Melihat Kreativitas Nelayan Desa Pegadanganilir
KRONJO – Kreativitas tak mesti datang dari kondisi atau fasilitas yang serba ada. Keterbatasan justru tak jarang memunculkan ide-ide kreatif. Kondisi seperti inilah yang tergambar di Desa Pagedanganilir, Kecamatan Kronjo.
Letak desa berada di pesisir utara Pulau Jawa. Otomatis, mayoritas warganya berprofesi sebagai nelayan tradisional. Dari jumlah penduduk laki-laki 3.192 orang, -termasuk anak-anak-, sekira 500 orang menjadi nelayan tradisonal. Jumlah penduduk perempuannya ada 3.011 orang, juga termasuk anak-anak. Dari jumlah ini, ada 150 perempuan yang menjadi karyawan swasta.
”Sisanya ibu rumah tangga. Total jumlah penduduk kami ada 6.203 orang dengan 2.033 KK (kepala keluarga-red). Desa kami bersebelahan dengan Desa Lautjawa, Kecamatan Kemiri, di sebelah utara. Lalu, Desa Pagedanganudik di sebelah selatan, Desa Lontar (Kecamatan Kemiri-red) di sebelah timur, dan Desa Kronjo di sebelah barat,” jelas Arwah Hikmayanti, Kepala Desa Pagedanganilir, kepada Radar Banten pada Kamis (24/10) lalu.
Keterbatasan sumber daya alam di desa ini, diakui Arwah, membuat warganya berinovasi. Ide-ide kreatif warga cuma satu tujuannya. Untuk meningkatkan taraf hidup mereka.
Hasil tangkapan laut yang sebelumnya mereka jual begitu saja, tentunya dengan harga lebih murah, kini diolah menjadi beragam penganan. ”Sudah ada tempat warga mengolah anak kepiting menjadi olahan yang bisa dijadikan cemilan. Kita juga ada pengolahan kerang hijau dan kerang bulu,” kata Arwah.
Olahan baby crab memang baru digeluti oleh Mutikah (38). Ketua RT 06, di RW 01, Kampuang Pagedanganilir, ini juga baru menjalankan usaha kecilnya selama satu bulan ini.
Mutikah mengawalinya dengan modal Rp500.000. Setiap hari, dia mengolah anak kepiting menjadi 20-25 kilogram keripik kepiting pedas. Dari modal awal itu, Mutikah mendapat keuntungan 15-20 persen.
”Rasa ada original pedas, balado pedas, jagung manis. Cara mengolahnya, (anak kepiting-red) dikupas terlebih dulu, lalu dicuci. Setelah itu direbus, kemudian digoreng sampai renyah. Baru setelahnya dikasih rempah-rempah pilihan,” terang Arwah.
Usaha kecil pengolahan kerang hijau dan kerang bulu di desa ini memang dilakukan secara sederhana. Ada tujuh istri nelayan yang mengolah kerang hijau dengan cara direbus sebelum dipasarkan. Kerang bulu pun demikian. Lima nelayan di desa ini merebusnya sebelum dijual.
Sederhana pengolahannya. Namun, tetap memiliki nilai ekonomis lebih jika dibandingkan dengan menjual kerang hijau dan kerang bulu secara langsung.
Warga Pagedangan lainnya, lanjut Arwah, ada juga yang memproduksi ikan asin dan dendeng ikan asin manis. Usaha kecil ini lebih lama digeluti beberapa warga Pagedanganilir. Ikan asin dan dendeng ikan asin dari desa ini menjadi langganan pengusaha dari luar Kabupaten Tangerang.
”Ikan asin kita cukup terkenal, banyak (pengusaha-red) dari Serang Kota dan kabupaten (menyebut Kabupaten Serang-red) datang ke kita untuk membeli langsung ikan asin di sini,” ucap Arwah.
Budidaya ikan dan udang air asin marak dilakukan warga. Di Pagedanganilir, ada tambak bandeng dan udang seluas 418 hektare.
Ketua BUMDes Pagedanganilir Daenuri berharap, kreativitas dan inovasi warga itu bisa memotivasi warga lain. Sehingga, usaha kecil pemanfaatan tangkapan laut atau tambak bertambah. ”Semoga, kami, masyarakat Pagedanganilir bisa lebih maju dalam upaya meningkatkan ekonomi masyarakat,” harap Daenuri.
Mutikah juga memiliki harapan agar bisnis keripik baby crab-nya berkembang. Dia berambisi, hasil olahannya itu bisa menjadi produk unggulan bagi desanya. ”Kita, kepitingnya langsung dari nelayan. Alhamdulillah, yang tadinya anak kepiting ini bisa dikatakan tidak ada harganya karena sangat murah, bisa menjadi produk yang lumayan bernilai,” pungkas Mutikah. (pem/rb/sub)








