JAKARTA – Tim ekonomi pemerintahan yang baru akan langsung dihadapkan pada tantangan untuk menaikkan harga BBM bersubsidi. Pelaku pasar modal pun sudah mengantisipasi rencana itu.
Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) menyatakan, meski belum dipastikan kapan waktunya, kenaikan harga BBM bersubsidi diprediksi tetap menjadi prioritas awal pemerintahan anyar. “Memang ini kebijakan yang terasa tidak populis. Tetapi, lebih baik tidak populis sekarang tetapi kemudian perekonomian positif daripada mengejar popularitas tetap perekonomian tersandera beban subsidi,” ucap analis AAEI dari Quant Capital Indonesia Hans Kwee, Jumat (24/10/2014).
Yang terpenting, kata Hans, pemerintah segera melakukan serangkaian antisipasi, terutama untuk sektor transportasi dan logistik, agar tidak terlalu terbebani. Tujuannya, kenaikan inflasi tidak terlampau signifikan. “Sebab, kalau biaya transportasi dan logistik naik, harga barang akan langsung naik. Meskipun, secara umum, jika terjadi kenaikan harga BBM, perusahaan sektor consumer akan melakukan adjusting (penyesuaian) harga,” ulasnya, seperti diberitakan jpnn.com.
Kepala Riset PT Recapital Securities Andrew Argado mengatakan, yang terpenting adalah antisipasi pemerintah dalam menahan dampak kebijakan tersebut. “Ya, mungkin bisa saja ada subsidi dalam bentuk lain khusus untuk sektor transportasi dan logistik. Kuncinya ada di penyaluran dana penghematan dari kenaikan BBM subsidi itu digunakan untuk apa,” kata Andrew.
Andrew menyatakan, harga minyak mentah saat ini sebenarnya terus mengalami penurunan dan bertahan di bawah level USD 100 per barel. “Oil price terus mengalami pelemahan karena antisipasi perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Jadi, market sudah meninggalkan komoditas ini,” terusnya. (jpnn)








