Nasi sudah menjadi bubur, kayu sudah menjadi abu, begitulah peribahasa yang tepat mengawali kisah hidup Tejo (41) nama samaran. Banyak utang semasa muda membuat hidup serbasusah. Apalagi nasibnya mendapat istri, sebut saja Omas (40) yang tak mau mengerti keadaan suami, rumah tangga pun berakhir perpisahan.
Pertemuan Radar Banten dengan Tejo berlangsung di Kecamatan Cikande. Seusai salat Jumat, Tejo tampak lesu duduk di teras masjid sambil memandangi gerobak es dawet dagangannya. Ketika diajak ngobrol, Tejo ternyata punya masalah hidup yang rumit. Penasaran dengan kisahnya? Yuk simak cerita ini.
Semua bermula saat Tejo memutuskan berhenti bekerja di salah satu perusahaan swasta di Cilegon. Lelah setiap hari berangkat pagi pulang menjelang malam, ia tak bisa seperti kebanyakan pekerja pada umumnya. Katanya, sejak kecil, Tejo diajarkan orangtua berdagang atau berbisnis, bukan jadi karyawan.
Tapi bodohnya, Tejo malah menikmati uang tabungan untuk foya-foya. Saat itu Tejo yang merantau dari Jawa ke Cikande, belum memiliki banyak teman dekat. Tejo sengaja mengeluarkan banyak uang setiap kumpul-kumpul agar banyak yang mau berteman dengannya.
Apesnya Tejo malah kebablasan sampai ikut bermain judi dan mabuk-mabukkan. Tejo juga ketagihan berjudi sampai rela mengutang kepada teman, bandar judi, dan pengusaha tempat hiburan. “Saat itu saya khilaf. Enggak mikir jauh ke depan,” katanya.
Sampai akhirnya, Tejo bertemu dengan Omas di salah satu rumah makan di Cikande. Mereka dikenalkan oleh seorang teman. Setelah bertukar nomor telepon, ternyata mereka cepat akrab dan saling terbuka satu sama lain. “Dia orangnya asyik dan enggak jaim gitu,” kata Tejo.
Omas wanita cantik asli Cikande. Dengan berpenampilan modis dan pakaian ketat, membuat bentuk tubuhnya terlihat aduhai bak gitar Spanyol. Hal itu membuat Tejo jatuh cinta pada pandang pertama. Apalagi Omas juga memberi pandangan mata yang menggoda, membuat Tejo klepek-klepek.
Tejo sebenarnya lelaki baik. Terlahir dari keluarga sederhana, ia memiliki sikap lembut dan asyik saat diajak ngobrol. Kalau sudah begitu, pastilah Omas merasa nyaman. Setelah pendekatan sampai berani jalan berdua, tiga bulan setelahnya, Tejo menyatakan rasa. Mereka pun bersemi dalam ikatan cinta. Saling mengerti dan memahami sikap masing-masing, setahun kemudian, keduanya sepakat menuju pelaminan. Namun, di balik rasa bahagia menemukan calon pasangan hidup, Tejo dirundung gelisah karena orang-orang yang dulu memberinya pinjaman uang, mulai menagih pembayaran. “Saya janjiin bayar bulan depan, pokoknya waktu itu saya pusing,” keluhnya.
Untuk membiayai pernikahan, Tejo meminta uang pada keluarga di kampung dengan cara menjual sawah ayahnya. Itu pun masih kurang. Lagi-lagi Tejo meminjam uang pada temannya yang lain. Tejo merahasiakan hal itu kepada Omas. Mereka menikah dengan pesta meriah.
Mengawali rumah tangga, Tejo dan Omas terpaksa tinggal di rumah keluarga mempelai wanita. Mereka pasangan serasi yang selalu menunjukkan keharmonisan. Meski saat itu Tejo tak bekerja, Omas tampak tak terlalu memusingkan hal itu. Ia bersikap manja dan perhatian pada Tejo. “Biasalah, namanya juga pengantin baru,” kata Tejo.
Bahkan Tejo mengaku, teramat bahagia menjalani hidup baru bersama Omas. Mereka sering kecolongan melakukan perbuatan orang dewasa dan terlihat oleh salah satu anggota keluarga Omas. Astaga. “Ya, pas lagi pegang-pegangan ada yang lihat. Malu banget,” kata Tejo cengengesan.
Beruntung tak lama setelah menikah Tejo mendapat modal dari keluarga untuk membuka usaha konter pulsa. Sejak itu Tejo mulai berusaha membayar utang. Namun, karena tak mencukupi, Tejo sempat dipukuli orang tak dikenal yang menagih utang. “Untung ada yang nolong saya. Kalau enggak, mungkin sudah babak belur,” akunya.
Karena hal itu Tejo terpaksa menutup usaha konternya. Setahun kemudian lahirlah anak pertama. Sejak itu kebutuhan ekonomi semakin bertambah. Omas mulai banyak menuntut pada Tejo. Karena tak sanggup menahan beban utang sendiri, Tejo pun menceritakan masalahnya pada Omas.
Namun, bukannya saling menguatkan, Omas malah emosi dan melaporkan hal itu pada keluarganya. Tejo semakin tertekan karena para penagih utang mulai menyatroni rumah Omas. “Suka ada orang nyari saya, tahu-tahu dia nagih utang,” curhatnya.
Sampai suatu hari, ketika orang-orang penagih utang itu merangsek masuk ke dalam rumah, orangtua Omas mengelurkan lembaran uang sejumlah satu juta untuk membayar utang Tejo. Meski utang belum terlunasi, setidaknya orang-orang penagih utang itu pergi.
Sejak itu Tejo semakin merasa tak nyaman tinggal bersama keluarga Omas. Keributan sering terjadi. Akhirnya Omas meminta Tejo pergi, Tejo mengontrak rumah sendiri. Sebulan kemudian perceraian pun terjadi. Saat ini Tejo memilih berjualan es dawet untuk mencicil pembayaran utangnya.
Ya ampun, yang sabar dan tetap semangat ya Kang Tejo. Semoga mendapat istri baru lagi. Amin (mg06/zee/ags)











