SERANG – Cakupan vaksinasi difteri yang dilaksanakan di lima kabupaten kota di Banten baru mencapai satu persen atau 30.982 orang. Jumlah itu dihitung dari jumlah vaksin yang diberikan Kementerian Kesehatan kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten sebanyak 3.050.998.
Kepala Seksi Surveilans Imunisasi dan Krisis Kesehatan Dinkes Banten drg Rostina mengatakan, hasil cakupan vaksinasi baru mencapai 1,02 persen. Dari tiga provinsi yang melakukan vaksinasi difteri, Banten memiliki cakupan paling banyak dibandingkan Jakarta dan Jawa Barat.
“DKI Jakarta 10.697 orang, Jawa Barat 23.108 orang, dan Banten 30.982 orang,” ujarnya kepada Radar Banten, Selasa (12/12).
Kata dia, dari lima wilayah Provinsi Banten yang melaksanakan vaksinasi, yakni Kabupaten Tangerang, Kabupaten Serang, Kota Tangerang, dan Kota Serang, pihaknya sudah mendistribusikan vaksin berdasarkan jumlah yang ditetapkan. “Kalau target kita sesuai dengan jumlah vaksin yang tersedia, jumlah yang tadi (3.050.998-red)” katanya.
Vaksinasi putaran pertama dimulai 11 Desember, antusias masyarakat mengalami peningkatan. “Ini jumlahnya terus bertambah. Kita terus pantau,” paparnya.
Disinggung kendala teknis di lapangan untuk petugas, perempuan yang akrab disapa Una itu mengaku, tidak mengalami kendala. Namun, ia mengaku, dana operasional untuk pelaksanaan vaksinasi difteri tidak ada.
“Kalau kendala teknis belum ada. Dana operasionalnya tidak ada. Jadi, dalam dua hari kita kerja tanpa dana. Padamu negeri,” katanya.
Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Banten Wahyu Santoso mengakui kekurangan anggaran. Namun, pihaknya meminta dukungan fasilitas kesehatan untuk melaksanakan vaksinasi difteri. “Kita ini tanpa biaya, namun vaksinasi tetap berjalan,” paparnya. Ia berharap, dengan perluasan informasi dari media massa akan membuka akses untuk masyarakat agar aktif melakukan imunisasi.
Kepala Dinkes Banten Sigit Wardojo mengatakan, telah melakukan koordinasi bersama dengan kabupaten kota untuk pemberian vaksin. Selain itu, petugas kesehatan menelusuri kasus di masing-masing desa dan kelurahan.
“Kita upayakan minimal satu desa menempatkan petugas,” paparnya.
Kata dia, vaksinasi difteri merupakan langkah penanganan langsung melalui pemberian vaksin pada usia 1-19 tahun. “Anak-anak langsung kita imunisasi untuk mengantisipasi korban,” tandasnya. (Fauzan D/RBG)












