TANGERANG – Keberadaan guru debus Didi masih misterius. Sejak peristiwa 14 warga Kecamatan Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang, melepuh karena gagal debus pada Jumat (24/11) malam, hingga kemarin Didi belum muncul.
Kapolsek Pakuhaji AKP Suyatno menyatakan akan terus mengusut kasus debus gagal yang terjadi di Desa Rawa Kopi, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, itu. “Kami akan mengusut tuntas kejadian ini walaupun para korban tidak berniat untuk melaporkan ke kepolisian,” katanya kepada Radar Banten, Senin (27/11).
Kata dia, pelaku akan dikenakan Pasal 360 KUHP dengan ancaman hukuman lima tahun. Langkah-langkah yang telah dilakukan antara lain melakukan penyegelan lokasi kejadian dan memberikan perawatan kepada para korban yang dibiayai oleh pihak Desa Rawa Kopi.
“Korban memang belajar debus atas kemauan masing-masing. Tanpa ada paksaan. Bahkan belajar debus tersebut sang guru (Didi-red) tidak menarifkan biaya,” jelasnya.
Sementara itu, dua korban dari tujuh korban melepuh yang dirawat di rumah sakit sudah diperbolehkan pulang karena kondisinya membaik. Keduanya adalah Ziban (39) dan Idra (40). Sedangkan lima korban yang masih dirawat di RS Mitra Husada, Sepatan Timur, yakni Irwan (22), Irwan Syahroni alias Ucok (35), Musim (21), Juadi (53), dan Muhamad Nurjaya (27).
Kelima korban tersebut kemarin divisum oleh anggota Polsek Pakuhaji. Sekira pukul 14.00 WIB, kelima korban dipindahkan ke RSUD Tangerang dengan didampingi petugas kepolisian. Tujuh korban lainnya, yakni Ari Gunawan (22), Habib Nopal (21), Dedi (39), Aput (20), Wahyu (20), Usut (19), dan Adi (22) dirawat di rumah karena lukanya terbilang ringan.
Kapolres Metro Tangerang Kombes Pol Harry Kurniawan kemarin mengunjungi para pasien di rumah sakit. Setelah itu, Kapolres mendatangi lokasi kejadian debus gagal di Desa Rawa Kopi, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang.
Korban bernama Irwan Syahroni menyatakan, sudah menjalani proses tahapan untuk mendapatkan ilmu kekebalan yang diajarkan Didi. Ia belajar untuk menjaga diri dari serangan penjahat atau begal motor. Kondisi tangannya yang melepuh mulai berangsur-angsur membaik.
“Alhamdulillah kondisi sudah membaik. Kulit-kulit yang melepuh telah kempes,” katanya.
Ia menceritakan, telah menjalani sembilan tahap proses uji kekebalan. Proses pembasuhan air keras pada Jumat (24/11) malam itu merupakan tes yang terakhir. “Jadi, musibah ini terjadi saat proses akhir. Sebelum melakukan terlebih dahulu melakukan zikir dan wirid, pertemuannya setiap malam Jumat,” tuturnya.
“Saya ini kerjanya di Manggadua, Jakarta Pusat. Pulang ke rumah di Kampung Bayur, Kabupaten Tangerang, dinihari. Makanya, untuk menjaga diri saya belajar ilmu tahan bacok alias kebal,” sambungnya.
Hal senada diungkapkan Musim. Ia menilai kejadian itu sebagai musibah belaka. Soalnya, latihan debus kepada Didi atas permintaan sendiri. “Kami tidak mau memproses kasus ini ke ranah hukum. Saya hanya minta kami dirawat sampai pulih,” jelasnya.
Ia belajar ilmu kebal untuk menjaga diri. Sebab, bekerja sebagai sopir mobil boks penuh risiko. “Kita bekerja di jalanan. Risiko kejahatan tinggi makanya saya ingin punya pegangan menjaga badan. Kebetulan ada teman yang mengajak dan memberitahu bisa mempelajarinya,” tambahnya
Atas kejadian itu, Musim tidak mau lagi untuk belajar ilmu kekebalan dan debus. Ia kapok dan tak mau melukai diri lagi. “Adanya peristiwa ini, saya kapok, Bang. Enggak mau lagi belajar-belajar ilmu kebal. Membahayakan badan, ini buktinya. Jadi sengsara semuanya,” tandasnya. (you/alt/ira/RBG)
