SERANG – Rabeg merupakan kuliner khas Banten yang wajib dicicipi setelah sate bandeng. Rabeg adalah hidangan wajib di istana pada masa Kesultanan Banten dahulu. Makanan yang umumnya berbahan dasar daging kambing ini mempunyai citarasa manis yang gurih dan sedikit pedas.
Salah satu rumah makan legendaris yakni Rabeg Khas Serang H Naswi Magersari yang berlokasi di Jalan Mayor Syafe’i No 30 Serang, menyajikan menu rabeg yang masih diolah secara tradisional turun temurun.
“Kita masih mengolah rabeg secara tradisional, belum menggunakan alat-alat modern, seperti blender. Untuk menghaluskan bumbu kita masih gunakan cara manual yakni ditumbuk. Sehingga itu yang membedakan rasa rabeg di sini dengan rabeg pada umumnya,” kata Sumiati, generasi kedua H Naswi, Senin (5/9).
“Kita sudah berjualan rabeg sejak tahun 80-an, saya generasi kedua dan saat ini sudah diteruskan oleh anak saya. Sebelumnya memang belum buka rumah makan seperti ini, kita baru berjualan di Pasar Lama (Kota Serang), dan alhamdulillah dari jualan di sana kita bisa berjualan di sini,” ujarnya.
Menurutnya, rabeg biasa dicari para wisatawan yang berkunjung ke Banten khususnya di Kota Serang. “Biasanya wisatawan mencari rabeg saat berjalan-jalan di sini. Selain para wisatawan, kita juga biasa mendapatkan pesanan dari Kapolda untuk oleh-oleh atau menu sajian acara mereka,” ungkapnya.
Kuliner rabeg khas Banten H Naswi tersebut memang sudah terkenal dan sudah sering diliput oleh berbagai stasiun televisi swasta nasional.
“Kami sering diundang untuk show di acara TV, alhamdulillah dari semua penjual rabeg kita yang dipilih,” ucapnya.
Selain rabeg, rumah makan H Naswi juga menyajikan menu sop, soto, nasi uduk, nasi timbel, ayam goreng dan ayam bakar yang dibanderol dengan harga berkisar Rp17 ribu sampai Rp20 ribu.
Ia berharap dengan diteruskannya usaha rabeg, dapat melestarikan makanan khas Banten yang dapat membuat masyarakat Banten bangga akan kuliner khasnya. (Wirda)








