“Karena kultur sosial dan pembentukan karakter anak itu berawal dari rumah. Sehingga jika pola asuhnya benar dan tepat, maka akan terbentuk generasi berkualitas dan ini perlu dipelajari perempuan Tangsel,” ujarnya.
Khairati melanjutkan, program kedua adalah perlindungan dan pencegahan kekerasan terhadap anak. Menurutnya, pihaknya bekerja sama dengan seluruh pihak melakukan edukasi peran keluarga memproteksi anak-anak supaya tidak menjadi pelaku kekerasan seksual dan korban konten pornografi.
Menurut Khairati, di era digitalisasi seperti sekarang ini, mengakses konten pornografi sangatlah mudah. Dan hal ini berbahaya bagi anak-anak.
“Ini menjadi perhatian kami. Bahwa orangtua harus diedukasi agar mengawasi anak-anak terhindar dari bahaya konten pornografi, karena sangat mempengaruhi tumbuh kembang jiwa mereka,” ujarnya.
Menurut Khairati, program lainnya yakni penguatan terhadap calon pengantin. “Jadi kita harus menguatkan mereka yang akan membina keluarga, bagaimana nanti perannya sebagai ayah dan ibu, bagaimana memberi pola asuh pada anak dan menghindari stunting pada anak mereka,” ujarnya.(adv).
Reporter: Syaiful Adha

