BUKAN perkara mudah bagi Dikin (38), nama samaran, menjalani bahtera rumah tangga bersama Yuni (32), bukan nama sebenarnya. Soalnya, Yuni yang memang berasal dari keluarga berada, menuntut banyak hal kepada Dikin yang hanya berprofesi sebagai guru mengaji.
Awalnya banyak yang bilang bahwa Yuni dan Dikin adalah pasangan serasi. Namun, setelah berjalan dua tahun hidup berumah tangga, Yuni mulai menunjukkan sikap aslinya. Berani membangkang dan matrealistis. Walau begitu, penampilan Yuni yang glamor lengkap dengan molek tubuhnya yang seksi, toh ampuh juga membuat Dikin bersabar mempertahankan cintanya.
Diungkapkan Yuni, lelaki berjanggut tipis itu merasa bangga punya istri secantik dirinya. Banyak teman-teman Yuni yang bilang, Dikin termasuk lelaki yang beruntung bisa beristrikan wanita secantik dia. “Iyalah, siapa coba yang enggak mau sama primadona desa kayak saya!”
Huuuuh, memang dasar si tetehnya saja yang kepedean! “Ich enggaklah. Orang waktu masih perawan saja saya mah diperebutin banyak lelaki!” akunya. Terus kenapa milih sama Kang Dikin, Teh? “Ya, walaupun kere, tapi saya akui di antara sekian puluh lelaki yang datang, dia itu lebih ganteng, mukanya baby face, pintar ngaji lagi,” ungkapnya saat diwawancara.
Sadar akan desakan ekonomi, membuat Dikin bekerja keras untuk mencukupi kehidupan rumah tangganya, sekaligus mewujudkan cita-cita mulia, yaitu membahagiakan istri tercinta. Dengan bermodalkan pinjaman uang dari orangtua Yuni, Dikin memulai usaha berjualan sembako di pasar. Tak disangka, usahanya itu maju pesat. Selain karena rezeki yang diberikan Allah swt, wajah Dikin yang sejuk dan imut membuat ibu-ibu dan para pembeli lainnya betah berlama-lama di warung Dikin.
Yuni yang mengetahui hal itu, sempat dibuat resah oleh tingkah laku para ibu-ibu pasar yang suka genit sama suaminya. Itulah Yuni meski suka marah-marah, kalau sudah dijejali setumpuk uang hasil jualan oleh Dikin, pasti akan diam dan jinak lagi. Binatang kaleeee, jinak.
Dengan uang melimpah, Yuni semakin memanjakan diri dengan memborong baju-baju bagus dan peralatan make-up yang serbamahal. Tak tanggung-tanggung, baju satu lemari yang sudah penuh, diganti dengan baju-baju baru. Mengetahui hal itu, Dikin sebagai kepala keluarga geram. Ia pun mengingatkan istrinya agar jangan terlalu berlebihan membeli sesuatu. Namun, bukannya menurut, Yuni malah balik memarahi Dikin.
“Eh, jangan sok-sokan ngatur saya. Toh, ini juga awalnya uang orangtua saya. Jadi, terserah saya mau beli baju kek, beli kolor kek!” katanya.
Karena Dikin masih tinggal satu rumah bersama keluarga mertua. Bibi dan anggota keluarga lainnya yang melihat kejadian ini sudah berkali-kali mengingatkan agar Yuni jangan melawan kepada suami. Namun itulah Yuni, masuk kuping kiri, keluar kuping kanan. Hari ini bilang iya, besoknya lupa lagi.
Waktu terus berjalan hingga Dikin dan Yuni memutuskan tinggal di rumah kontrakan. Satu tahun mengontrak, mereka dikaruniai seorang bayi, kebahagiaan itu amat dirasakan oleh Yuni. Ditambah lagi, cita-cita Yuni memiliki sebuah mobil dapat diwujudkan Dikin. Usaha warungnya dari hari ke hari semakin meningkat hingga mereka mempunyai lima karyawan.
Meski demikian, sifat membangkangnya tak juga hilang. Ibarat batu yang ditempa air, lama-kelamaan akan hancur juga. Dikin tak tahan dengan sifat istrinya yang tak pernah mau berubah. Ditambah lagi, banyak orang-orang dekatnya yang menyarankan agar ia segera bercerai. “Sudah, istri kayak begitu mah jangan dipertahanin! Makan hati!” bisik seorang kawan.
Gayung pun bersambut. Sepulang dari pengajian malam Jumat, seorang jamaah menawarkan anaknya kepada Dikin untuk dinikahi. Status sosial Dikin yang terkenal baik dan juga mendapat gelar ustaz, membuat ia banyak mendapat simpati dari masyarakat. Hingga akhirnya, diam-diam Dikin menikah lagi tanpa sepengetahuan Yuni.
“Enggak tahu hari apa, waktu itu dia bilang mau pergi seharian. Dikira ada pengajian, ternyata malah nikah lagi,” cerita Yuni kepada wartawan Radar Banten di warung miliknya.
Dikin menikah dengan gadis perawan berusia 21 tahun. Tiga minggu menyimpan rahasia pernikahan, akhirnya ia pun memberitahu Yuni bahwa ia sudah punya istri muda. Keributan pun tak dapat dihindari, Yuni mengamuk sejadi-jadinya. Perabotan rumah seperti piring, gelas, guci dan sejenisnya habis ia banting. Sementara, Dikin tak bisa berbuat banyak, keputusannya sudah bulat untuk menceraikan Yuni dan hidup bahagia bersama istri barunya.
Rasa sakit hati yang mendalam dirasakan Yuni, ia tak menyangka suaminya yang pendiam, sabar, dan rajin ibadah itu ternyata bajingan. Diam-diam menerkam. “Menerkam mangsa yang lebih segar!” ketus Yuni.
Mereka pun bercerai. Dikin rela menyerahkan semua hartanya untuk Yuni. Warung sembako dan mobil, semua ia ikhlaskan untuk Yuni dan anaknya. “Saya juga enggak habis pikir, dia rela korban harta cuma karena istri muda!” kata Yuni.
Dikin kemudian bekerja menjadi karyawan toko waralaba di daerah Tangerang. Meski miskin, ia hidup bahagia bersama istri barunya. Yuni pun kini sudah mempunyai suami, lelaki duda yang berprofesi sebagai pengusaha. Ia mengaku hidup bahagia. Meski tak bisa marah-marah lagi seperti saat bersama Dikin, kini bersama suami barunya justru ia yang terkadang kena marah karena suaminya termasuk orang yang tempramental.
Makanya Teh, jadi istri tuh yang nurut sama suami. Ya sudahlah, mungkin ini pelajaran dan hikmah di balik kisah asmara Teh Yuni. Semoga Kang Dikin dan Teh Yuni hidup bahagia bersama pasangannya masing-masing! (Daru-Zetizen/Radar Banten)







