Kenyataan hidup berumah tangga tak semudah dan seindah kisah sinetron di televisi yang sering kita tonton. Bukan hanya soal ekonomi, segala hal baik dari dalam maupun luar antara suami dan istri, kalau tidak kuat mental dan nurani, pasti bisa menjadi penyebab retaknya hubungan rumah tangga yang dibanggakan keluarga.
Merenungi kisah cinta Muin (41) dan Nani (38), keduanya nama samaran, kiranya bisa menjadi contoh nyata bagi para suami maupun istri. Katanya, peristiwa menegangkan di antara keduanya terjadi saat Muin berusia 29 tahun dan Nani 26 tahun.
Dikisahkan Muin yang terlahir di sebuah kampung di Kabupaten Tangerang. Ia adalah pemuda miskin yang sejak kecil ditinggal wafat sang ayah tercinta. Menekuni segala macam pekerjaan mulai dari kuli bangungan, pedagang kaki lima, sampai membantu mengurus kebun tetangga, Muin menjalani hari penuh kesederhanaan. Meski begitu, Muin termasuk pemuda yang aktif berkegiatan di masyarakat.
Sifatnya baik dan rajin beribadah, membuat Muin mudah diterima di berbagai kalangan. Menjadi lelaki yang banyak membantu orang, bukan hal sulit baginya untuk bertahan hidup. Hingga suatu hari, seorang warga yang baru merintis usaha berjualan peralatanmake-up dan beragam perlengkapan rumah tangga di pasar, mengajak Muin bekerja sebagai karyawan pertama.
Hari pertama kerja pun dilakoninya. Tampak bersemangat dan energik, itulah yang dilakukan Muin dalam bekerja. Motivasi tinggi demi meningkatkan kualitas hidup, membuat Muin memiliki kinerja bagus dalam melakukan tugasnya sebagai karyawan. Berjalan tiga tahun kemudian, berkat kehadirannyalah, para pelanggan merasa nyaman dan puas, usaha toko tersebut maju pesat.
Sebagai karyawan senior, Muin banyak memberi arahan pada karyawan lain. Dengan lembut dan murah senyum, ia membuat suasana kerja layaknya rumah. Hingga suatu hari, dengan uang tabungan yang ia miliki, Muin tak bisa menahan hasrat untuk segera mengakhiri masa lajang. Berkenalan dengan Nani yang tak lain merupakan pelanggan setia, mereka sepakat menuju jenjang pernikahan.
Mengikat janji sehidup semati, Muin dan Nani resmi menjadi sepasang suami istri. Dengan pesta pernikahan sederhana, tamu undangan tampak ikut berbahagia. Sosok Muin yang bersahaja, akhirnya menemukan wanita yang akan menemani hidupnya.
Di awal masa pernikahan, Muin bersikap penuh perhatian. Seraya menjaga kelakuan agar terlihat baik di depan keluarga sang istri, ia sering membelikan makanan sepulang bekerja. Widih, cari perhatian nih ye.
“Ya maklumlah, namanya juga numpang di rumah istri. Jadi, harus pandai-pandai mencuri hati mertua. Kalau enggak gitu, bisa-bisa susah beradaptasinya,” curhat Muin.
Seiring berjalannya waktu, sang istri tercinta pun melahirkan anak pertama. Membuat hubungan mereka semakin mesra. Berkat kehadiran sang buah hati, Muin pun menjadi lebih leluasa tinggal bersama keluarga istri. Ia tak canggung lagi. Meski begitu, nyatanya keadaan harus memaksa Muin berbesar hati.
Ketika adik sang istri menikah, sang adik bersama suami juga tinggal di rumah. Sebagai kakak tertua, Miun dan istri dipaksa mengalah oleh orangtua pindah kamar di bagian belakang dekat dapur. Jika dibandingkan, ukurannya jauh lebih kecil dan yang mengenaskan lagi, sebenarnya ruangan itu bekas gudang yang sudah lama tak terpakai. Astaga.
“Awalnya sih saya keberatan, tapi setelah dipikir lagi ya memang seharusnya saya sudah tidak tinggal di situ,” curhat Muin. Atuh kenapa enggakngontrak saja, Kang?
“Saya sih maunya begitu, tapi istri enggak mau,” ungkap Muin.
Sejak saat itu, keadaan rumah menjadi semakin ramai. Rumah tangga adik iparnya yang kerap memberi lebih kepada orangtua, membuat Muin sering dibanding-bandingkan. Maklumlah, sang adik ipar memang memiliki suami yang berasal dari keluarga kaya. Mereka tinggal di rumah lantaran hanya sebagai tempat berteduh menunggu rumah pribadi mereka selesai dibangun.
Hingga suatu hari, Muin yang biasanya diam dan sabar menerima keadaan, sore itu tak mampu menahan amarah. Bagaimana tidak, ia yang baru pulang bekerja, dihadapkan pada situasi rumit, antara memilih istri, atau mempertahankan harga diri. Aih, memang ada apa sih, Kang?
“Saya merasa dihina. Saya tahu dia kaya, punya mobil mewah, tapi enggak pantas dia bersikap kayak gitu ke saya,” ungkap Muin.
Katanya, saat Muin datang, sang adik ipar tak menjawab sapaannya dan malah sibuk mengobrol dengan mertua. Muin yang merasa terhina masih bisa menahan amarah, ia lekas menuju kamar dan menemui istrinya. Tak lama kemudian, dari luar rumah terdengar keributan. Yang membuat Muin penasaran, sang adik ipar memanggil-manggil namanya.
“Kalau enggak sanggup beli mobil, ya jangan iri dong. Mobil saya lecet sengaja kan disenggol motor situ,” kata Muin menirukan ucapan adik ipar.
Muin yang tak tahu duduk perkara tak bisa menerima saat dituduh dan dihina. Motor miliknya memang diparkir tak jauh dari mobil sang adik ipar, tetapi ia bersumpah tidak menyenggolnya sedikit pun. Parahnya, seakan sengaja dipojokkan, ayah mertua ikut memarahi Muin. Aih.
“Wah, waktu itu saya benar-benar enggak tahan. Malamnya saya langsung angkat kaki dari sana,” kata Muin.
Yang namanya wanita pasti panas ketika suaminya dihina. Nani yang tak terima, hanya bisa menangis di tengah merutuki kepedihan. Ia tak merasa sang ayah tak adil dalam memberi kasih sayang. Selama ini adiknya terus yang diberi perhatian lebih. Ujung-ujungnya, ia juga yang rebut mempertahankan sang suami. Kok ribut, Kang?
“Ya, dia waktu itu enggak mau saya ajak pergi. Ya sudah sayatinggalin,” terang Muin. Aih.
Tiga bulan lebih Muin dan Nani pisah rumah. Keduanya sama-sama saling tak mau mengalah. Hingga akhirnya, datang untuk ketiga kalinya, ia berhasil membawa Nani pergi. Sampai saat ini mereka hidup bahagia tinggal bersama keluarga suami.
Oalah, semoga diberi kesehatan dan langgeng selalu Kang Muin dan Teh Nani. Amin. (daru-zetizen/zee/dwi)








