Puluhan tahun lalu, Fitri Sukawati tidak pernah menyangka jika apa yang digelutinya bakal maju dan berkembang seperti sekarang ini. Pada saat itu, yang terbayang di dalam pikirannya adalah bagaimana dirinya bisa ikut andil mengobati orangtua suaminya yang sedang sakit.
Pada tahun 1995, Fitri tergerak untuk bisa mendapatkan penghasilan sendiri. Mengingat suaminya hanya seorang karyawan swasta yang tidak mempunyai gaji terlalu besar, kebutuhan hidup yang tinggi, dan ditambah keinginannya untuk turut andil dalam mengobati kesembuhan sakit yang diderita mertuanya.
Mulai dari jualan uduk dan telur ayam keliling, sampai berjualan ikan bandeng presto ia lakoni. “Awalnya, saya jualan uduk keliling dari satu rumah ke rumah lainnya. Satu bulan jualan, saya langsung sakit. Akhirnya saya istirahat. Tapi saya penasaran untuk bisa mempunyai penghasilan sendiri. Setelah sehat, saya berpikir usaha apa lagi. Akhirnya saya jualan telur ayam,” cerita Fitri Sukawati kepada Radar Banten, Jumat (18/11).
Jualan uduk keliling belum beruntung, maka Fitri pun mencoba peruntungan lainnya. Ia mencoba usaha jual telur ayam. Setiap ada yang pesan, ia langsung bungkus dan kirimkan ke rumah pemesan. Namun hal itu rupanya tidak berlangsung lama, sekira tiga atau empat bulan, ia kapok untuk melanjutkan jualan telur ayamnya. Hal itu terjadi lantaran ia pernah mengalami telur ayam yang ia beli pecah semua.
Gagal dalam usaha uduk dan telur keliling, Fitri kembali mencoba peruntungan lainnya. Saat itu, ia memilih untuk usaha bandeng presto dengan resep sendiri. “Yang membuat saya pantang menyerah dalam berwirausaha adalah tekad saya yang ingin membantu perekonomian keluarga. Jadi, ketika saya gagal saat jualan uduk dan telur ayam, bukan berarti saya harus mundur. Sebaliknya, saya harus terus berusaha dan berpikir keras apa yang akan saya jual untuk bisa memperoleh penghasilan,” ujar Fitri.
Ketika akan menjual bandeng presto, Fitri benar-benar melakukan perhitungan dengan matang. Ia tidak langsung memasaknya. Agar bisa mendapatkan respons yang baik, ia melakukan sejumlah eksperimen agar bandeng presto yang dihasilkan benar-benar diminati oleh konsumen.
Satu hari, dua hari, satu pekan, dua pekan bahkan sampai satu bulan lamanya, ia membuat eksperiman terhadap resep bandeng presto yang pas untuk konsumen. Sekira satu bulan, eksperimen selesai. Ia pun langsung membuat bandeng presto sebanyak tiga kilogram. Hasilnya, lumayan laris. Fitri kembali bersemangat. Dari waktu ke waktu, bandeng presto buatannya mulai diakui dan cocok dengan lidah pembeli.
Sampai pada satu waktu, Fitri terpikir untuk membuat menu ayam tulang lunak. Menurutnya, kala itu di Banten belum ada. “Saya kemudian mencoba melakukan eksperimen lagi untuk membuat resep atau bumbu membuat daging ayam tulang lunak. Setelah dirasa cukup eksperimennya, akhirnya saya buat. Alhamdulillah, daging ayam tulang lunak buatan saya direspons dengan baik oleh konsumen,” tutur ibu tiga anak ini.
Lambat laun namun pasti, usaha yang dijalaninya terus mengalami kemajuan. Dari yang tadinya tidak punya cabang, kini usahanya sudah mempunyai enam cabang. Keenam cabang itu berlokasi dua di Cilegon, dua di Serang, dan dua di Tangerang. Sampai pada satu ketika, ia mendapatkan order pemesanan nasi kotak dengan lauk ayam tulang lunak dari PT Garuda Indonesia sebanyak lima ribu kotak.
“Saya sendiri tidak pernah menyangka akan mendapatkan order sebanyak itu. Begitu juga dengan perkembangan usaha saya seperti sekarang ini. Karena semua yang saya jalani dilakukan secara outodidak,” tutupnya. (KHOIRUL UMAM)









