Sarjana diminta kembali ke desa. Menggali potensinya. Lalu menciptakan lapangan kerja. Pesan itu disampaikan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto dalam orasi ilmiah di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Sabtu (8/8).
Pesannya bagus. Memang bukan hal baru. Namun, tetap penting diulang. Desa tidak boleh terus-menerus ditinggalkan orang-orang terdidiknya. Tinggal satu pertanyaan: ketika kembali ke desa, apa yang mereka bawa selain ijazah? Empat tahun kuliah belum tentu membuat seseorang mampu membaca peluang. Ia mungkin pandai membuat makalah tentang pemberdayaan masyarakat, tetapi belum pernah menjual satu produk. Bisa menjelaskan teori kewirausahaan, tetapi bingung ketika dagangannya tidak laku.
Jadi, yang harus disiapkan bukan hanya desanya. Sarjananya juga. Menjadi sarjana sekarang memang harus banyak siapnya. Tidak langsung mendapat pekerjaan, harus siap. Sudah mengirim lamaran ke banyak tempat, tetapi tidak ada jawaban. Itu juga harus siap. Apalagi kalau sudah diwawancarai. Perasaan saat pulang sudah cukup yakin akan diterima. Ternyata, telepon yang ditunggu tidak pernah datang. Lebih tidak enak lagi ketika teman yang baru dua kali melamar langsung bekerja. Ia sendiri sudah lupa berapa banyak surat lamaran yang dikirim.
Kalau akhirnya diterima bekerja, persoalannya belum selesai. Pekerjaannya mungkin tidak sesuai dengan ilmu yang dipelajari. Gajinya juga belum seperti yang dibayangkan. Teman-teman kerjanya punya watak yang beragam. Atasannya belum tentu menyenangkan.
Ia harus beradaptasi. Mau berkompetisi. Tidak gampang tersinggung ketika dikoreksi. Bersedia belajar lagi dari awal. Dan, tentu saja, harus siap capek.
Dunia kerja juga tidak lama bertanya dari kampus mana seseorang berasal. Setelah itu, yang dilihat adalah pekerjaannya. Ijazah mungkin membantunya masuk. Kinerja menentukan apakah ia layak dipertahankan. Gaji tentu harus layak. Namun, lulusan baru juga perlu jujur menilai kemampuannya. Tidak mungkin perusahaan membayar mahal hanya karena gelarnya panjang.
Lalu bagaimana jika pekerjaan tidak juga didapat? Tidak sedikit sarjana kembali ke desa karena terpaksa. Mereka pulang karena tidak berhasil mendapat pekerjaan di kota. Tidak apa-apa. Sesuatu yang dimulai karena terpaksa tidak selalu berakhir sia-sia. Usaha yang lahir karena keadaan mendesak pun bisa tumbuh dan berhasil. Ada juga yang ceritanya berbeda. Sudah bekerja di kota. Karirnya lumayan. Penghasilannya cukup. Namun, ia justru ingin pulang. Ada orangtua yang perlu ditemani. Ada tanah keluarga yang belum dimanfaatkan. Bisa juga karena mulai jenuh dengan kemacetan dan kehidupan kota.
Ia pulang membawa pengalaman, jaringan, tabungan, dan cara pandang baru. Kota telah membesarkannya. Desa kemudian memanggilnya pulang.
Di situlah kesiapan berikutnya diuji. Menciptakan pekerjaan sendiri. Setidaknya bisa menciptakan aktivitas dan penghasilan untuk dirinya sendiri. Membuat sesuatu. Menjual sesuatu. Menawarkan jasa.
Berusaha di desa tidak seindah kalimat dalam pidato wisuda. Pasarnya tidak selalu besar. Daya beli masyarakatnya mungkin tidak seperti lingkungan tempatnya kuliah dulu. Di kota, sebuah kedai bisa dikelilingi ribuan mahasiswa. Di desa, pembelinya mungkin orang-orang yang sama setiap hari. Dagangan bisa tidak laku. Keuntungan belum terlihat. Sementara kebutuhan tidak mau menunggu.
Mentalnya ikut diuji. Apakah ia bersedia memulai dari bawah? Tahan dianggap belum berhasil? Tetap percaya diri ketika temannya bekerja di gedung tinggi, sedangkan ia masih menawarkan produk dari rumah ke rumah?
Banyak sarjana yang kembali ke desa juga tidak membuka usaha asal-asalan. Warung dibuat bagus. Kedai ditata menarik. Produknya diberi merek. Kemasannya rapi. Promosinya masuk media sosial.
Sayangnya, tampilan bagus kadang menimbulkan penilaian terlalu cepat.
Bagi daerah yang sedang giat mencari pendapatan, usaha yang terlihat bagus bisa dianggap sudah menghasilkan banyak uang. Retribusi pun datang. Padahal pembelinya belum tentu ramai. Modalnya mungkin masih pinjaman. Kursi-kursinya bahkan belum lunas.
Retribusi tentu bukan sesuatu yang haram. Pelaku usaha juga tidak boleh hanya mau mencari untung, tetapi menghindari kewajiban. Hanya saja, usaha yang baru tumbuh jangan buru-buru dibebani. Beri kesempatan bernapas. Biarkan kuat lebih dulu.
Di sinilah pemerintah perlu hadir kalau benar-benar ingin desa maju dan sarjana kembali ke desa. Jangan hanya datang menagih kewajiban. Bantu perizinannya. Beri pendampingan. Bukakan akses modal, jaringan, dan pasar.
Jangan sampai sarjana diminta pulang untuk membangun desa. Begitu benar-benar pulang dan membuka usaha, pemerintah menjadi orang pertama yang datang membawa daftar pungutan. Kampus juga harus membekali. Pemerintah membuka jalan. Desa memberi ruang.
Kalau semuanya dibebankan kepada sarjana, ajakan membangun desa akan selesai bersamaan dengan berakhirnya pidato wisuda. Mereka pulang membawa ijazah. Tapi masih belum tahu harus mengerjakan apa. (*)

