SERANG – Titik genangan air wilayah Kota Serang bertambah seiring dengan tingginya curah hujan sejak akhir 2019. Penyebab utamanya terjadi penyempitan dan rusaknya drainase. Genangan air terjadi hingga ketinggian 50 sentimeter.
Pantauan Radar Banten, Senin (2/3) pagi, hujan yang mengguyur pada Minggu (1/3) malam, genangan air terjadi di wilayah Kota Serang. Di antaranya di jalan KH Sokhari, Sumur Pecung, Kecamatan Serang. Saat hujan genangan air berkisar 30 sampai 50 sentimeter. Hingga siang hari, sisa genangan masih terlihat.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, genangan air terjadi di Jalan Raya Banten, Kelurahan Unyur. Lokasi ini kerap kali jadi langganan. Warga yang melintas di jalan provinsi ini harus hati-hati, menghindari percikan air. Begitu pun genangan air terjadi di ruas Jalan Serang-Petir, Kelurahan Cipocokjaya dan Jalan Trip Jamaksari, Cinanggung, Kelurahan Kaligandu.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Serang, M Ridwan mengatakan secara umum terjadi pengurangan pada genangan air di wilayah kota. Namun, di awal 2020 ada titik baru genangan. Seperti halnya di Pamupukan, Kelurahan Cilaku dan Perumahan Persada Banten, Kalodran. “Secara umum berkurang, tapi ada titik baru, seperti di Pamupukan, Cilaku,” katanya.
Tahun ini, kata Ridwan, pihaknya merencanakan pembangunan drainase di Jalan Sokhari. Dampaknya, drainase akan memperlancar aliran air di perempatan Warungpojok. Termasuk, pembangunan Jembatan Teritih yang berada di samping kantor kelurahan. “Karena genangan yang di Warungpojok disebabkan yang Sokhari macet,” terangnya.
Sedangkan, titik genangan berlokasi di Jalan Serang-Petir Cipocokjaya, PUPR telah berkoordinasi dengan PUPR Provinsi Banten untuk memperlancar drainase. “Kita minta agar aliran air diperlancar. Agar tak terjadi genangan,” katanya.
Kata Ridwan, pihaknya berencana melakukan normalisasi di sejumlah aliran air seperti aliran air melintas di Perumahan Persada yang berasal dari Situ Ciwaka, Walantaka. Kemudian, langkah koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian (BBWSC3) untuk normalisasi Cibanten. “Aliran air anak Sungai Ciwaka menuju Persada juga akan dinormalisasi tahun ini,” terangnya. “Normalisasi Sungai Cibanten, kami harus koordinasi BBWSC3 agar ada langkah-langkah menyeluruh. Sudah saatnya kita membersihkan kali Cibanten,” sambung Ridwan.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Serang, Diat Hermawan mengatakan, kondisi meluapnya air di wilayah Kota Serang sifatnya genangan, karena dua sampai tiga jam air kembali surut. “Pada umumnya bersifat genangan. Kalau definisi banjir itu air selama 12 jam kondisi tetap,” katanya.
Pria yang akrab disapa Diat itu mengklaim jumlah genangan air di wilayah Kota Serang cenderung mengalami penurunan. Namun, ia tak menampik ada titik genangan baru. Seperti kejadian kemarin malam di kampung Pamupukan, Kelurahan Cilaku. Genangan sampai 50 sentimeter, setelah dua jam surut kembali. “Memang cenderung berkurang. Tapi ada juga yang baru,” terangnya.
“Kalau secara umum, paling banyak titik genangan air di wilayah Kasemen, Walantaka dan kecamatan Serang,” sambung Diat.
Penyebabnya, kata Diat, intensitas hujan sejak akhir 2019 tinggi, ditambah kondisi saluran air sungai, irigasi, dan drainase mengalami penyempitan disertai adanya tumpukan sampah. “Kami juga telah susur kali Cibanten. Banyak pohon tumbang, sampah dan pendangkalan, ke depan ini harus dibersihkan,” katanya.
Kendati demikian, selama ini pihaknya berupaya memberikan pelayanan maksimal di berbagai genangan air. Penanganan seperti, menyiapkan mesin pompa, karet pelampung dan peralatan lainnya. “Kami standby dan juga melakukan menyisir wilayah rawan. Tentu, penanganan bencana segera dilakukan,” terangnya.
Walikota Serang Syafrudin mengatakan, antisipasi banjir dilakukan sebelum musim penghujan dengan melakukan normalisasi beberapa kali. Kemudian, pihaknya mengimbau masyarakat bersama-sama melakukan antisipasi. Terutama, perilaku membuang sampah, memperbaiki saluran air. “Alhamdulillah 2020 titik banjir berkurang, hanya memang perlu dimaksimalkan di daerah Kasemen dan Pakupatan. Pemkot pasti ada upaya. Mudah-mudahan teratasi,” katanya. (fdr/air/ags)










