SELEPAS dari mantan suaminya, Parno (27), yang temperamental dan doyan selingkuh, tak lantas membuat Lastri (25) merasa bebas dan lega, keduanya nama samaran. Sebulan pasca perceraiannya dengan Parno, Lastri memang mendapatkan penggantinya. Namun, kisah asmara Lastri yang kedua, bak peribahasa sudah jatuh tertimpa tangga. Lagi-lagi Lastri mendapatkan suami yang tidak lebih baik dari Parno.
Memang pria pilihan Lastri kali ini, sebut saja Dakro (32) tidak main susuk (cara magis untuk mendapatkan hati seseorang), tapi perilakunya yang suka jajan, membuat hati janda dua anak ini terlunta-lunta. Untuk kali kedua, Lastri tak merasakan kebahagiaan dalam membangun mahligai rumah tangga. Sifat Dakro juga temperamental, layaknya mantan suami.
“Sepertinya saya jatuh ke lubang yang sama deh,” akunya. Loh, kok bisa begitu?
Ya, Lastri semenjak meninggalkan suami pertamanya terpacu untuk menerima lamaran Dakro karena dinilainya lebih mapan. Dakro memang lebih mapan ketimbang mantan suaminya, tetapi kemapanan Dakro justru memberikannya peluang besar untuk berbuat nakal terhadap semua kaum perempuan. Dakro memang tidak melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), tetapi begitu enjoy dengan status playboy cap hidung belangnya. Namun, Lastri masih bertahan karena malu terhadap keluarga. Terlebih, tetangga ketika mengetahui kalau usia perkawinannya keduanya, hanya seumur jagung.
Lantaran itu demi menjaga nama baik, perempuan berwajah manis dan berkulit putih ini akhirnya memilih bertahan, meski harus menerima kenyataan kalau suaminya yang terang-terangan suka jajan. Lain dengan Parno, lain pula hidup dengan Dakro. Diakui Lastri, hidup bersama Dakro justru bukan serasa hidup di penjara, melainkan terlalu bebas dan tidak banyak aturan.
Sikap Dakro yang supercuek dan berbuat semaunya, malah membingungkan Lastri, meski tidak pernah berbuat kasar. Dua bulan sudah berumah tangga dengan Dakro, jangankan yang benar, yang bohong saja dibenarkan. “Suami sekarang tuh terlalu jujur malah. Cuman menyakitkan,” keluhnya.
Gelagat belangnya terhadap perempuan, selalu diumbar-umbar, baik ke tetangga, keluarga, terlebih rekan-rekannya di kantor. Situasi itu tak jarang membuat Lastri merasa dilecehkan suami. Diceritakan Lastri, memang tidak semua negatif hidup dengan Dakro. Terbukti, Dakro dengan pekerjaan lapangannya, yakni sebagai tenaga kontraktor, tak pernah mengabaikan kewajibannya sebagai seorang suami. Nafkah yang diberikan Dakro, malah dinilai Lastri lebih dari cukup.
Wajah Dakro juga terbilang rupawan selain tubuhnya yang lumayan atletis. Kondisi keuangan rumah tangga Lastri yang berkecukupan, belum lagi difasilitasi rumah meski warisan orangtua, membuat Lastri meninggalkan pekerjaannya sebagai pedagang pakaian di pasar.
“Sekali lagi, kalau enggak lihat anak, terus kalau enggak tahu malu dan mau menjatuhkan nama baik saya dan keluarga, mungkin sekarang sudah janda kedua kalinya,” kesalnya.
Sebetulnya, wanita bergigi kawat itu, sudah tak tahan dengan perilaku Dakro yang selengean. Seolah tak peduli bahwa tingkahnya itu bisa berujung perceraian. Perempuan berwajah manis dan berkulit putih ini sempat mengancam, dengan mengajak pisah ranjang. Bukannya takut, Dakro malah menantang. Jawabannya, “Silakan saja, kalau kamu mau hidup terus sama saya, harus terima konsekuensinya. Saya memang begini adanya, yang penting enggak lalai dalam hal tanggung jawab.” Pernyataan Dakro itu pun, dirasa Lastri ada benarnya. Lastri malah sempat berpikir, cukup beruntung dengan statusnya janda anak dua, mampu mendapatkan lelaki berstatus bujangan nan mapan.
