SERANG – Diki Sukmawan hilang di Sungai Cibeureum pada Minggu (14/5) dini hari. Pemuda ini menyeberangi sungai. Korban menghindari kejaran sekelompok pemuda yang tidak terima dengan aksi ugal-ugalan korban di jalanan.
Diki Sukmawan diyakini tenggelam. Korban gagal menyeberangi sungai yang melintas di Kampung Parigi, Desa Nanggung, Kecamatan Kopo, Kabupaten Serang itu pada sekira pukul 02.00 WIB. Sampai tadi malam, pencarian korban masih dilakukan Tim SAR.
Sekretaris Kecamatan Kopo Tenda Subekti membenarkan musibah yang dialami seorang pemuda asal Kampung Mulih, Desa Mekarsari, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak itu. Sebelumnya, Diki Sukmawan terlibat perselisihan dengan pemuda di dekat lokasi kejadian.
“Kabarnya sih karena kenakalan remaja. Nama korban Diki Sukmawan, orang Rangkas (menyebut Rangkasbitung-red),” tegas Tenda saat dikonfirmasi Radar Banten melalui sambungan telepon seluler.
Kenakalan remaja yang dimaksud Tenda, ditengarai karena ulah korban. Diki Sukmawan dan seorang temannya melaju kencang ketika mengendarai sepeda motor. Perilaku ini memicu kekesalan sekelompok pemuda lain. Diki Sukmawan dan temannya lalu ditegur dan dikejar oleh sekelompok pemuda.
Diki Sukmawan dan temannya berlari ke arah Sungai Cibeureum yang lebarnya sekira 20 meter. Kedua pemuda ini nekat menyeberanginya menggunakan pelepah pisang.
Informasi dari warga, Diki Sukmawan meninggalkan sepeda motor yang dikendarainya di tepi sungai. Sementara, warga lain mengatakan bahwa korban tidak mengendarai sepeda motor sebelum menyeberangi Sungai Cibeureum.
“Satunya (teman Diki Sukmawan-red) nyampai ke seberang, sementara korban hilang. Dugaan sementara, terbawa arus kali,” ujar Tenda.
Tenda langsung menghubungi petugas Badan Pananggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Serang. “Sampai sekarang (tadi malam-red), korban belum ditemukan,” jelasnya.
Petugas SAR pada BPBD Kabupaten Serang Jhoni Ewangga membenarkan musibah yang dialami Diki Sukmawan di Sungai Cibeureum. “Korban belum ditemukan. Kami masih melakukan pencarian dengan muspika dan warga setempat. Untuk kronologisnya, kami belum tahu pasti, masih pengumpulan data,” katanya melalui telepon seluler. (Nizar S/Radar Banten)
