MENJALANI hidup dengan kondisi sempurna tentu menjadi keinginan semua orang, baik kesempurnaan secara fisik dengan segala fungsinya dan kesempurnaan hidup dalam rumah tangga. Namun, apa mau dikata, kehendak Tuhan sebagai Sang Pencipta, kadang tidak mampu diterima akal manusia. Ketidaksempurnaan hidup harus diterima Somat (32), bukan nama sebenarnya. Somat yang memiliki gangguan pendengaran (tunarungu) harus menerima kenyataan dengan lapang dada bahwa Iis (28), bukan nama sebenarnya, janda beranak satu ini harus kembali ke pangkuan mantan suaminya.
Kebahagiaan dalam bahtera rumah tangga yang Somat jalani dengan Iis harus kandas karena munculnya mantan suami Iis yang ingin mengajak rujuk dan hidup sebagai keluarga seperti tiga tahun lalu. Sebelum resmi dinikahi, Somat mengaku sudah mengetahui bahwa Iis sudah menjadi janda satu tahun sebelum ia pinang.
“Iya, memang Iis juga cerita kalau ia sudah diceraikan secara lisan oleh mantan suaminya sejak sebelas bulan lalu sebelum kami bertemu,” katanya.
Perangainya yang baik, menjadi salah satu alasan Somat tidak pikir panjang untuk menikahi janda satu anak ini. Selain tidak tahan melajang selama 30 tahun, Somat berpikir tidak mudah mencari teman hidup yang menerima dirinya apa adanya. Karena ia mengaku sudah mengalami gangguan pendengaran sejak usianya sepuluh tahun.
Soal perceraian, Somat pun mengaku tidak paham betul karena tidak mengenyam pendidikan sejak sekolah dasar. Yang ia tahu, jika sudah ada kata cerai ya berarti bisa dinikahi orang lain.
“Namanya orang enggak sekolah kan mana ngerti soal begituan. Saya tahunya kalau sudah ada kata cerai ya sudah pisah. Toh dia (Iis-red) pun bersedia kok saya nikahi, jadi ya langsung iktikad deh buat menikah,” terang penyuplai opak di Pasar Tradisional Baros, Ciomas, dan Pandeglang yang berdomisili di Pandeglang ini.
Singkat cerita, tanpa menghiraukan status perceraian Iis, Somat pun bermaksud menikahi Iis. Ia yakin dengan sikap Iis pada dirinya yang seolah memberi sinyal bersedia. Somat pun siap menanggung risiko atas pernikahannya. Hubungan Somat dengan Aria (5), bukan nama sebenarnya, anak pertama dari pernikahan Iis yang pertama pun terbilang baik dan cepat akrab.
Setelah satu bulan menjalani pendekatan keduanya pun resmi menikah. Hari-hari setelah menikah dirasa bahagia oleh Somat karena ia merasakan sensasi berbeda ketika melepas keperjakaan, ya meskipun Iis seorang janda dan lebih dulu punya pengalaman itu bukan soal.
“Pacaran aja saya enggak pernah, pasti ngerasain sensasi berbeda. Awalnya emang canggung tetapi lama-kelamaan biasa hehe,” aku Somat sambil senyum-senyum mengingat aksi setelah melepas lajang.
Tiga bulan setelah menikah, Iis tidak lagi hanya menjadi pembuat opak, tetapi juga ikut membantu menemani Somat menyuplai opak ke para penjual di pasar-pasar tradisional sekitar Pandeglang sampai Padarincang. Dengan mengendarai motor matik keluaran 2014 milik Iis, menjadi saksi dari perjalanan sepikul sepenanggungan yang menjadi warna dalam rumah tangga Somat dan Iis.
“Saya sangat bersyukur, karena memiliki istri yang terima saya apa adanya dan juga mau membantu sama-sama mencari penghasilan,” katanya.
Namun, siapa sangka, setahun berlalu, hidup bersama harus diganggu dengan kehadiran mantan suami Iis yang ingin mengajak rujuk. Mantan suaminya itu berdalih kalau Iis masih menjadi istrinya karena tidak ada surat perceraian yang sah.
Somat yang tidak paham soal perkara perceraian pun kebingungan untuk menangani masalah dari mantan suami sang istrinya itu. “Ya saya enggak nyangkalah Kang, kok tiba-tiba mantan suaminya itu ngaku-ngaku masih jadi suami Iis yang sah. Bingung, soalnya saya tidak paham soal masalah begituan,” terangnya sambil menggaruk kepala dengan tangan kanannya.
Karena tidak paham soal perceraian, Somat akhirnya meminta tolong kepada saudara untuk mengurus masalahnya. Namun, Somat mengalami kebuntuan karena memang tidak ada surat perceraian yang sah antara Iis dan mantan suaminya.
Diceritakan Somat, Iis pun merasa bersalah dan bingung karena sama-sama tidak paham soal perceraian. “Ya karena sama-sama enggak ngerti ya kita kebingungan gimana mengatasi masalah ini,” katanya.
Mantan suami Iis yang tidak terima dengan pernikahan Somat dan mantan istrinya itu semakin hari semakin menjadi dan mulai mengancam Iis. Jika tidak menceraikan Somat dan rujuk dengannya, akan merusak rumah tangga Somat dengan Iis sampai berantakan dan akan mengambil anaknya dengan cara paksa.
Karena khawatir keselamatan Iis dan anak tirinya, Somat pun akhirnya memutuskan tidak tinggal satu rumah dengan Iis sampai waktu aman dari ancaman mantan suami Iis. Namun, berkat bantuan dari kerabat, setelah tidak satu rumah selama tiga bulan, Somat dan Iis akhirnya kembali hidup bersama tanpa ada gangguan dari mantan suami Iis lagi.
“Iya alhamdulillah, masalahnya bisa selesai. dan mantan suaminya itu bisa menerima keputusannya bahwa Iis telah sah bercerai dengannya dan sudah sah jadi istri saya,” pungkasnya.
Oh gitu Kang. Ada baiknya lain kali kalau mau kawin, pelajari dulu bibit, bebet, bobot, dan hukum menikah. Jangan asal samber aja, hehe. (Wivy-Zetizen/Radar Banten)








