PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Pelaksanaan pengerjaan proyek jalan Tol Serang-Panimbang seksi 3 ruas Cileles-Panimbang dinilai sangat mengganggu Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) siswa SD Negeri Pasirkadu 1, di Kampung Pasirhuni, Desa Pasirkadu, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Pandeglang.
Pernyataan itu disampaikan oleh Kepala SDN Pasirkadu 1, Junaedi di sekolahnya yang berada di tengah-tengah lokasi proyek jalan tol Serang-Panimbang di Desa Pasirkadu, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Pandeglang.
SDN Pasirkadu 1 masuk dalam salah satu dari empat sekolah terkena gusur proyek jalan Tol Serang-Panimbang seksi 3 ruas Cileles-Panimbang.
Berdasarkan pantauan RADARBANTEN.CO.ID, pada saat ini di belakang dan samping dan depan SDN Pasirkadu 1 tengah berlangsung pengerjaan pemasangan tiang pancang untuk pembangunan jembatan Jalan Tol Serang-Panimang. Pemasangan tiang pancang tentunya menimbulkan suara bising dan getaran.
Selain tiang pancang di lokasi juga tempat bongkar muat material batu yang tentu saja hal itu juga menimbulkan suara bising. Sehingga membuat KBM terganggu.
Terlebih kondisi bangunan sekolah juga sudah tidak layak dan temboknya sudah banyak yang retak. Sehingga perlu segera direlokasi untuk mencegah terjadinya hal tidak diinginkan.
Namun sampai saat ini, pemerintah belum merelokasi sekolah yang berada di tengah-tengah proyek jalan tol. Selain SDN Pasirkadu 1 hal sama terjadi pada SDN Pasirsedang 2 di Kecamatan Picung, Kabupaten Pandeglang.
Kepala SDN Pasirkadu 1 Junaedi mengatakan, dengan adanya pengerjaan proyek jalan Tol Serang-Panimbang ini sudah mengganggu KBM.
“Dengan adanya proyek jalan Tol ini kami sebenarnya sudah banyak terganggu sekali,” katanya kepada RADARBANTEN.CO.ID, Kamis, 18 Juli 2024.
Junaedi mengaku, kalau ia sudah lama sekali juga menyampaikan kepada pihak tol ataupun pemerintah untuk secepatnya merelokasi.
“Karena yang kita takutkan ini anak. Anak itu secara psikologis merasakan trauma dengan adanya kejadian ini,” katanya.
Lalu apa yang menjadi masalahnya, Junaedi mengatakan, getaran-getaran dari alat berat itu selalu ada. Jadi kegiatannya banyak menimbulkan getaran.
“Dimulai dari pematangan lahan, pemasangan tiang pancang, menurunkan bongkar muat beton dan batu,” katanya.
Jadi, setiap ada kegiatan maka akan banyak merasakan getaran sepanjang waktu. “Rasa trauma itu pasti ada. Jadinya belajar tidak efektif,” katanya.
Untuk itu, Juanedi meminta, kepada pihak-pihak punya kewenangan agar secepatnya membangun gedung sekolah baru untuk relokasi.
“Karena untuk tanah pengganti sebenarnya sudah ada. Hanya tinggal memulai membangun fisiknya saja, jadi mohon secepatnya di relokasi karena kami sangat menderita dalam KBM,” katanya.
Informasi diterima, katanya akan mulai dilaksanakan pembangunan di bulan Agustus 2024. Tapi sampai saat ini belum melihat tanda-tanda akan mulai dibangun.
“Kondisi lahan masih berupa kebun. Pengembangan pohon juga belum ada dan belum ada tindak lanjutnya sampai sekarang ini,” katanya.
Dari pihak terkait, diungkapkan Junaedi, ada yang mengusulkan pembangunan tenda darurat.
“Namun kami menolak, karena lokasinya juga tidak ada. Dan sampai kapan kalau menggunakan tenda darurat karena ini waktunya tidak sebentar,” katanya.
Junaedi mengungkapkan, KBM siswa terganggu karena adanya mobilisasi alat berat. “Gangguan bising, getaran, kemudian punya rasa khawatir sekolah ini ambruk. Akan mencelakakan anak,
Kondisi bangunan juga retak, kemudian sudah tidak layak sebenarnya. “Jadi kami berserta dewan guru dan anak murid juga belajar menjadi kurang efektif. Karena ada rasa khawatir,” katanya.
Siswa kelas VI SDN Pasirkadu 1 Muhammad Riani mengatakan, adanya pengerjaan proyek menggangu KBM. “Lagi belajar ruang kelas teras getar-getar. Dan takut roboh,” katanya.
Guru kelas VI SDN Pasirkadun1, Sakim mengungkapkan, adanya proyek jalan Tol membuat KBM sangat terganggu. “Setiap belajar, anak-anak itu merasa cemas. Takut roboh bangunannya jadi sering belajar di luar,” katanya.
Rasa khawatir karena kondisi bangunan sekolah juga keadaannya seperti ini. Kondisi bangunan sudah retak-retak. “Jadi secepatnnya pengen pindah. Direlokasi ketempat yang baru, kalau seperti ini, sudah berapa tahun enggak nyaman belajar juga,” katanya.
Editor: Abdul Rozak











