SERANG – Anak jalanan yang menjadi pengamen dan pengemis mulai banyak di Kota Serang. Kondisi tersebut menuai tanggapan dari masyarakat setempat. Hal itu karena hampir 78 persen pengamen itu masih usia belia. Misalnya pada anak jalanan yang biasa mangkal di sepanjang jalan protokol dan lampu merah di Kota Serang. Keberadaannya dinilai menyiratkan Pemerintah Kota Serang yang tidak mampu membina dan mengatasi persoalan sosial yang kerap terjadi.
Beberapa hari ini, bermunculan pengamen yang menggunakan boneka besar di setiap lampu merah di Kota Serang, pengamen itu menggoyangkan boneka yang dipakai sambil mengencangkan musik dangdut. Keberadaannya memang tidak terlalu menganggu, yang membuat prihatin adalah pelakunya masih tergolong anak-anak. Padahal semestinya mereka bersekolah dan bermain bersama teman-temannya.
Seorang pengguna jalan, Rahman yang sedang melintas merasa iba terhadap anak-anak yang menjadi pengamen. Menurutnya, sedikit demi sedikit masa depan anak-anak itu akan hilang karena tidak bergelut dalam dunia pendidikan sehingga harus benar-benar disikapi oleh pemerintah setempat.
“Di Kota Serang mulai ramai lagi, sekarang jumlah pengamen makin banyak saja, di mana-mana pasti ada pengamen, saya merasa terganggu meski di lain sisi saya iba,” katanya, Jumat (30/9).
Menanggapi persoalan itu, Ketua Umum Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Serang, Abdul Rojak mengatakan, banyaknya anak jalanan harus segera dilakukan upaya oleh pemerintah. Menurutnya, hal itu agar tidak menganggu para pengguna jalan sebab tidak sedikit anak jalanan yang beralih menjadi penjambret akibat tidak adanya pembinaan.
“Kalau tidak segera direhabilitasi Dinsos, mereka akan semakin banyak. Dan semestinya mereka bisa mengenyam pendidikan dan sebagainya,” ucapnya.
Sebelumnya, pihak Dinas Sosial Kota Serang enggan bertanggung jawab atas meningkatnya pengamen dan pengemis yang mangkal di setiap lampu merah di Kota Serang. Hal itu disebabkan karena tidak adanya program rehabilitasi bagi pengemis dan pengamen.
Kepala Seksi Rehabilitasi Tuna Sosial (RTS) pada Dinsos Kota Serang, Heli Priatna membenarkan jika pihaknya tidak dapat berbuat banyak terhadap para pengemis dan pengamen. Menurutnya, untuk tahun ini program rehabilitasi bagi para pengemis tidak ada sehingga pihaknya merasa kesulitan jika harus menangani para pengamen tersebut.
“Kalau pun kami rehabilitasi, sebenarnya bisa saja. Namun, kita juga harus mempertimbangkan, dari mana biaya untuk makan dan minum para pengemis tersebut sedangkan di Dinsos sendiri sudah tidak ada anggaran untuk program rehabilitasi,” katanya belum lama ini. (AdeF)









