Ada pemandangan yang berbeda di jalanan ibukota Provinsi Banten beberapa hari ini. Pengemudi berjaket hijau yang identik dengan ojek online yang sudah booming di beberapa daerah besar di Indonesia kini sudah hadir di Kota Serang.
Masyarakat yang menjadi pengemudinya pun tak sedikit. Maklum saja, dengan ojek online ini, penghasilan pengemudi bisa setara dengan pekerja kantoran.
Epik (36), contohnya, yang datang membawa bungkusan berisi pesanan makanan ke Graha Pena Radar Banten, Kamis (13/7). Meskipun hari sudah petang, ia tetap bersemangat mencari pesanan untuk mencapai 20 poin sesuai target yang diinginkannya per hari.
Warga Kaligandu ini sebelumnya pernah bekerja di salah satu perusahaan leasing. Namun, ia berhenti dan mencoba ikut sebagai pengemudi ojek online sejak Senin (10/7). Informasi lowongan sebagai pengemudi pun didapatnya dari teman. Tanpa persyaratan yang sulit, ia pun diterima sebagai pengemudi ojek online.
Pendapatannya pun lumayan. Apabila rajin, ia bisa mengantongi Rp200 ribu per hari untuk dibawa pulang. “Itu bersih. Bensin dan makan di luar itu. Belum lagi dapat bonus kalau poin banyak,” ujar Epik, Kamis (13/7).
Modalnya untuk menjadi pengemudi hanya sepeda motor dan telepon seluler. Dulu, Epik juga pernah menjadi ojek pangkalan. Namun, hasil yang didapat tak seperti ojek online. “Kalau ini uang yang datang ke kami. Kalau ojek pangkalan, kami harus teriak-teriak nawarin ojek,” ungkapnya.
Setiap hari, ia bisa menerima pesanan sampai 20 orang. Biasanya ia keluar pukul 09.00 pagi dan pulang begitu poinnya mencapai angka 20. Namun, dari 20 pesanan itu, paling banyak adalah pesanan untuk mengantar. Rata-rata konsumennya adalah mahasiswa dan pelajar. Selain itu, ojek online juga dapat membelikan makanan sesuai pesanan konsumen.
Sebelum memesan ojek online, konsumen harus terlebih dahulu mengunduh aplikasi. Setelah itu, ada beberapa pilihan yang dapat dipilih konsumen mulai dari mengantar hingga membelikan makanan.
Untuk pembelian makanan, biaya akan ditalangi pengemudi ojek online terlebih dahulu. Kemudian konsumen nanti tinggal mengganti ditambah dengan biaya pengiriman.
Tidak seperti Epik yang menjadi pengemudi ojek online karena tidak ada pekerjaan, Heri (23) warga Kota Cilegon ini sengaja datang ke kantor ojek online di Lingkungan Kidang, Kota Serang, untuk mengikuti pelatihan sebagai pengemudi ojek online.
Sebenarnya ia sudah bekerja di salah satu perusahaan swasta meski tidak penuh waktu. “Makanya, saya cari tambahan dengan jadi driver ini,” tutur pria yang baru lulus kuliah ini.
Ia memilih menjadi pengemudi ojek online bukan pangkalan karena sistem dan hitungnya lebih jelas. Sementara, tarif ojek pangkalan tidak tentu.
Kata dia, tren ojek online ini dimanfaatkannya karena rata-rata masyarakat juga sudah malas naik angkutan kota. “Ya, saya ambil kesempatan ini, siapa tahu ada rejekinya,” tutur Heri.
Berbeda lagi cerita Dika Handoko (18). Ia sengaja menjadi pengemudi ojek online untuk mencari tambahan biaya kuliah. Ia menjadi pengemudi ojek online sejak ada di Kota Serang, Rabu (5/7) lalu.
Dalam sehari, Dika bisa mengantongi pendapatan bersih Rp100 ribu. Uang itu belum termasuk bonus apabila pengemudi rajin. Meskipun masih remaja, Dika tak malu harus menjadi pengemudi ojek online. “Kalau ojek, biasa tidak ada naungannya dan harganya tidak tentu. Konsumen juga lebih nyaman yang online ini,” ujarnya.
Selain bermodal sepeda motor dan gadget, setiap hari juga harus tersedia uang di saku celana khawatir ada pesanan makanan. Seperti saat kali pertama ia mendapat pesanan makanan piza yang harus diantar ke Kota Cilegon saat hujan deras. Lantaran memakan waktu yang lama, konsumennya hampir saja tidak mau membayar. “Tapi, saya rayu akhirnya mau. Ya, mana sudah basah-basahan, lama, dan jauh tahu-tahu tidak mau dibayar, kan sedih makanya saya rayu,” tutur Dika tersenyum.
Selain mendapatkan pendapatan untuk menambah biaya kuliahnya nanti, menjadi pengemudi ojek online diakuinya juga memberikan pengalaman tersendiri. “Pekerjaan apa pun kalau enjoy, enak saja dijalaninya,” tutur Dika. (Rostinah)











