Dalam kitab suci Alquran, ada dua kata yang digunakan untuk makna puasa dari segi bahasa, yaitu shiyam dan shaum. Keduanya berasal dari akar kata yang sama, yaitu ‘menahan diri’.
Menahan diri tidak hanya makan dan minum saja, tetapi juga menahan semua organ tubuh, hati, dan pikiran manusia. Untuk apa? Tentu saja untuk memuasakan diri dari sikap dan perbuatan negatif, menjalankan semua perintah Allah swt dan menjauhi semua larangan-Nya, baik terkait akidah, ibadah maupun muamalah untuk mencapai ketakwaan. Takwa adalah istilah yang digunakan dalam Alquran untuk menggambarkan kuantitas dan kualitas berbagai macam kebaikan.
Tidak dikatakan bertakwa seseorang yang biasa melakukan salat, puasa Ramadan, zakat, berhaji, dan puasa atau salat sunah, tetapi masih makan riba, menelantarkan anak yatim, memutus silaturahmi dengan saudara atau sesama, sumpah palsu, koruptif, dan perilaku kesosialannya yang bertentangan dengan nilai-nilai agama Islam lainnya.
Dalam sebuah hadis Qudsi Allah swt berfirman dalam sebuah hadits qudsi, “Setiap amal anak Adam bagi dirinya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang menanggung pahalanya.” (HR Bukhari).
Akan tetapi, bukankah semua perbuatan (ibadah) anak Adam adalah untuk Allah? Ternyata tidak. Dalam hadis qudsi lain, Allah swt berfirman, “Setiap perbuatan anak Adam adalah untuk mereka, selain puasa maka puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya”.
Menurut Ibnu Abdil Barr, makna ungkapan puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya adalah bahwa ibadah puasa seseorang itu tidak terlihat melalui perkataan atau pun perbuatannya karena dia merupakan amalan hati yang tidak diketahui, kecuali oleh Allah swt. Puasa bukan sesuatu yang terlihat sehingga bisa ditulis oleh malaikat pencatat sebagaimana ibadah-ibadah lain seperti zikir, salat, sedekah, dan ibadah lainnya. Hal itu karena puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga saja tanpa adanya niat melakukannya karena Allah swt.
Dengan demikian, siapa yang tidak berniat menahan lapar dan dahaga karena Allah swt maka dia bukanlah orang yang berpuasa. Hal tersebut ditegaskan dalam hadis Nabi Muhammad saw, “Puasa haruslah dilakukan dengan penuh keimanan dan hanya mengharap balasan dari Allah swt.” Karena itu, seharusnya ibadah puasa kita adalah amalan yang paling jauh dari segala unsur ria dan pamer karena hanya Allah swt yang mengetahui puasa kita. Ini mendidik kita memurnikan keikhlasan hanya untuk Allah swt. Mudah-mudahan dengan puasa, derajat kita mendaki ke posisi kategori manusia-manusia bertakwa yang kelak dapat memasuki pintu Rayyan-Nya. Amin.(*)

