LEBAK – Semangat Multatuli menjadi inspirasi masyarakat dunia untuk melawan penjajahan dan penindasan. Semangat tersebut dinilai masih relevan di era modern saat ini karena penjajahan bertransformasi dalam wujud kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan yang harus diperangi masyarakat Lebak.
Untuk mengenang semangat itu, digelar Festival Seni Multatuli (FSM) di Lebak mulai 6-9 September. Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya berharap kegiatan ini dapat mengenalkan sejarah tentang Multatuli kepada kaum milenial. Untuk itu, berbagai kegiatan dikemas dengan baik sehingga dapat dinikmati kaum muda di Indonesia.
“Generasi milenial ini banyak maunya, karena itu kami rancang festival seni yang dapat diterima anak-anak muda, sehingga mereka dapat mengambil pelajaran dari sejarah di masa lalu,” kata Iti Octavia Jayabaya seusai pembukaan FSM 2018 di Perpustakaan Saidjah Adinda Lebak, Kamis (6/9).
Nilai-nilai kemanusiaan dalam novel yang ditulis Multatuli diharapkan ditularkan kepada masyarakat dan generasi muda di Indonesia. Terpenting dapat memotivasi masyarakat dan pemerintah daerah untuk dapat cepat keluar dari predikat sebagai daerah miskin dan tertinggal.
“Gagasan Multatuli tentang keberagaman dan kemanusiaan akan terus dikenang masyarakat dunia. Bahkan, tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan di Indonesia dan belahan dunia lainnya terinspirasi karya Multatuli yang merupakan sosok antikolonialisme,” tegasnya.
Untuk itu, Pemkab Lebak membangun Museum Multatuli sebagai museum antikolonialisme pertama di Indonesia. Museum yang bersebelahan dengan Perpustakaan Saidjah Adinda (sosok yang ditulis dalam novel Max Havelaar) diyakini akan menjadi pusat peradaban dunia. Bahkan, Iti ingin museum dan perpustakaan menjadi mercusuar ilmu pengetahuan. “Saya berharap, FSM 2018 dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia dan menjadi agenda tahunan di Lebak,” harapnya.
Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud RI Hilmar Farid yang hadir mengapresiasi FSM 2018 yang diselenggarakan di Lebak. Festival ini memiliki keunikan dibandingkan festival kebudayaan di kabupaten kota lain di Indonesia. Gagasan besar Multatuli tentang kemerdekaan, keberagaman, kesederajatan, dan kemanusiaan mampu membuka mata dunia tentang praktik penjajahan dan penindasan di Lebak. Walaupun, Multatuli merupakan asisten residen di Lebak dia memilih berhenti menjadi asisten residen dan menulis novel yang terkenal dan telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa di dunia.
“Festival Seni Multatuli esensinya menjaga semangat humanisme,” ungkapnya.
Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, lanjutnya, berkomitmen untuk memajukan kebudayaan di Indonesia. Dia ingin, FSM 2018 berjalan lancar dan sukses sehingga kegiatan tersebut dapat dijadikan event tahunan yang akan menarik wisatawan lokal dan mancanegara ke Lebak.
Usai pembukaan festival di aula Museum Multatuli, rombongan meninjau stan pameran di Jalan RM Nataatmaja. Setelah itu, Hilmar Farid didampingi Bupati Iti Octavia Jayabaya dan rombongan melihat rumah asisten residen Lebak Multatuli di belakang RSUD Adjidarmo Rangkasbitung.
FSM ini terselengara kerja sama Pemkab Lebak dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). FSM bertujuan menjaga semangat humanisme yang menjadi gagasan besar Multatuli yang dituangkan dalam novel ‘Max Havelaar’. Novel yang ditulis 150 tahun lalu tersebut merupakan bentuk kekecewaan Multatuli atau Edward Douwes Dekker terhadap kolonial dan penguasa di Lebak saat itu.
Pembukaan FSM kemarin dihadiri Direktur Kebudayaan Kemendikbud RI Hilmar Farid, Bupati Iti Octavia Jayabaya, Wakil Bupati Ade Sumardi, Wakil Direktur Erasmus Huis (Pusat Kebudayaan Belanda di Jakarta) Mrs Joyce Nijssen, Wakapolres Lebak Kompol Asep Saepudin Juhri, dan Dandim 0603 Lebak Letkol Arh Syafa Susanto. Selain itu, hadir pula anggota DPR RI Hasby Assyidiki Jayabaya, Vivi Sumantri Jayabaya, Anda, dan sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) di Lebak. (Mastur/RBG)










