CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Cilegon terus berusaha mempromosikan lagu daerah ke masyarakat.
Salah satu upaya yang akan dilakukan Dindikbud untuk menyebarluaskan lagu daerah adalah melalui sekolah.
Hal itu disampaikan Kepala Dindikbud Kota Cilegon Heny Anita Susila di sela-sela acara Semiloka Promosi dan Penguatan Lagu Daerah di halaman rumah dinas Walikota Cilegon, Jum’at 3 November 2023.
Dindikbud mengakui saat ini lagu daerah belum terpromosi dengan baik. “Jadi sekarang ini kita mencoba untuk mempromosikan dan menguatkan lagu daerah kepada para tenaga pendidik untuk ditransfer kepada anak-anaknya,” ujar Heny.
Sebelum diajarkan ke siswa-siwa di sekolah, lagu-lagu daerah tersebut akan dikemas terlebih dahulu dengan cara direkam dan dibuatkan video musiknya. Hal itu dilakukan demi menjaga dan melestasrikan budaya Kota Cilegon.
Sejumlah lagu daerah Cilegon di antaranya Bendrong Lesung, Batu Lawang, Otot Jombang Wetan, Puk Upuk, Panjang Mulud, dan sebagainya.
“Itu kita harus sosialisasikan ke anak-anak sekolah. Identitas budaya bukan hanya sekadar tarian atau mungkin musik kontemporer, tapi musik daerah juga termasuk lagu daerah yang menggunakan bahasa daerah. Nah, bahasa ini yang justru kadang-kadang anak-anak sudah mulai tidak menggunakan bahasa daerah dalam kesehariannya,” tutur Heny.
Sementara itu, Plt Kepala Bidang Industri Kreatif Dinas Pariwisata Provinsi Banten Rohaendi menjelaskan, baru satu lagu daerah Cilegon yang paling dikenal yaitu Bendrong Lesung.
Menurutnya agar lagu daerah lainnya bisa terpromosi dan tersebar luas dengan baik perlu didokumentasi, direkam, dan disebar luaskan dengan baik.
Menurutnya hal itu bisa jadi bahan ajar di sekolah-sekolah. Lagu daerah tidak harus kolot dan tidak harus diiringi oleh alat musik tradisional.
Agar disukai masyarakat khususnya generasi muda, lagu daerah bisa diaransemen dengan musik-musik modern.
“Lagu daerah tidak harus pakai alat tradisional. Sebab, yang mencirikan lagu daerah itu bukan hanya iringannya tetapi juga kekhasan nadanya juga, terus bahasa. Aransemen itu aksesoris, syairnya tetap mencirikan budaya kita,” ujarnya. (*)
Reporter: Bayu Mulyana
Editor: Abdul Rozak











