatkan pun, diolah menjadi penganan dodol yang banyak diminati.
Daru Pamungkas – Petir
Kampung/Desa Padasuka, Kecamatan Petir, Kabupaten Serang, Kamis (22/7) siang itu terasa lengang. Suara jangkrik dari lebatnya pepohonan, siulan angin di sela dedaunan, membuat nuansa kampung di perbatasan Kabupaten Serang dan Kabupaten Pandeglang ini terasa asri.
Di bagian belakang rumah bercat merah jambu yang berlokasi tak jauh dari jalan poros desa, Sularmi tampak sibuk mengaduk adonan dodol di atas perapian. Ibu empat anak itu tampak telaten mengaduk-aduk adonan yang proses pemasakannya bisa memakan waktu hingga empat jam.
Sambil sesekali meniup tungku dan merapikan kayu bakar, ibu empat anak itu bercerita bagaimana mula dari sebutir buah alkesa, ia mendapatkan ide untuk mengolahnya menjadi adonan dodol yang banyak diminati pelanggannya. “Di sini, buah alkesa tuh melimpah, tapi enggak kepake, kayak sampah aja berserakan di kebun,” kata Sularmi.
Sejak dulu, Sularmi terbiasa membuat berbagai macam olahan makanan seperti keripik pisang, keripik ubi dan singkong. Ia bersama suami, Ahmad Yani yang bekerja sebagai karyawan pabrik di Bekasi, menjalani hari-hari dengan sederhana. Membiayai sekolah anak hingga perguruan tinggi, serta mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Kemudian pada Maret 2019, Sularmi yang juga tergabung dengan ibu-ibu Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), terpilih mewakili Desa Padasuka untuk mengirimkan olahan makanan khas untuk dilombakan tingkat Kabupaten Serang.
Namun, saat itu Sularmi kebingungan lantaran makanan olahan yang biasa ia buat bahan-bahannya tidak tersedia, seperti pisang yang belum masuk masa panen, begitu pun dengan ubi dan singkong. Ia sempat menyatakan menyerah dan mengundurkan diri kepada panitia di tingkat Kecamatan Petir.
Tetapi, pihak Desa Padasuka terus memotivasi dan mengajak berunding bersama untuk mencari solusi yang dialami Sularmi. Meski begitu, hasil musyawarah pun tidak memberikan hasil, Sularmi pulang dengan wajah tertunduk. “Pas lagi jalan, eh ada buah alkesa berserakan di tanah,” ungkapnya.
Buah seukuran biji salak berwarna kuning bersih itu pun diambil oleh Sularmi, ia mencicipinya, rasanya seperti ubi. Saat itulah ide dan inspirasinya datang, Sularmi mulai mengumpulkan buah alkesa sebanyak tiga kilo. Kemudian buah memasuki tahap pemeraman hingga empat hari sampai matang sempurna. Lalu buah dikupas daging dari kulitnya, kemudian satu kilo setengah alkesa diolah dengan satu kilo setengah tepung, dan gula. Kemudian dicampur dengan santan dari tiga butir kelapa.
Setelah itu barulah proses pengadukan selama empat jam, hingga adonan berubah menyerupai dodol. Setelah matang, Sularmi langsung mencobanya, ia pun terkejut, ternyata rasanya enak dan tak kalah saing dengan rasa dodol garut. “Saya kaget, rasanya enak banget, gurih dan manisnya pas,” ujarnya.
Saat itu Sularmi bergegas melakukan pengemasan sederhana. Produk dodol alkesa buatannya pun mulai dikirimkan ke kantor Desa Padasuka dan kantor Kecamatan Petir. Ternyata, para staf sangat menyukainya, malah ada yang langsung memesan untuk konsumsi pribadi.
Bukan cuma itu, Sularmi juga menjual produknya kepada masyarakat kampung dengan harga seribu rupiah per satu butir dodol. Dalam sehari, ia bisa menjual hingga seratus butir. Semakin lama, permintaan dodol alkesa semakin meningkat, mulai dari perorangan, hingga borongan untuk acara hajatan pernikahan.
Produk dodol alkesa Sularmi pun diikutsertakan dalam lomba tingkat Kabupaten Serang, ia beberapa kali mengunjungi Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) untuk mempresentasikan produknya. Sularmi mulai kebanjiran orderan. “Pernah sampai bikin 45 dus dodol,” ujarnya.
Namun apalah daya, pada akhir 2019, pandemi Covid-19 mulai mewabah. Pesanan dodol alkesa pun perlahan berkurang, Sularmi pun mengurangi produksinya. Dari yang awalnya bisa memproduksi sepuluh kilo, berkurang menjadi minimal tiga kilo dodol.
Pesanan dodol menurun drastis. Kondisi perekonomian Sularmi semakin parah saat suaminya, Ahmad Yadi di-PHK dari tempatnya bekerja di Bekasi. Tak ada lagi penghasilan untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga.
Namun Sularmi terus memproduksi dodol alkesa, ia jual ke warga di Desa Padasuka. Produksi masih bisa dinikmati hingga kini. “Paling buat tambah pemasukan, saya juga jualan bubur sumsum,” ungkapnya.
Sekretaris Desa Padasuka, Nunung menambahkan, produk dodol alkesa sangat potensial untuk bisa bersaing di pasaran. Selain rasanya yang nikmat, harganya juga terjangkau. “Kendalanya sih di pemasarannya, belum bisa mencakup pasar yang lebih luas,” katanya.
Namun, Nunung berjanji, jika proyek pembangunan tol Serang-Panimbang selesai, dan di wilayah Kecamatan Tunjungteja tersedia ruko khusus oleh-oleh di SPBU jalan tol, ia akan berupaya menyuplai produk dodol alkesa. “Saya siap mengkoordinasikannya dengan pihak pengelola,” tegasnya. (*)










