Singkat cerita, mereka menikah dan hidup bahagia. Tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk mendapat momongan, tak lebih dari setahun berumah tangga, mereka sudah dianugrahi buah hati. ”Waktu itu Kang Udin masih kerja jadi karyawan pabrik di Kragilan, kalau saya mah ngurus rumah,” terang Siti.
Di tahun keempat pernikahan, Udin habis kontrak kerja. Badai mulai menerjang mahligai rumah tangga, saat itulah mereka tak bisa mempertahankan rumah tangga. ”Yaudah kita cerai gitu aja,” ujarnya.
Hari demi hari berlalu, lantaran jarak rumah mereka yang hanya berbeda satu kampung, membuat keduanya sering ketemu. Awalnya mereka tak saling menyapa saat bertemu, namun lama-kelamaan mereka saling menyapa. ”Jadi kayak enggak enak hati gitu kalau enggak nyapa,“ ungkapnya.
Hingga suatu hari, Siti pun meminta tolong kepada Udin untuk diantar ke rumah temannya, Udin bersedia. Begitupun sebaliknya, jika Udin butuh bantuan, maka ia tak sungkan meminta tolong kepada Siti. ”Jadi kita kemana-mana berdua aja, tapi pulangnya mah misah,” ungkapnya.
Banyak orang yang menyarankan mereka untuk rujuk kembali, namun Siti mengaku belum mau berumah tangga lagi. ”Kalau pun harus nikah lagi, enggak mau sama Kang Udin, cari yang lain lagilah,” kata Siti. Widih, ya sudah deh terserah Teh Siti aja. (drp/alt)