“Ada benarnya juga sih. Padahal, dia juga bebasin saya. Cuma saya pengin rumah tangga yang normal, bukan kayak begini,” ujarnya bertanya-tanya. Terus mau Mbak sekarang apa?
“Ya, sementara coba nikmati saja dulu. Daripada suami pertama kerjanya menyiksa,” terang Lastri.
Diungkapkan Lastri, pertemuannya dengan Dakro terbilang singkat. Dakro langsung jatuh cinta pada Lastri sejak pandangan pertama. Maklum, penampilan Lastri memang cukup menggoda. Selain cantik, bodinya yang tinggi ideal, serta semok semakin menambah daya tarik tersendiri. Apalagi, yang memandangnya adalah Dakro yang memang lelaki mata keranjang. Bak kucing melihat ikan tongkol, tak perlu buang waktu untuk menyantapnya.
Begitu pula sikap Dakro dengan tatapannya yang nakal ketika melihat Lastri untuk pertama kali. Tak butuh lama untuk Dakro mengungkapkan isi hatinya. Seperti anak kecil yang menang lotre, Lastri yang melihat tampilan Dakro yang perlente didukung statusnya yang bujangan, dilengkapi tunggangan kuda besi roda empat, membuat Lastri tak bisa menolak ajakan Dakro.
Meski berstatus istri siri, wanita berambut panjang ini pun rela, tanpa mencurigai tabiat Dakro sesungguhnya yang terkesan terburu-buru. Seolah keseriusannya itu didorong hawa nafsu yang sudah tak bisa menahan lagi libidonya.
“Saya juga enggak mengerti. Baru juga ketemu, terus Kang Dakro mengajak serius. Saya juga mau, bego juga. Padahal, saya belum tahu persis asal-usulnya,” jelasnya. Makanya Teh, don’t judge a book by it’s cover alias jangan melihat buku dari sampulnya. Ya begitu deh..
Singkat cerita, mereka pun menikah siri sepekan kemudian. Seperti semut ketika melihat gula, mata Dakro langsung terbelalak ketika memandangi tubuh Lastri yang memang mulus. Air liurnya keluar dan lidahnya terus dimainkan, ketika berada di ranjang pada saat malam pertama. Malam itu, tampaknya menjadi awal dan puncak kebahagiaan Lastri. Dia awalnya merasa beruntung karena sudah mendapat laki-laki yang mau bertanggung jawab untuk menghidupi anak-anaknya.
Namun, lama-lama Lastri mulai merasa janggal dengan sikap Dakro. Keesokan harinya setelah malam pertama, tiba-tiba saja Dakro mengajak Lastri membangun komitmen. Sayangnya, komitmen yang ditawarkan Dakro kepada Lastri tak biasa. Yakni, Dakro meminta kebebasan berumah tangga dan tidak banyak aturan. Begitu pula sebaliknya, ketika Lastri mau dilayani lelaki lain, Dakro tidak akan mempersoalkan.
“Pokoknya, enggak biasa deh keinginan Kang Dakro. Masa, dia rela saya diemek-emek sama cowok lain?” ujarnya kebingungan. Memang Teteh juga kuat lihat Kang Dakro main sama perempuan lain? “Nah itu dia. Aneh kan. Saya juga bingung sama jalan pikiran Kang Dakro,” tukasnya.
Namun, Dakro malah menantang Lastri dengan mengaku secara terang-terangan kalau dia dalam seminggu bisa dua kali melakukan hubungan intim dengan perempuan lain. Mendengar hal itu, hati Lastri sakit dan lebih dari hati Lastri yang dulu ditusuk-tusuk oleh mantan suaminya. Menyadari pernyataan sang suami yang terbilang mengkhawatirkan, akhirnya Lastri mulai belajar menerima komitmen itu. Semua itu demi kepentingan Lastri dan anak-anaknya yang mulai memasuki usia sekolah, serta menjaga nama baik keluarga.
Yang pasti, suami keduanya sudah sesuai kriteria Lastri, yakni sosoknya romantis dan bisa memperlakukan lembut setiap berhubungan. Meski pun buaya kakap, Dakro ke anak-anak sayang. “Sekarang saya jalani saja. Kisah saya ini ibarat lepas dari buaya dapatnya biawak. Biar saja dia begitu. Yang penting tanggung jawab sama anak. Nanti juga ada sadarnya. Doakan saja,” harap Lastri. Amin, sabar ya Mbak. Ya salam. (Nizar S/Radar Banten)








