TANGSEL, RADARBANTEN.CO.ID-Semua orang di Indonesia percaya bahwa 13 merupakan angka sial.
Namun, siapa sangka, angka 13 justru memberi kesuksesan besar bagi bisnis Tjio Wie Tay, atau juga dikenal sebagai Haji Masagung. Dia merupakan pemilik toko buku Gunung Agung yang legendaris dan terbesar di Indonesia.
Dilansir dari historia.id, Toko Gunung Agung didirikan Tjio Wie Tay di sebuah rumah di Jalan Kwitang Nomor 13, Senen, Jakarta Pusat, pada tahun 1953.
Toko buku ini pada masa depan menjelma menjadi toko buku yang hampir menguasai pasar buku di Indonesia.
Tjio Wie Tay sudah memulai bisnis dengan menjual rokok, buku, dan majalah sejak tahun 1945 dengan melakukan kongsi dagang bersama Lie Thay San dan The Kie Hoat.
Mereka mendirikan toko bernama Thay San Kongsie di Kramat Bunder, Jakarta Pusat, yang selanjutnya menjadi toko buku bernama Kramat Bunder.
Kongsi dagang ini kemudian pecah pada tahun 1953. Pemicunya ketika Tjio Wie Tay mengusulkan untuk memperbesar bisnis mereka dan mendapat pertentangan dari Lie Thay San.
Setelah kongsi dagang ini bubar, pada tahun yang sama Tjio Wie Tay kemudian memulai bisnis bukunya seorang diri. Ia kemudian mendirikan toko buku di sebuah rumah di Jalan Kwitang, Nomor 13, Senen, Jakarta Pusat.
Menurut Ketut Masagung, putra pendiri Toko Gunung Agung, dalam “Bapak Saya Pejuang Buku” yang disusun ulang Rita Sri Hastuti, ayahnya tidak peduli tokonya berada di deratan angka 13, yang sebagian orang menganggap sebagai angka kesialan.











