KABUPATEN TANGERANG, – Aktivis Nahdliyyin Kabupaten Tangerang, Gus Fakhier menilai gagasan Presiden terpilih Prabowo – Gibran, selain bermasalah dalam proses pencalonan dan banyak pertentangan dalam ide dan gagasannya
Juga, ada hal nyentrik yang membuat pasangan Prabowo – Gibran ini berbeda dari kandidat yang lain pada waktu itu, yakni makan dan minum susu gratis.
“Saya gak yakin program presiden terpilih, yakni Prabowo – Gibran bisa mejalankan programnya dengan baik. Apalagi program makan dan minum susu gratis,” ungkap Gus Fakhier, Sabtu 18 Mei 2024
Kata Gus Fakhier, data dari badan pusat statistik (BPS) terkini menyatakan dan mengatakan bahwa rata-rata proporsi tingkat pendidikan rakyat Indonesia yang lulus SD sekitar 24,62 persen, dan rakyat indonesia yang lulus sarjana S1 hanya 10,15 persen
“Jadi, dengan tingkat kesenjangan yang sangat tinggi, jika apple to apple antara presentasi proporsi lulusan SD dan S1, maka menarik sekali ketika berbicara gagasan dan janji presiden terpilih ini hanya dengan label singkatan atau slogan makan gratis, tanpa menimbang-nimbang bagaimana kemudian relevansi penerapannya untuk menuntaskan janji itu,”terang Gus Fakhier.
Gus Fakhier juga mengungkapkan, Indonesia selalu di sebut negara maritim, yakni negara yang kekuasaannya 70 persen ada pada lautan, akan lebih relevan jika makan siang dan susu gratis di ganti menjadi ikan yang kaya akan protein dan gizi, mungkin akan lebih relevan jika kita memanfaatkan sumber daya manusia (SDA) kita sendiri daripada melakukan apa yang sudah pak Prabowo ucapkan akan impor sapi dari india dan negara lain untuk kebutuhan susu gratis.
Selain itu, Pak Prabowo selalu berbicara soal nasionalisme dan rakyat kecil, akan tetapi gagasannya sendiri tidak mencerminkan memberdayakan SDA negeri sendiri dan UMKM rakyat kecil,
“Nah, yang lebih mengkhawatirkan adalah sapi impor dari luar negeri dan makan siang gratis diduga adalah proyek terselubung untuk mengembalikan uang bohir,” pungkas Gus Fakhier. (*)
Editor: Bayu Mulyana











