SERANG – Menyikapi insiden-insiden dan isu-isu yang berkembang mengenai penyerangan ulama oleh oknum orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), Pemerintah Provinsi Banten berencana untuk bertemu dengan organisasi masyarakat (ormas) Islam yang ada di Provinsi Banten. Hal ini dilakukan untuk berkoordinasi dan menyamakan persepsi mengenai upaya preventif agar kejadian-kejadian tersebut tidak terjadi di Provinsi Banten.
Hal itu disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Banten Ranta Soeharta. “Rencananya nanti kita ketemui dengan ormas-ormas Islam di Banten, Pak Gubernur juga akan hadir. Tujuannya koordinasi dengan semuanya, termasuk mendata juga hal-hal yang ditemui di lapangan oleh ormas-ormas,” ujarnya, Jumat (23/2).
Ranta mengungkapkan, pertemuan ini dipandang perlu lantaran penanganan terhadap ODGJ yang biasa dengan yang ‘gila-gilaan’ itu tidak bisa disamakan. Namun, ia meminta kepada seluruh masyarakat untuk tidak panik, tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi informasi-informasi yang belum jelas kebenarannya.
“Dinas Sosial punya panti sebenarnya bisa jadi alternatif, tapi kalau gila beneran ya harus ke Rumah Sakit Jiwa, kan kita sedang proses untuk RSJ Provinsi, jangan sampai dia ngamuk-ngamuk enggak jelas yang membahayakan dirinya dan orang lain,” paparnya.
Terkait RSJ Provinsi Banten, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten Sigit Wardjojo menjelaskan bahwa tahun ini tengah dilakukan pematangan lahan dan pemagaran. Sementara pembangunan fisik dilakukan tahun 2019. Untuk tahun ini, dialokasikan sebanyak Rp 2 miliar dengan luas sekira 9,3 hektare.
“Kemarin sudah masuk ULP (unit layanan pengadaan-red) dan sebelumnya sudah dievaluasi, hari ini atau lusa kemungkinan sudah tayang. Nanti tergantung proses lelangnya, kalau pengerjaan bisa selesai 2-3 bulanan,” terang Sigit.
Sigit menjelaskan, keberadaan RSJ Provinsi Banten nantinya tidak hanya melayani masyarakat dengan gangguan kejiwaan atau syaraf, namun juga menangani rehabilitasi ketergantungan obat-obatan. Sementara, selama ini penanganan yang dilakukan baru sebatas fisioterapi berbasis masyarakat dan belum berbasis rumah sakit.
“Untuk pembangunan fisik, DED (Detail Engineering Design-red) nya sudah ada. Dan itu nantinya ada dua sisi, yaitu RSJ dan rehabilitasi ketergantungan obat. InsyaAllah 2019 sudah tahap pembangunan,” ujarnya. (Bayu Mulyana/coffeandchococake@gmail.com)










