PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Pandeglang membeberkan sederet faktor yang menghambat terwujudnya swasembada pangan di Pandeglang.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura pada DPKP Pandeglang, Nuridawati, menyebut, setidaknya ada tiga ancaman besar, termasuk faktor alam dan permodalan.
“Faktor utama adalah alam seperti bencana banjir dan kekeringan yang terjadi tahun lalu. Selain itu, permodalan juga jadi kendala karena banyak petani kesulitan mengembangkan lahan tanam akibat keterbatasan dana. Belum lagi saluran irigasi yang rusak di beberapa lokasi,” ungkap Nuridawati, Kamis, 19 Desember 2024.
Ironisnya, pada tahun 2024 petani di Pandeglang juga tidak mendapatkan asuransi untuk melindungi diri dari kerugian akibat gagal panen atau gagal tanam.
“Asuransi tahun ini enggak ada kuota dari Pemerintah Pusat. Jadi, petani yang ingin diasuransikan enggak bisa, kasihan sekali mereka,” imbuhnya.
Faktor-faktor tersebut menjadi ancaman serius bagi program swasembada pangan di Kabupaten Pandeglang.
Pandeglang punya misi besar untuk swasembada pangan dengan mengandalkan 52.640 hektare sawah yang tersebar di 35 kecamatan.
Meski begitu, DPKP terus memutar berusaha meningkatkan produktivitas pertanian.
Nuridawati menegaskan, langkah utama adalah memastikan petani menggunakan benih padi berkualitas.
“Petani harus pakai benih unggulan seperti Inpari 32 Mekongga, Ciherang, M70D, Nutri Zinc, atau Biofortifikasi. Varietas ini memang dirancang untuk hasil maksimal,” katanya.
DPKP juga telah menggelontorkan bantuan, dari benih padi hingga alat dan mesin pertanian (Alsintan) melalui anggaran Pemerintah Pusat.
“Kabupaten Pandeglang juga mendapat 300 unit pompa air dan 85 unit irigasi perpompaan (Irpom) untuk mendukung sektor pertanian,” tuturnya.
Editor: Agus Priwandono











