PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang mencatat kasus DBD (demam berdarah dengue) yang disebabkan nyamuk aedes aegypti di Kabupaten Pandeglang mengalami peningkatan sebesar 20 persen di tahun 2023.
Pernyataan soal kasus DBD disampaikan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang Samsudin.
Menurut Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang Samsudin, meningkatnya kasus DBD di Kabupaten Pandeglang diakibatkan karena masyarakat belum menyadari sepenuhnya pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekitarnya.
“Termasuk menjaga kebersihan kamar mandi dan penampungan air bersih yang kurang diperhatikan kondisi airnya. Bening dianggap bersih tanpa terlihat adanya jentik nyamuk DBD yang membahayakan, jika sudah menjadi nyamuk dewasa,” katanya.
Oleh karena itu, Dinas Kesehatan bersama puskesmas dan lintas Sektor tidak bosan selalu memberikan edukasi dan sosialisasi pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekitar rumah. Terutama di musim penghujan seperti sekarang ini.
“Kepada masyarakat untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan sekitar tidak membiarkan adanya genangan air atau membuang sampah sembarangan agar kesehatan lingkungan tetap terjaga dengan baik. Karena terkonfirmasi sampai dengan bulan Juni sebanyak 155 kasus DBD, ada peningkatan kasus DBD di tahun 2023 sebanyak 20 persen dibandingkan tahun 2022 untuk periode di bulan Januari – Juni,” katanya.
Kasus DBD tahun 2023 di Kabupaten Pandeglang, tercatat 155 DBD yang tersebar dibeberapa kecamatan. Diantaranya Kecamatan Majasari, Karang Tanjung, Pandeglang, Kaduhejo, Saketi , Labuan dan beberapa kecamatan lainnya.
“Perlu kami sampaikan tidak ada kasus kematian akibat DBD, dari tahun 2021 sampai dengan tahun 2023. Semua dinyatakan sembuh, Alhamdulillah sejak dibentuk kader JUMANTIK disetiap kecamatan masyarakat di Pandeglang,” katanya.
Kader selalu melakukan gerakan satu rumah satu JUMANTIK (Juru pemantauan Jentik) disetiap masing-masing rumah. Serta selalu melakukan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) dimasyarakat.
“Karena lebih efektif dan tidak memerlukan biaya di bandingkan harus fogging karena fogging bukan proses pencegahan yang efektif. Mudah – mudahan kedepannya masyarakat semakin paham dengan edukasi dan sosialisasi secara masif oleh petugas kesehatan dan Linsek (lintas sektor) terkait untuk menggencarkan kegiatan PSN dimasyarakat dengan harapan kasus DBD di Kabupaten bisa di minimalisir,” katanya.
Reporter : Purnama Irawan
Editor: Aas Arbi

