SERANG,RADARBANTEN.CO.ID-Dampak kebijakan buka tutup pintu air intake irigasi Pamarayan Barat dan Pamarayan Timur yang dilakukan oleh Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau, Ciujung, Cidurian (BBWSC3) mulai dirasakan para petani di Kabupaten Serang.
Salah satunya mereka yang berada di wilayah Kecamatan Ciruas dan Kecamatan Pontang lantara air irigasi berkurang drastis.
Seperti halnya yang terjadi di saluran irigasi yang melintasi Kecamatan Ciruas hingga Kecamatan Pontang yang biasanya penuh, saat ini debit airnya menyusut.
Pantauan di Desa Singamerta, Kecamatan Ciruas pada Senin 26 Agustus 2024, terlihat seorang petani bernama Munaceh sedang menyedot air irigasi agar dapat mengalir ke sawahnya. Hal itu dilakukan agar tanaman padinya dapat berkembang dengan baik dan tidak mengalami puso.
Berbekal mesin pompa miliki saudaranya, ia menyedot air irigasi yang mulai menyusut. Perlahan, tanah yang sebelumnya kering mulai basah teraliri air.
Sesekali ia pun terlihat membersihkan rumput-rumput yang mulai tumbuh di area sawahnya. Hal itu harus dilakukan lantaran usia padinya yang baru berusia 1 bulan yang rentan mati apabila tidak mendapatkan pasokan air yang cukup.
“Airnya lagi kosong sekarang, makanya pake mesin untuk nyedot airnya. Ini kesulitan air sudah seminggu,” kata Munaceh.
Ia mengatakan, dalam satu minggu, dirinya harus menyedot air irigasi tiga kali agar padinya dapat tumbuh dengan baik.
Ia mengaku, belum mengetahui mengenai informasi adanya buka tutup Bendungan Pamarayan. Ia pun berharap agar ketersediaan air di irigasi bisa tetap terjaga sehingga nantinya bisa tetap mengaliri sawahnya meskipun dengan menggunakan mesin.
“Semoga saja tidak sampai kering. Tapi dari tahun ke tahun kalau di sini ketersediaan airnya selalu ada,” pungkasnya.
Sementara itu salah seorang petani asal Desa Wanayasa, Kecamatan Pontang Syahrudin mengaku kondisi air irigasi tidak mengalir sudah sejak 15 hari terakhir. “Kurang lebih 15 hari ini air tidak jalan. Bahkan sudah tidak bisa mengalir melalui irigasi,” terangnya.
Ia mengatakan, untuk kondisi tanaman padinya saat ini berusia kurang lebih tiga bulan dan akan segera panen. Menurutnya pada usia seperti itu, kebutuhan terhadap air tidak terlalu besar. “Usia segitu ya butuh ga butuh untuk air, kalau ada air masuk ya lebih bagus. Perkiraan 15 hari lagi bisa panen, semoga hasilnya maksimal,” ungkapnya.
Diketahui, Kebijakan buka tutup diambil berdasarkan surat pemberitahuan yang dikeluarkan oleh Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau, Ciujung, Cidurian (BBWSC3) pada tanggal 19 Agustus 2024 mengenai penurunan elevasi muka air Sungai Ciujung.
Bahkan disebutkan dalam surat tersebut, adanya penurunan elevasi muka air Bendungan Pamarayan dengan rata-rata 0,03 Meter Diatas Permukaan Laut (MDPL) per hari.
Di dalam surat juga dijelaskan kondisi debit air Bendungan Pamarayan mengalami penurunan. Biasanya elevasi normal muka air yaitu di 13.00 MDPL, menjadi 12,25 MDPL. Atau mengalami penurunan hingga 0,75 MDPL pada saat surat tersebut diterbitkan.
Reporter: Ahmad Rizal Ramdhani
Editor: Agung S Pambudi












